Gen Z, Bahasa Gaul, dan Jebakan Stereotip Gender di Media Sosial
Pendidikan | 2025-12-17 18:08:29Di era digital saat ini, media sosial telah bertransformasi menjadi panggung utama bagi Generasi Z. Bukan sekadar tempat berbagi foto atau video, platform seperti TikTok, Instagram, dan X (sebelumnya Twitter) telah menjadi ruang krusial dalam membangun dan menegosiasikan identitas diri. Di tengah riuhnya lalu lintas informasi digital ini, bahasa gaul muncul sebagai fenomena yang paling mencolok. Ia hadir bukan sekadar sebagai alat komunikasi praktis, melainkan menjelma menjadi simbol kedekatan, kreativitas, dan penanda identitas kelompok sosial tertentu.
Penggunaan bahasa gaul yang masif—mulai dari singkatan, plesetan, hingga campur kode (code-mixing) bahasa Indonesia dan Inggris—memang menawarkan kemudahan. Ia membuat komunikasi terasa lebih cair, cepat, dan emosional. Namun, di balik kenyamanan tersebut, tersimpan persoalan serius yang patut kita kritisi bersama. Persoalan ini tidak hanya menyangkut tata bahasa, tetapi juga merambat pada isu yang lebih sensitif: pergeseran relasi gender dan potensi krisis kemampuan berbahasa formal di kalangan anak muda.
Jebakan Stereotip Gender
Salah satu aspek yang paling menarik sekaligus mengkhawatirkan adalah bagaimana bahasa gaul di media sosial turut melanggengkan stereotip gender. Tanpa kita sadari, interaksi digital sering kali mereproduksi konstruksi sosial lama tentang bagaimana laki-laki dan perempuan "seharusnya" berbicara.
Berbagai kajian sosiolinguistik menyoroti pola yang kontras. Perempuan di media sosial cenderung menggunakan gaya bahasa yang lebih ekspresif, empatik, dan kaya akan penanda emosi, seperti penggunaan emoji yang berlimpah atau ungkapan-ungkapan afektif. Sebaliknya, laki-laki lebih sering menampilkan gaya bahasa yang ringkas, langsung (to the point), dan tak jarang dibalut humor kasar atau sarkasme.
Eksklusi Sosial dan Kaburnya Batas Formalitas
Selain isu gender, dominasi bahasa gaul juga membawa dampak pada kesenjangan sosial. Bahasa gaul yang berubah sangat cepat berpotensi menjadi alat eksklusi. Mereka yang tidak paham istilah viral atau slang terbaru akan tersisih dari pergaulan digital, menciptakan jarak tidak hanya antar-generasi, tetapi juga antar-kelompok dalam satu generasi.
Masalah timbul ketika pola ini dianggap sebagai standar mutlak. Media sosial, dengan algoritma dan budaya viralnya, memperkuat anggapan bahwa bahasa perempuan identik dengan kelembutan, sementara bahasa laki-laki identik dengan dominasi. Akibatnya, muncul stigma sosial. Perempuan yang berbahasa lugas dan tegas sering kali dicap agresif atau tidak santun. Di sisi lain, laki-laki yang berani mengekspresikan emosinya lewat kata-kata puitis justru kerap dipertanyakan maskulinitasnya. Dalam konteks ini, bahasa gaul yang kita anggap "bebas" ternyata masih terjebak dalam bias gender yang kaku.
Lebih jauh lagi, kebiasaan menggunakan bahasa santai secara berlebihan mulai mengaburkan batas antara ruang privat dan publik. Banyak generasi muda kini mengalami kesulitan menempatkan diri saat harus menggunakan ragam bahasa formal, baik di lingkungan pendidikan maupun profesional. Ketiadaan literasi konteks ini adalah ancaman nyata bagi kompetensi komunikasi masa depan.
Ajakan dan Himbauan
Menyikapi fenomena ini, kita tidak bisa hanya berdiam diri atau sekadar menyalahkan perkembangan zaman. Bahasa gaul adalah bentuk kreativitas yang sah, namun penggunaannya harus dikelola dengan bijak. Oleh karena itu, tulisan ini menyampaikan beberapa ajakan dan himbauan serius kepada seluruh elemen masyarakat:
Pertama, himbauan kepada para pendidik dan institusi pendidikan. Pendidikan bahasa di sekolah tidak boleh lagi kaku dan hanya berfokus pada aturan normatif. Guru perlu mengajarkan "kesadaran konteks" atau register bahasa. Ajak siswa memahami bahwa bahasa gaul sah digunakan di tongkrongan, namun bahasa baku mutlak diperlukan di ruang formal. Gunakan media sosial sebagai bahan ajar untuk menganalisis perbedaan ini secara kritis.
Kedua, ajakan kepada Generasi Z sebagai pengguna aktif. Mari kita latih kemampuan code-switching atau alih kode. Kecerdasan berbahasa bukan diukur dari seberapa banyak istilah gaul yang kita hafal, melainkan seberapa pandai kita menempatkan bahasa sesuai situasi dan lawan bicara. Tunjukkan bahwa kita bisa menjadi generasi yang gaul, namun tetap santun dan intelek.
Ketiga, mari kita hentikan pelabelan gender lewat bahasa. Himbauan ini berlaku bagi seluruh warganet. Jangan lagi menghakimi perempuan yang berbahasa tegas atau laki-laki yang berbahasa lembut. Bahasa adalah milik manusia, bukan milik gender tertentu. Kita harus menciptakan ruang digital yang inklusif di mana setiap orang bebas berekspresi tanpa takut distigmatisasi.
Sebagai penutup, bahasa gaul adalah cermin zaman kita. Jika dikelola tanpa kesadaran kritis, ia bisa menjadi bumerang yang memperlebar bias sosial dan menggerus kesantunan. Namun, jika kita mampu memahaminya dengan bijak, kita bisa menjadikannya kekayaan budaya. Sudah saatnya kita tidak sekadar mengikuti arus, tetapi mengambil kendali untuk menciptakan masa depan komunikasi yang lebih adil, cerdas, dan beradab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
