Ketika Pendidikan Cuma Jadi Formalitas: Mahasiswa Dikejar Nilai, Bukan Makna
Eduaksi | 2026-01-14 18:44:52Di bangku kuliah, nilai sering kali dijadikan standar tunggal untuk mengukur kecerdasan dan keberhasilan seseorang. IPK tinggi dianggap sukses, sementara mereka yang nilainya biasa saja kerap dipandang kurang mampu. Padahal, angka-angka tersebut tidak selalu mencerminkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, atau kepekaan sosial mahasiswa. Akibatnya, banyak mahasiswa yang belajar bukan karena ingin tahu, tetapi karena takut tidak lulus.
Fenomena “yang penting kumpul” sudah jadi rahasia umum. Tugas dikerjakan mendekati tenggat waktu, bahkan tidak jarang hasil salin-tempel dari berbagai sumber tanpa benar-benar dipahami. Diskusi kelas berlangsung pasif karena mahasiswa lebih sibuk mencatat apa yang akan keluar di ujian daripada mempertanyakan konsep yang diajarkan. Pendidikan pun kehilangan rohnya sebagai proses pembelajaran yang hidup.
Tekanan akademik juga memperparah keadaan. Sistem pendidikan yang terlalu padat, ditambah tuntutan organisasi, kerja sampingan, dan ekspektasi sosial, membuat mahasiswa berada dalam kondisi lelah secara mental. Banyak dari mereka mengalami stres, burnout, bahkan kehilangan motivasi belajar. Ironisnya, semua itu sering dianggap “wajar” karena merupakan bagian dari perjuangan akademik.
Di sisi lain, dosen pun sering terjebak dalam sistem yang sama. Target kurikulum, administrasi, dan penilaian membuat proses belajar mengajar lebih fokus pada penyelesaian materi daripada pendalaman makna. Ruang dialog yang seharusnya menjadi inti pendidikan justru semakin sempit. Mahasiswa jarang diajak berpikir kritis atau mengaitkan ilmu dengan realitas sosial di sekitarnya.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, pendidikan hanya akan melahirkan lulusan yang pandai menghafal, tetapi gagap menghadapi dunia nyata. Dunia kerja dan kehidupan sosial membutuhkan individu yang adaptif, mampu berpikir mandiri, serta berani mengambil keputusan. Semua itu tidak bisa dibentuk hanya dengan mengejar nilai.
Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada esensinya. Nilai memang penting, tetapi tidak seharusnya menjadi tujuan utama. Proses belajar, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk bertanya justru jauh lebih berharga. Kampus perlu menciptakan iklim belajar yang manusiawi yang memberi ruang untuk gagal, bereksplorasi, dan bertumbuh.
Mahasiswa juga perlu merefleksikan kembali alasan mereka belajar. Bukan sekadar untuk lulus tepat waktu atau memenuhi ekspektasi orang lain, tetapi untuk membekali diri menghadapi kehidupan. Ketika makna kembali menjadi pusat pendidikan, barulah kampus benar-benar menjadi tempat lahirnya generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
