Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Naila Putri Santoso

Berjalan Kaki: Melangkah untuk Ketenangan dan Kemerdekaan

Olahraga | 2025-12-07 17:38:09

Selain makan, minum, tidur, dan bereproduksi, ada kegiatan lain yang menurut saya menjadi semacam starter kit manusia, dan itu adalah berjalan kaki. Namun, lucunya berjalan kaki belum pernah saya anggap se-anugerah ini sampai saya berstatus jadi mahasiswa rantau. Tepatnya mahasiswa rantau yang tidak dilengkapi kendaraan pribadi. Yang mana fungsi kaki jadi faktor krusial dalam mobilitas. Memang betul ada transportasi umum, tapi untuk mencapai halte atau stop sign tetap perlu ada kaki yang mengantar sampai sana, bukan?

Jalan kaki nyatanya bukan opsi ternyaman di mata banyak orang, sebagai mahasiswa baru pun awalnya begitu. Padahal semua orang tahu ini kegiatan sederhana–dan murah. Angkat satu kaki maju lalu menapak, kemudian kaki lainnya maju sedikit lebih jauh dan menapak lagi. Begitu terus berulang. Kegiatan alamiah, yang hampir sama otomatisnya seperti bernafas.

Ketidaksederhanaan kegiatan ini mulai menghantui ketika membayangkan cuaca di luar. Entah panas ataupun hujan, keduanya jelas akan kita anggap sebagai rintangan. Belum lagi soal fasilitas pejalan kaki yang sering didiskreditkan, seperti trotoar antara ada dan tiada. Wujud trotoarnya memang ada, tapi penuh kendaraan parkir atau orang berjualan. Di saat-saat seperti itulah terdengar pikiran mulai membisikan ide yang menggoda, “Pesan ojek online saja, pasti lebih cepat sampai!” Kemungkinan besar terlena tentu ada, kalau saja kondisi finansial juga turut mendukung.

Berangkat ke kampus panas terik maupun gerimis dan becek tetap harus dilakukan. Setiap jengkal tanah menuju kampus atau tempat tujuan manapun perlu diinjak dan dijalani. Pengondisian oleh realitas itu membuat saya pelan-pelan jadi meresapi dan menghargai kembali kegiatan yang sudah dilakukan nenek moyang sejak jaman purba ini. Saya mulai bisa melihat sisi menyenangkannya. Ternyata ada aspek ketenangan dan kemerdekaan saat menjalani langkah demi langkahnya.

Ketenangan, melihat saya melambat sementara semua orang di samping saya selalu berlalu begitu cepat. Mereka yang berkendara tidak bisa menemukan ada warung kecil dengan dagangan menarik. Mereka yang berkendara tidak sempat memperhatikan secantik apa daun dan bunga berjatuhan yang sesekali menghiasi aspal dan trotoar. Mereka yang berkendara tidak menyadari tenangnya pikiran mengamati sekitar tanpa terburu-buru oleh kecepatan dan deru mesin. Nyatanya menenangkan bisa melambat sejenak di tengah dunia yang menuntut segalanya untuk cepat dan instan.

Saya sadari aktivitas berjalan kaki juga mengandung yang namanya kemerdekaan. Kemerdekaan atas otoritas diri hendak menentukan melewati arah mana. Pejalan kaki tidak pernah terbatas pada jalan-jalan aspal, bahkan tidak dengan trotoar sekali pun–wong trotoarnya aja jarang-jarang. Terkadang yang bukan jalan pun bisa tetap dijadikan jalan oleh kaki kita. Limitasi fisiknya hanya jika ada sungai dan laut. Sisanya raga hendak memilih jalur manapun terserah.

Tidak ada kekuasaan lain yang dapat membatasi kegiatan berjalan kaki. Berjalan kaki tidak bergantung pada seberapa besar ukuran jalan ketika ingin putar balik. Berjalan kaki tidak pula bergantung pada bahan bakar yang dimonopoli Pertamina lalu merusak mesin. Hendak maju, melambat, mundur, mempercepat atau putar balik, semua keputusan terletak di sepasang kaki kita.

Eric Weiner dalam bukunya The Socrates Express (2020) berkata, “Seiring langkah, aku merasa bebanku kian berkurang, dan aku lebih ringan seolah-olah ada orang yang memompa sepatuku. Aku merasakan keseriusan bumi ini, dan keringanannya juga. Melangkah. Melangkah” (hlm. 104). Pada akhirnya, jalanan memang sering tidak berpihak dan ramah pada pejalan kaki. Namun berkenankah kita untuk terus mencobanya? Selangkah demi selangkah, setapak demi setapak, seperti manusia yang berproses menjalani hari-harinya menjadi lebih baik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image