Banjir Sumatera Mulai Mereda Namun Rumah Warga Masih Penuh Lumpur
Info Terkini | 2025-12-02 08:33:11
Banjir besar yang melanda beberapa wilayah di Sumatera sejak akhir November 2025 perlahan mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Air di sejumlah titik penting di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berangsur surut, memungkinkan akses jalan kembali dibuka dan aktivitas darurat dilakukan lebih intensif. Namun, surutnya air bukan berarti berakhirnya penderitaan warga. Di banyak lokasi, rumah-rumah kini dipenuhi lumpur tebal, tumpukan kayu, sampah, hingga material batu dan pasir yang terbawa arus banjir. Kondisi pascabanjir ini menunjukkan bahwa pekerjaan pemulihan masih panjang dan kompleks.
Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 1 Desember 2025 menunjukkan bahwa banjir dan longsor di seluruh Sumatera menyebabkan 604 orang meninggal dunia, lebih dari 570 ribu warga harus mengungsi, dan sedikitnya 1,5 juta orang terdampak langsung. Beberapa wilayah juga masih melaporkan puluhan warga hilang dan ribuan rumah rusak berat, sedang, ataupun ringan. Reuters melaporkan bahwa banjir kali ini merupakan salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir, diperparah oleh cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan di hulu sungai.
Di Sumatera Barat, kondisi pascabanjir terlihat jelas di Kabupaten Agam, di mana pemukiman warga berubah menjadi hamparan lumpur. Lumpur setebal 20 sampai 50 sentimeter masuk ke ruang tamu, kamar tidur, hingga dapur rumah warga. Banyak perabot yang tak lagi bisa dipakai, sementara dokumen penting seperti ijazah, sertifikat tanah, KTP, dan kartu keluarga rusak akibat terendam. Warga di daerah ini mengaku bahwa meskipun air telah surut, pembersihan rumah justru jauh lebih melelahkan. Lumpur bercampur batang kayu dan pasir membuat proses penanganan memerlukan alat berat. Beberapa rumah bahkan nyaris roboh akibat tergerus arus yang kuat.
Di Padang, banjir bandang yang melanda kawasan Lubuk Minturun hingga wilayah sekitar sungai menyebabkan puluhan rumah hanyut. Foto-foto yang beredar dari lapangan menunjukkan fondasi rumah warga lenyap, sementara sisa bangunan menempel pada bebatuan besar di pinggir sungai. Sejumlah kendaraan juga ditemukan dalam keadaan ringsek, terbawa arus deras hingga ratusan meter dari lokasi semula. Pemerintah daerah Sumatera Barat telah menetapkan status tanggap darurat hingga 8 Desember 2025 untuk mempercepat pemulihan.
Sementara itu, di Kota Solok, lebih dari tiga ribu warga terdampak secara langsung. Air yang merendam pemukiman ditambah lumpur yang tertinggal menyulitkan warga kembali ke rumah masing-masing. Banyak keluarga memilih tetap berada di posko pengungsian karena rumah belum layak huni atau khawatir banjir susulan. Jalan-jalan yang sebelumnya tenggelam kini berubah menjadi genangan lumpur pekat yang sulit dilalui kendaraan.
Di Aceh dan Sumatera Utara, wilayah pinggiran sungai menjadi daerah paling terdampak. Warga yang tinggal dekat aliran sungai mengaku bahwa banjir datang sangat cepat setelah hujan ekstrem berhari-hari. Menurut laporan AP News dan The Guardian melalui data internasional, lebih dari 800 orang di Asia Tenggara termasuk Indonesia sempat dilaporkan hilang pada masa awal banjir. Meski sebagian telah ditemukan, laporan lapangan menunjukkan bahwa kondisi geografis yang sulit dijangkau menghambat proses pencarian dan evakuasi.
Sejumlah wilayah di Sumatera juga mengalami longsor berskala besar. Di beberapa kecamatan, material longsoran menutup jalan dan menimpa rumah warga. Tim SAR masih terus bekerja membuka akses menggunakan alat berat. Namun, kondisi cuaca yang masih tidak stabil mempersulit proses evakuasi. Aparat setempat menyebut bahwa masih ada daerah yang belum bisa dijangkau karena jalan rusak parah atau tertutup lumpur lebih dari satu meter.
Seiring air mulai surut, tantangan baru muncul: penyakit pascabanjir. Minimnya air bersih, sanitasi buruk, dan tumpukan sampah menjadi ancaman bagi kesehatan warga, terutama anak-anak dan lansia. Relawan melaporkan meningkatnya keluhan penyakit kulit, diare, dan infeksi saluran pernapasan akibat kondisi pengungsian yang padat dan lembap. Tim medis dari berbagai organisasi, termasuk PMI, terus bergerak memberikan layanan kesehatan gratis dan mendistribusikan obat-obatan.
Kerusakan infrastruktur juga menjadi faktor yang memperlambat pemulihan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan bahwa ratusan jembatan, ruas jalan, jaringan air bersih, hingga fasilitas publik mengalami kerusakan. Di beberapa titik, jembatan kayu sederhana hanyut, menyulitkan pendistribusian bantuan. Pemerintah telah mengerahkan balai PUPR di Sumatera untuk memperbaiki akses darurat, namun pengerjaannya membutuhkan waktu karena skala kerusakan cukup masif.
Muncul pula perdebatan di masyarakat terkait penyebab meluasnya dampak banjir kali ini. Sejumlah anggota legislatif mempertanyakan keberadaan kayu gelondongan dalam jumlah besar yang terbawa arus banjir. Foto-foto yang beredar menunjukkan tumpukan kayu menutup jalan dan menimbun serta menghantam rumah warga. Hal ini memunculkan dugaan adanya aktivitas pembalakan liar di hulu sungai yang memperparah efek banjir. Sejumlah pihak telah mendesak pemerintah membentuk tim investigasi khusus untuk menelusuri kemungkinan adanya pelanggaran lingkungan yang memperburuk bencana.
Di sisi lain, para ahli cuaca menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem yang terjadi merupakan bagian dari anomali iklim yang telah diprediksi. Dalam beberapa tahun terakhir, intensitas hujan di wilayah Sumatera meningkat drastis akibat pengaruh pemanasan global dan perubahan pola atmosfer. Kombinasi antara kerusakan lingkungan dan cuaca ekstrem menciptakan kondisi yang ideal bagi banjir bandang dan longsor besar seperti yang terjadi saat ini.
Di tengah situasi sulit ini, semangat gotong royong masyarakat menjadi penggerak utama pemulihan. Warga saling membantu membersihkan rumah, mendistribusikan makanan, dan menjaga anak-anak agar tetap merasa aman. Relawan dari berbagai daerah datang membantu dengan membawa pompa air, sekop, mesin pembersih lumpur, serta pakaian layak pakai. Di beberapa lokasi, warga bergantian menjaga kampung pada malam hari untuk mencegah penjarahan barang berharga yang tersisa.
Meski jalan pemulihan masih panjang, masyarakat berharap bahwa bantuan yang mengalir terus dari pemerintah, relawan, dan lembaga kemanusiaan dapat mempercepat proses bangkitnya kehidupan. Tekanan publik juga semakin kuat agar ada evaluasi menyeluruh mengenai tata kelola lingkungan, alih fungsi lahan, dan sistem peringatan dini bencana di seluruh wilayah Sumatera.
Banjir memang mulai mereda, tetapi jejaknya masih lama hilang. Lumpur di rumah warga bukan sekadar kotoran yang harus dibersihkan, melainkan simbol bencana yang meninggalkan luka ekologis, sosial, dan psikologis yang mendalam. Sumatera kini bergerak perlahan menuju pemulihan, sementara harapan tumbuh bahwa tragedi semacam ini tidak lagi terulang di masa depan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
