Kebenaran yang Tersesat di Balik Potongan Video: Wabah Baru Penghakiman Publik
Info Terkini | 2025-11-27 22:39:45Di suatu sore yang tampak biasa, sebuah video berdurasi sepersekian detik muncul di beranda salah satu platform media sosial. Tidak ada konteks, tidak ada keterangan waktu, tidak ada informasi siapa pelaku perekam. Namun, dalam kurang dari satu jam, video itu telah dikomentari ribuan orang. Bahkan beberapa sudah menulis analisis panjang seolah-olah mereka hadir langsung di lokasi kejadian.
Fenomena ini terasa lucu sekaligus memprihatinkan. Kita hidup di zaman ketika video pendek tanpa sumber bisa mengalahkan laporan panjang wartawan. Di satu sisi, publik tampak haus informasi. Di sisi lain, publik juga tampak terlalu percaya diri menafsirkan informasi yang bahkan belum lengkap. Satu potongan video mendadak menjadi kitab suci baru: singkat, viral, dan dianggap sangat benar.
Jika ditelusuri lebih dalam, masalahnya bukan pada video itu saja, melainkan pada ekosistem digital yang mendukungnya. Algoritma media sosial bekerja layaknya pedagang yang lebih suka barang yang laris daripada barang yang benar. Konten yang memicu emosi marah, terkejut, atau geli selalu naik peringkat lebih cepat daripada klarifikasi yang memerlukan kesabaran membaca. Dalam logika algoritma, emosi adalah komoditas terbaik.
Pada titik ini, humor kecil sulit dihindari. Lihatlah betapa mudahnya publik berubah menjadi “pakar analisis forensik” yang hanya bermodalkan resolusi video yang bahkan kalah dengan kualitas CCTV parkiran. Komentarnya sering terdengar yakin, padahal informasi yang tersedia lebih sedikit daripada catatan belanja mingguan.
Namun di balik humor itu, terdapat persoalan serius. Video yang terpotong sering menyisakan ruang interpretasi yang sangat luas. Dalam banyak kasus, konteks lima detik sebelum dan sesudah kejadian dapat mengubah seluruh makna. Tanpa konteks, publik cenderung mengisi kekosongan itu dengan prasangka, pengalaman pribadi, atau sekadar asumsi spontan.
Secara psikologis, fenomena ini tidak mengejutkan. Otak manusia memang dirancang untuk merespons cepat terhadap rangsangan visual. Pada masa lampau, kecepatan itu berguna untuk menghindari bahaya. Ironisnya, saat ini kecepatan yang sama justru mengantar kita pada bahaya lain, yaitu kesimpulan terburu-buru. Kita melihat, merasa, menafsir, dan menghakimi semua dalam waktu kurang dari satu menit.
Jika ritme ini dibiarkan, dampaknya tidak hanya pada individu yang menjadi korban misinformasi. Masyarakat perlahan terbiasa mempercayai kesan daripada fakta. Polarisasi sosial dapat tumbuh hanya karena salah membaca potongan video. Bahkan media massa ikut terdorong mempercepat publikasi, sehingga batas antara investigasi dan kejar-kejaran trending menjadi semakin kabur.
Dalam suasana yang serba tergesa ini, barangkali langkah paling masuk akal bukan menuntut publik menjadi detektif profesional, melainkan mengajak semua orang melakukan hal yang paling sederhana, contohnya berhenti sejenak. Jeda beberapa detik sebelum menyebarkan sesuatu dapat mencegah kebingungan massal. Menunggu satu klarifikasi dapat menyelamatkan banyak reputasi.
Humornya seperti ini, tidak setiap video viral memerlukan reaksi secepat evakuasi gempa. Sebagian hanya memerlukan satu pertanyaan sederhana, “Apakah ini benar atau hanya permainan potongan?”
Pada akhirnya, kebenaran tidak hilang dalam keramaian digital, ia hanya tertunda. Ia butuh pembaca yang bersedia menunggu, penonton yang bersedia berpikir, dan netizen yang bersedia menahan jempol sebentar saja.
Mungkin di zaman serba cepat ini, kebijaksanaan hanyalah kemampuan menikmati jeda.
``What matters is not the information we lack, but the information we ignore``
-Daniel Kahneman-
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
