Kenali Celiac Disease dan Penanganannya!
Edukasi | 2025-11-24 16:24:10
Selama ini bahan-bahan makanan gluten atau tepung, telur, susu, dan lainnya memang merupakan bahan makanan yang tidak asing digunakan dalam makanan-makanan Indonesia. Tetapi, hal itu tidak menutupi fakta bahwa terdapat serangkaian orang yang memiliki alergi dan resistensi terhadap bahan makanan tersebut. Beberapa data juga menyebutkan makanan berkarbohidrat tinggi mengandung gluten yang tinggi, sehingga banyak orang mengaitkan gluten dengan gula dan melakukan Gluten Free Diet untuk mengurangi berat badan. Hal ini memunculkan stigma bahwa makanan gluten free hanyalah sekedar alternatif makanan sehat saja atau alergi yang terjadi pada seseorang hanya akan memicu reaksi alergi biasa, padahal GFD (Gluten Free Diet) dilakukan juga bagi teman-teman yang memiliki gluten intolerance (Non-Celiac Disease) dan yang memiliki penyakit autoimun seperti Celiac Disease.
Pertama, sebelum mengenali jenis-jenis penyakit yang dapat disebabkan oleh gluten, mari kenali gluten terlebih dahulu. Gluten adalah protein yang umum ditemukan pada biji-bijian tertentu, seperti gandum, jelai, couscous, semolina, makanan olahan pasta, dan makanan/minuman lainnya. Gluten sendiri bersifat heat stable dan dapat berfungsi sebagai agen penggabung dan pengembang sehingga sering kita temukan pada adonan roti dan kue.
Celiac Disease adalah kelainan autoimun yang menyebabkan inflamasi saat penderita mengkonsumsi makanan mengandung gluten. Terdapat beberapa gejala yang dapat muncul seperti :
1. kerusakan mukosa atau lendir pada usus menyebabkan nyeri pada perut
2. malabsorbsi sehingga lemas
3. konstipasi dan diare
4. Timbul ruam pada kulit seperti halnya saat reaksi alergi.
Unsur yang menjadi pemicu dari penyakit celiac adalah komponen protein bernama gliadin. Gliadin sendiri memiliki peptida yang bersifat resisten terhadap digesti gastrik, pankreatik, dan intestinal atau dalam usus. Gliadin akan dimodifikasi oleh tTG dan bergabung dengan peptida HLA membentuk APC (Antigen-Presenting Cells). Peptida tersebut ketika bertemu dengan sel CD4+ T akan memicu reaksi inflamasi dan ketika bertemu dengan sel-sel CD8+ T akan menyerang sel-sel epitel pada usus dan menyebabkan kerusakan sehingga struktur villi menjadi datar.
Lalu, bagaimana kita dapat mengetahui apakah kita memiliki kelainan imun yang dapat menyebabkan Celiac Disease?
1. Tes darah untuk menemukan jenis spesifik antibodi
Bagi orang-orang dengan penyakit celiac, terdapat dua antibodi spesifik yaitu IgA dan IgG yang dapat ditemukan ketika gluten dikonsumsi. Kedua antibodi ini akan muncul sebagai respons terhadap ancaman terutama pada organ-organ yang menghasilkan lender seperti organ pencernaan.
2. Tes genetik
Dilakukan untuk mengidentifikasi antigen leukosit seperti HLA-DQ2 dan HLA-DQ8 yang merupakan salah satu indikator penyakit celiac dapat muncul. Walaupun kedua antigen dimiliki oleh sekitar 25-30% dari populasi, tetapi dengan memilik salah satu/kedua antigen dapat meningkatkan risiko terkena penyakit celiac.
3. Endoskopi
Jika Anda didiagnosis dengan penyakit celiac, maka akan dilakukan endoskopi untuk eksaminasi saluran pencernaan ataupun usus untuk mengetahui kondisi dinding-dinding dan selaput dari saluran pencernaan Anda menggunakan kamera kecil yang terhubung pada tube fleksibel.
Sebagai penutup, mengetahui bahwa penyakit celiac merupakan penyakit yang juga merupakan penyakit genetik, sehingga sangat disarankan jika melakukan pengecekan genetik untuk mengetahui makanan yang aman dikonsumsi dan menghindari gejala-gejala yang dapat menyebabkan sakit. Jika Anda didiagnosis memiliki penyakit celiac, maka mulailah diet bebas gluten dan lakukanlah pengecekan berkala pada dokter dan spesialis nutrisi untuk mengetahui status nutrisi.
Sumber Referensi :
Biesiekierski JR . (2017) . What Is Gluten? . Journal of Gastroenterol Hepatology 1:78-81. doi: 10.1111/jgh.13703
Daley, Sharon F., & Haseeb, Muhammad . (2025) . Celiac Disease . StatPearls Publishing [Internet]
Niland, Benjamin & Cash, Brooks D . (2018) . Health Benefits and Adverse Effects of a Gluten-Free Diet in Non-Celiac Disease Patients . Gastroenterology & Hepatology : The Independent Peer-Reviewed Journal 14(2), p. 82-91
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/celiac-disease/diagnosis-treatment/drc-20352225
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
