Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tofrizal

Waspada Kanker Kulit, Kenali Ciri Tahi Lalat yang Mencurigakan

Info Sehat | 2026-03-29 10:28:54

Tahi lalat sering kali dianggap sebagai pemanis penampilan atau sekadar tanda lahir yang tidak berbahaya. Namun, di balik titik kecil yang tampak tenang tersebut, terdapat risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian.Il

Ilustrasi pemeriksaan tahi lalat oleh dokter. Photo by Bermix Studio on Unsplash

Sebagian kecil tahi lalat, atau bahkan munculnya bercak baru yang menyerupai tahi lalat, bisa menjadi awal dari melanoma. Ini adalah jenis kanker kulit yang paling agresif dan mematikan jika terlambat ditangani.

Satu hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa melanoma selalu berasal dari tahi lalat lama yang berubah bentuk. Faktanya, penelitian medis menunjukkan bahwa sekitar 70 hingga 80 persen kasus melanoma justru muncul sebagai bercak baru di kulit yang sebelumnya bersih.

Artinya, kewaspadaan kita tidak boleh hanya terpaku pada tahi lalat lama, tetapi juga pada setiap munculnya tanda baru di permukaan kulit saat usia dewasa.

Mengenali Metode ABCDE

Secara biologis, tahi lalat terbentuk dari kumpulan melanosit atau sel pigmen kulit. Mayoritas tahi lalat bersifat jinak, namun mutasi genetik dapat menyebabkan sel-sel ini tumbuh tidak terkendali.

Untuk membedakan mana yang normal dan mana yang mencurigakan, para ahli kesehatan menggunakan panduan standar bernama metode ABCDE:

- Asymmetry (Asimetri): Jika Anda membagi tahi lalat menjadi dua bagian, sisi kiri dan kanannya tidak terlihat sama atau tidak simetris.

- Border (Pinggiran): Tepi tahi lalat tidak rata, terlihat bergerigi, atau tampak kabur seperti tinta yang merembes di kertas.

- Color (Warna): Warnanya tidak seragam. Anda mungkin melihat kombinasi cokelat tua, hitam, kemerahan, atau bahkan bintik kebiruan dalam satu area.

- Diameter: Waspadai jika ukurannya lebih dari 6 milimeter. Namun, yang lebih penting adalah jika ukurannya terus membesar secara cepat dalam waktu singkat.

- Evolving (Perubahan): Ini adalah tanda paling krusial. Perhatikan jika ada perubahan bentuk, warna, atau muncul gejala baru seperti rasa gatal, nyeri, hingga mudah berdarah.

Selain itu, ada trik sederhana bernama The Ugly Duckling. Jika Anda memiliki banyak tahi lalat, perhatikan apakah ada satu yang terlihat sangat berbeda dibandingkan yang lainnya. Titik yang "tampil beda" inilah yang biasanya memerlukan pemeriksaan medis segera.

Risiko Kanker Kulit di Negara Tropis

Paparan sinar ultraviolet (UV) memang menjadi faktor risiko utama karena kemampuannya merusak DNA sel kulit. Luka bakar akibat matahari yang parah saat masa kanak-kanak bahkan dapat meningkatkan risiko melanoma di masa dewasa secara signifikan.

Di Indonesia yang beriklim tropis, muncul mitos bahwa pemilik kulit gelap otomatis aman dari kanker kulit. Padahal, meskipun risiko secara statistik lebih rendah dibandingkan orang berkulit terang, kanker kulit pada orang Asia sering muncul di area yang tidak terduga.

Melanoma pada kulit gelap sering ditemukan di area tersembunyi seperti telapak kaki, telapak tangan, atau di bawah kuku. Jenis ini sering kali tidak berkaitan dengan paparan matahari langsung, melainkan faktor genetika.

Deteksi Dini dan Pencegahan

Kabar baiknya, kanker kulit termasuk jenis kanker yang paling mudah dideteksi secara kasatmata. Jika ditemukan pada tahap awal, tingkat kesembuhannya sangat tinggi sebelum sel kanker menyebar ke organ dalam.

Berikut adalah langkah sederhana untuk melindungi kulit Anda:

 

  1. Gunakan Tabir Surya dengan Benar: Jangan hanya sekali pakai. Jika beraktivitas di luar ruangan, aplikasikan ulang tabir surya setiap dua jam.
  2. Hindari Matahari Terik: Kurangi aktivitas di bawah sinar matahari langsung antara pukul 10.00 hingga 16.00.
  3. Lakukan Pemeriksaan Mandiri: Periksalah seluruh permukaan kulit Anda di depan cermin secara berkala, termasuk area yang jarang terlihat.

Menjaga kesehatan kulit bukan hanya soal estetika, melainkan tentang mengenali pesan yang disampaikan oleh tubuh. Jika menemukan perubahan mencurigakan, segera konsultasikan dengan dokter spesialis kulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image