Muhammadiyah dan Rasa Gelisah yang tak Pernah Mati
Agama | 2025-11-24 13:34:29
Oleh: Agus setiyono*)
Gerakan besar tidak pernah lahir dari kenyamanan, tetapi dari kegelisahan yang menampar nurani. Muhammadiyah berdiri persis dari ruang batin itu, sebuah keresahan yang merayap di hati Kiai Haji Ahmad Dahlan ketika melihat umat yang berjalan di bawah sinar Islam, tetapi bayang-bayang perilaku jahiliyah masih menempel di belakangnya.
Gelisah adalah tanda hidup; dan barangkali, Muhammadiyah sejak mula memang ditakdirkan untuk terus hidup melalui kegelisahan yang kreatif.
Empat belas abad silam, Rasulullah SAW sendiri memulai peradaban baru dari ruang gelisah yang tak disembunyikan. Beliau menyaksikan umat yang tumbuh dalam kegelapan jahiliyah—bukan hanya gelap akal, tetapi gelap adab, gelap moral, dan gelap hati. Zaman ketika ilham digantikan oleh berhala, dan akal sehat dikalahkan oleh takhayul yang dipuja.
Rasulullah mengganti gelap itu dengan cahaya. Namun cahaya, seperti hukum alam, selalu membutuhkan penjaga agar tak meredup.
Kyai Dahlan hidup di masa ketika cahaya Islam sudah lama hadir, tetapi perilaku sebagian umat justru kembali menyisakan aroma-aroma jahiliyah. Bukan jahiliyah yang polos seperti di masa Rasul, tetapi jahiliyah yang memakai baju agama, yang menyamar di balik ritual, dan kerap merasa anggun dalam kesalehan yang salah arah.
Ia melihat umat yang tekun berzikir tetapi masih percaya pada klenik; rajin mengaji namun gemar menisbatkan nasib pada benda-benda; memakmurkan masjid tetapi membiarkan syirik berkelana di halaman rumah.
Di situlah keresahannya tumbuh—dan dari keresahan itu, Muhammadiyah dilahirkan.
Kini, ketika Muhammadiyah menginjak usia 113 tahun, ia bukan lagi gerakan kecil di sudut kampung Kauman. Ia telah menjadi peradaban dalam bentuk lain: jaringan pendidikan yang membentang dari kota hingga pelosok; rumah sakit yang hadir sebagai wajah kasih; amal usaha yang menjadi saksi bahwa dakwah bukan sekadar kata, tetapi kerja.
Gerakan berkemajuan, begitu Muhammadiyah menyebut dirinya. Sebuah frasa yang tidak sekadar indah, tetapi juga mengandung beban moral yang berat.
Namun, mari kita bertanya dengan jujur:
Apakah dengan 113 tahun ini, tugas telah selesai?
Apakah umat telah bebas dari klenik, takhayul, bid’ah, dan khurafat?
Apakah syirik modern tidak menyelinap dalam bentuk yang lebih rapi dan lebih akademis?
Klenik hari ini tidak selalu berbentuk sesajen di pojokan rumah; ia bisa menjelma menjadi kultus individu.
Takhayul tidak lagi selalu berupa benda keramat; ia bisa berubah rupa menjadi mitos politik yang dibungkus data statistik.
Khurafat tidak hanya hidup di mulut dukun; ia bisa muncul dari percaya bahwa kemajuan cukup dicapai dengan jargon tanpa kerja.
Zaman berubah, tetapi perangainya kadang sama. Yang berbeda hanyalah kemasan.
Dan di sinilah urgensi kader:
Para penerus, penjaga bara yang dititipkan para pendiri.
Kader Muhammadiyah bukanlah pengagum sejarah, melainkan pewaris kegelisahan. Tugas mereka bukan merayakan usia 113 tahun, tetapi memastikan bahwa kegelisahan itu tidak padam, bahwa gerakan ini tetap berjalan bukan karena nostalgia, tetapi karena kebutuhan zaman.
Pada akhirnya, Muhammadiyah tidak lahir untuk merayakan dirinya sendiri. Ia lahir agar umat terus bergerak dari gelap menuju terang, berulang kali, sepanjang peradaban berjalan.
Sebab jahiliyah tidak pernah mati; ia hanya berganti wajah.
Dan selama itu pula, Muhammadiyah harus tetap hidup.
Wallahu a'lam bish shawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
