Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Denisa Afifia

Indonesia Disebut Fatherless Country: Ketika Anak Tumbuh Tanpa Peran Ayah

Humaniora | 2025-11-21 10:03:52
Sumber: Gemini

Oleh: Denisa Afifia Zahra_Universitas Airlangga

Secara sederhana, fatherless menggambarkan situasi ketika seorang anak berkembang tanpa kehadiran peran ayah yang benar-benar berfungsi. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai faktor mulai dari ayah yang sudah tiada, berpisah, bekerja jauh dari rumah, hingga ayah yang sebenarnya tinggal serumah tetapi tidak terlibat dalam pengasuhan maupun kehidupan emosional anak. Indonesia sering disebut sebagai fatherless country sebuah istilah yang menggambarkan kondisi banyak anak tumbuh tanpa keterlibatan ayah, meski ayahnya sebenarnya masih hidup dan tinggal satu rumah.

Data BKKBN tahun 2025 menunjukkan bahwa 20,9% remaja Indonesia tumbuh tanpa figur ayah yang aktif dan terlibat. Tidak heran bahwa Indonesia berada pada salah satu peringkat tertinggi dalam fenomena fatherless, di mana figur ayah tidak hadir dalam kehidupan emosional, pengasuhan, maupun pembentukan karakter anak.

Banyak orang masih memiliki pemahaman keliru bahwa fatherless hanya terjadi ketika seorang anak kehilangan ayah secara fisik karena kematian atau perceraian. Padahal, konsep fatherless jauh lebih luas. Seorang anak dapat disebut fatherless meskipun ayahnya masih hidup dan tinggal serumah, namun tidak hadir dalam arti yang sebenarnya. Ayah yang sibuk bekerja hingga tidak punya waktu berinteraksi, tidak terlibat dalam pengasuhan, tidak memahami kondisi emosional anak, atau menyerahkan seluruh tanggung jawab rumah tangga kepada ibu, juga termasuk dalam kategori ini. Kehadiran fisik tanpa kedekatan emosional, komunikasi, maupun bimbingan, menjadikan anak tumbuh tanpa figur ayah yang sesungguhnya.

Fenomena ini muncul karena beberapa faktor. Salah satu akar penyebabnya adalah budaya patriarki yang mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Sejak lama, ayah dibentuk untuk percaya bahwa perannya hanyalah sebagai “pencari nafkah” sementara urusan pengasuhan dan kedekatan emosional adalah tugas ibu. Di sisi lain, ibu diposisikan sebagai pusat semua urusan rumah, sehingga ia menanggung beban ganda mengasuh, mendidik, dan membangun karakter anak tanpa keterlibatan seimbang dari ayah. Padahal, ayah tidak hanya sebagai “pelengkap” dalam keluarga tetapi juga “fondasi” penting dalam pembangunan kepribadian anak.

Ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan berdampak besar pada perkembangan anak hingga mereka tumbuh menjadi generasi muda. Ketika anak tumbuh tanpa peran figur ayah, anak akan cenderung membentuk karakter yang rapuh karena tidak pernah merasakan dukungan emosional maupun batasan yang jelas dari sosok yang seharusnya menjadi panutan. Dalam pengambilan keputusan, anak sering merasa ragu dan tidak tahu akan salah atau benar. Mereka terbiasa tidak mendapatkan arahan dari figur ayah sehingga bingung ketika menghadapi pilihan-pilihan penting dalam hidup. Ketiadaan bimbingan sejak kecil membuat mereka tidak mandiri bahkan sulit menentukan prioritas hidup.

Dalam aspek psikologis, anak fatherless juga lebih berisiko mengalami ketidakstabilan emosi. Mereka kesulitan mengontrol marah, sedih, atau cemas karena tidak memiliki contoh bagaimana seorang dewasa mengekspresikan emosi dengan sehat. Tidak jarang, hal-hal dasar seperti mengontrol emosi, kemampuan memimpin diri, hingga keberanian mengambil risiko menjadi hambatan yang mereka bawa hingga dewasa. Ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan berdampak besar pada anak yang akan bertumbuh sebagai generasi muda.

Di kalangan Gen Z sendiri, muncul ungkapan yang sering terdengar: “Ayah ini arahnya ke mana?” Kalimat sederhana ini sebenarnya bukan sekadar ungkapan iseng, tetapi bentuk ekspresi yang mewakili perasaan kehilangan figur ayah dalam kehidupan mereka. Ungkapan tersebut menggambarkan kebingungan dan ketidakpastian yang dialami banyak anak muda yang tumbuh tanpa arahan, tanpa role model, dan tanpa kehadiran seorang ayah.

Fenomena fatherless bukan hanya isu keluarga, tetapi isu sosial besar yang memengaruhi masa depan bangsa. Generasi muda yang tumbuh tanpa figur ayah yang hangat dan terlibat berpotensi mengalami krisis identitas, rentan terjerumus dalam pergaulan bebas, menghadapi kesulitan dalam hubungan sosial, serta mengalami berbagai gangguan mental.

Ayah perlu hadir, mendengar, memeluk, memberi arahan, dan menjadi role model yang membimbing bagi anak-anaknya. Kehadiran ayah bukan sekadar ada di rumah, tetapi terlibat secara emosional sehingga “tangki cinta” anak terisi penuh memberikan rasa aman, dibimbing, dan dicintai. Saat seorang anak benar-benar merasakan bahwa ayahnya hadir dan mencintainya, mereka akan tumbuh dengan fondasi emosional yang kuat dan percaya diri

Sebab pada akhirnya, seorang ayah adalah arah kompas bagi anak. Kompas yang menunjukkan bagaimana bersikap, mengambil keputusan, memimpin diri, dan menghadapi kehidupan. Ketika kompas itu tidak ada, banyak anak akan merasa berjalan tanpa tujuan, meski mereka sebenarnya hanya ingin satu hal yakni seorang ayah yang benar-benar hadir.

Selamat Hari Ayah untuk Seluruh Ayah Hebat di Indonesia!

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image