Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image AlFaiz

Puncak Harapan di Atas Lembah Tidur

Sastra | 2025-11-20 07:07:14

Angin pegunungan yang dingin menusuk tajam, menampar wajah Bambang Subianto, Letnan muda TKR yang baru beberapa bulan lalu meninggalkan bangku sekolah demi cita-cita kemerdekaan. Tatapan matanya keras, penuh tekad, seolah menantang siapapun—termasuk alam dan nasib buruk—yang hendak menghalangi langkahnya. Di punggungnya, ia memanggul sebatang tiang bambu, yang selama perjalanan disembunyikan dengan cermat di balik semak-semak, agar tak terendus patroli musuh. Bambu itu bukan sekadar kayu; ia membawa makna, karena di dadanya terlipat rapi Sang Saka Merah Putih, kain yang bagi Bambang dan kawan-kawannya lebih berharga daripada nyawa sendiri.

Tahun 1948 adalah tahun penuh gejolak, ketika harapan dan ketakutan saling berkejaran. Agresi Militer Belanda II memaksa republik mengambil langkah mundur, membiarkan kota-kota penting jatuh satu per satu ke tangan lawan. Namun di tengah keterjepitan, api perlawanan justru menyala makin terang, seolah-olah setiap kekalahan hanya menambah bara semangat di dada para pejuang. Bagi Bambang, tugas yang diembannya kali ini terdengar nekat, bahkan nyaris mustahil. Ia diperintahkan untuk mengibarkan Sang Saka di puncak Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah yang puncaknya kerap diselimuti kabut dan angin kencang. Namun bagi mereka, mengibarkan bendera di sana bukan hanya soal simbol, melainkan pernyataan diam-diam kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih hidup, masih berjuang, dan belum menyerah, walau wilayah-wilayahnya tercerai-berai.

Mereka memilih jalur pendakian dari arah timur laut, sebuah jalan setapak yang jarang dilalui bahkan oleh pendaki lokal karena reputasinya yang angker dan rawan mara bahaya. Namun justru itulah alasannya: Belanda jarang mengirim patroli ke sana, menganggap medan itu terlalu sulit dan tak mungkin dilalui pasukan. Bambang dan kedua rekannya—yang satu mantan santri, satunya lagi bekas buruh pabrik gula—datang dari latar belakang berbeda, namun kini dipersatukan oleh satu tujuan: membuktikan bahwa tanah air ini belum kehilangan anak-anaknya yang berani. Sepanjang perjalanan, mereka harus saling menguatkan, melewati hutan lebat, jurang terjal, serta bisikan-bisikan rasa takut yang kadang muncul di malam hari. Namun dibalik itu semua, terpatri keyakinan mendalam bahwa misi ini harus berhasil, demi harga diri bangsa, demi harapan mereka yang menanti kabar kemenangan dari balik kamp-kamp pengungsian atau rumah-rumah yang telah porak-poranda.

Setiap langkah menuju puncak adalah pertaruhan, tidak hanya melawan penjajah, tetapi juga melawan diri sendiri—melawan rasa lelah, lapar, dingin, dan ketakutan. Namun bagi Bambang, kegagalan bukan pilihan. Ia tahu, di bawah sana, entah di desa terpencil atau di kota yang sudah diduduki, ada ribuan—mungkin jutaan—pasang mata yang menunggu isyarat perlawanan. Dan bendera Merah Putih yang hendak ia kibarkan di puncak Gunung Slamet, akan menjadi cahaya kecil di tengah gelapnya penjajahan, penanda bahwa Republik Indonesia belum mati.

Felix Chen melangkah di sebelah kanan, gerakannya begitu ringan dan penuh perhitungan, seolah ia telah menyatu dengan alam sekitarnya. Setiap langkahnya di atas batu-batu licin hampir tak meninggalkan jejak suara; ia seperti bayangan yang menyelinap, kehadirannya nyaris tak terdeteksi. Felix adalah seorang Tionghoa yang mewarisi pengetahuan turun-temurun tentang pengobatan herbal dan seni bela diri yang hening—kemampuan yang ia pelajari sejak kecil, ketika ia menemani ayahnya, seorang pedagang rempah, melintasi hutan-hutan lebat di perbatasan negeri. Kini, keahlian itu menjadikannya aset tak tergantikan di peleton kecil ini. Bukan hanya mata dan telinga, Felix juga adalah pelindung tak kasat mata bagi kawan-kawannya. Ranselnya berisi ramuan penyamar bau yang mampu menipu penciuman binatang buas maupun manusia, serta jarum-jarum akupunktur, benda kecil yang bisa menyembuhkan, menenangkan, dan ketika diperlukan, melumpuhkan musuh dengan cara yang hampir tak kentara. Wajah Felix tetap tenang dan ekspresinya datar, namun di balik ketenangan itu tersimpan ketajaman indra yang selalu siaga, tak pernah lengah sejenak pun.

Di sisi kiri Bambang, berjalan Abdullah bin Ahmad, sosok yang tubuhnya kokoh dan penuh wibawa. Otot-ototnya sekeras batu karang, dan keteguhan imannya tampak dari sorot matanya yang selalu jernih. Abdullah berasal dari Hadramaut, tanah para saudagar dan pelaut, tapi sudah lama ia menjejakkan kaki dan menetap di pesisir Jawa. Keahliannya dalam membaca langit dan tanah diwarisi dari para leluhur yang hidup sebagai penjelajah dan penafsir alam. Dalam setiap perjalanan, Abdullah mengandalkan bintang-bintang sebagai penunjuk arah, dan jika langit tertutup awan, ia membaca tanda-tanda tersembunyi di dedaunan, aliran air, dan formasi batu-batu kuno. Di pinggangnya tergantung jambiya, pisau khas Yaman yang bukan sekadar senjata, tapi juga simbol kehormatan dan prinsip. Ia juga selalu membawa peta kuno—lembaran lusuh berisi simbol-simbol alam dan penanda leluhur, jauh dari garis-garis modern, namun jauh lebih bermakna bagi orang yang mengerti membacanya. Abdullah adalah jangkar kelompok ini, penentu arah di tengah ketidakpastian.

Bersama dengan Bambang, putra Indonesia yang menjadi pemimpin mereka, ketiga orang ini membentuk sebuah keseimbangan yang unik. Bambang, Felix, dan Abdullah—mereka seperti api, angin, dan bumi: tiga unsur yang saling melengkapi, masing-masing membawa kekuatan dan kelemahan sendiri. Bambang adalah nyala semangat, pendorong yang tak pernah lelah; Felix adalah hembusan angin yang membawa intuisi dan kewaspadaan; Abdullah adalah bumi tempat mereka berpijak, penenang dan pemersatu di saat krisis. Sinergi di antara mereka terasa kuat, seperti benang-benang tak terlihat yang mengikat mereka dalam satu tujuan mulia: menegakkan keadilan di tanah yang tengah direnggut ketidakpastian. Namun, kekuatan mereka juga rapuh, karena bahaya selalu mengintai di setiap sudut hutan, dan kepercayaan satu sama lain adalah satu-satunya sandaran di tengah segala kemungkinan yang mengancam.

Sejak awal pendakian, medan Gunung Slamet telah menjelma menjadi ujian berat bagi ketiganya. Lereng-lereng terjal menghadang, akar-akar pohon besar menjulur seperti perangkap, siap membuat siapa pun tersandung. Kabut turun naik, menutup pandangan mereka dalam sekejap, membuat setiap langkah terasa seperti menembus dunia lain yang penuh misteri. Bambang memimpin dengan nyala semangat yang membakar, membangkitkan keberanian teman-temannya saat rasa lelah mulai menggerogoti. Felix tetap waspada, matanya jeli menyoroti setiap tumbuhan dan hewan, mencari tanda-tanda racun atau perangkap alam yang bisa membahayakan. Abdullah, dengan ketenangan seorang navigator sejati, berkonsultasi pada bintang dan peta kunonya, memastikan mereka tetap pada jalur rahasia yang hanya ia pahami maknanya.

Di sela-sela kelelahan dan ketegangan perjalanan, mereka saling membuka diri, menceritakan kisah hidup, impian, dan keyakinan. Persahabatan mereka tumbuh di atas tanah yang mereka perjuangkan bersama. Di balik perbedaan budaya dan bahasa, ada benang merah yang menghubungkan mereka. Bambang bercerita tentang makna Merdeka, bukan sekadar bebas dari penjajahan, tapi kebebasan batin dan hak untuk menentukan nasib sendiri. Felix berbagi kisah tentang Tian Ming, Mandat Langit yang dipercaya harus dijaga demi menegakkan keadilan dan keharmonisan di dunia, sebuah kepercayaan yang telah membimbing keluarganya selama berabad-abad. Abdullah menjelaskan tentang Jihad, bukan hanya sebagai perang fisik, tapi perjuangan melawan penindasan, perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan menjaga martabat. Tiga nama, tiga perjuangan yang berbeda, namun pada dasarnya bermuara pada hal yang sama: martabat manusia.

Semakin jauh mereka melangkah, semakin dalam pula pemahaman satu sama lain. Dalam perjalanan yang penuh bahaya dan ketidakpastian, mereka belajar bahwa keadilan, kebebasan, dan martabat bukanlah hak milik satu bangsa, tapi cita-cita universal yang layak diperjuangkan bersama. Di bawah naungan hutan Slamet yang lebat, di tengah kabut dan bayangan bahaya, ketiganya berjalan berdampingan—seperti api, angin, dan bumi yang akhirnya bersatu demi cahaya yang lebih besar.

Setelah berjam-jam mendaki jalur terjal yang kian menanjak, kaki mereka mulai lelah dan napas tersengal. Namun, akhirnya garis batas vegetasi pun terlewati—dunia hijau di belakang mereka perlahan menghilang, digantikan oleh pemandangan yang benar-benar asing. Tanah di bawah sepatu kini berubah drastis: tak ada lagi rerumputan atau pohon-pohon keras, hanya hamparan pasir abu-abu dan batu-batu vulkanik berukuran raksasa, seolah-olah mereka melangkah ke permukaan planet lain. Setiap langkah menimbulkan suara gemerisik halus, dan udara yang tadinya gemuk menjadi tipis dan kering, menusuk paru-paru.

Di tengah perubahan lanskap yang mencolok itu, Abdullah tiba-tiba menghentikan iring-iringan mereka dengan gerakan tangan yang tegas. Ia berdiri mematung, sorot matanya tajam mengamati sebuah batu andesit besar di pinggir jalur. Batu itu tampak tua dan tergerus waktu, namun di permukaannya jelas terlihat ukiran-ukiran kuno: simbol lingkaran tebal dengan tiga cakar panjang mengembang di bawahnya, seakan menjaga sesuatu yang tak kasatmata. Abdullah menelan ludah, wajahnya pucat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menunjuk simbol tersebut dengan jari yang sedikit bergetar. “Ini Isyarat Hadr,” bisiknya, dan untuk pertama kalinya, nada suara Abdullah terdengar gentar—ketakutan yang selama ini tersembunyi di balik sikap tenangnya muncul ke permukaan. “Ini peringatan kuno. Kita sudah melewati batas, sekarang masuk wilayah Penjaga Tidur. Di sini, setiap kesalahan bisa berarti bencana. Hati-hati, hanya itu kunci untuk tetap hidup.”

Bambang, yang terbiasa menghadapi situasi genting dengan logika dan disiplin ala militer, sempat mengerutkan kening. Dalam benaknya, semua ini hanyalah takhayul yang diwariskan turun-temurun, sesuatu yang mudah dipatahkan dengan akal sehat dan persenjataan modern. Namun, Felix, yang sejak awal mempelajari seluk-beluk kepercayaan lokal dan legenda gunung-gunung Asia, menggeleng pelan. Ia menatap simbol itu lama, matanya memantulkan rasa hormat dan sedikit kecemasan. “Jangan remehkan tanda-tanda seperti ini, Bang,” ucapnya pelan, penuh keyakinan. “Di banyak gunung suci Asia, legenda seperti ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Kadang, firasat alam lebih tajam dari peta atau kompas. Kita harus belajar mendengarkan peringatan yang diberikan oleh gunung itu sendiri, Letnan.”

Mereka saling pandang dalam diam, menyadari bahwa tak ada pilihan lain selain melanjutkan perjalanan. Jalur menuju puncak hanya satu, dan mundur bukan opsi. Dengan kewaspadaan yang kini meningkat, langkah mereka menjadi lebih terukur, setiap suara angin atau gerakan pasir terasa seperti peringatan. Setelah berjalan beberapa ratus meter melewati lereng tandus dan batu-batu tajam, mereka akhirnya sampai di sebuah cekungan luas—tempat yang, menurut peta, seharusnya menjadi titik peristirahatan terakhir sebelum serangan puncak dimulai.

Namun, suasana di sana sungguh di luar dugaan. Tak ada suara burung, tak ada desir angin. Keheningan yang menyelimuti cekungan itu begitu total, sampai-sampai detak jantung mereka sendiri terdengar gaduh. Di tempat inilah sunyi berubah menjadi sesuatu yang menakutkan, seolah-olah mereka tengah berada di tengah badai tak kasatmata. Udara di sekeliling mereka terasa berat dan pekat, seolah membawa beban puluhan tahun rahasia yang tak pernah terungkap. Setiap tarikan napas dipenuhi oleh bau anyir tajam bercampur uap belerang yang menusuk hidung dan membuat tenggorokan mereka seperti dicekik. Di bawah kabut tipis yang menggantung di permukaan tanah, mereka bisa merasakan tatapan tak terlihat yang mengawasi setiap gerak-gerik. Di titik itu, mereka sadar bahwa perjalanan ini telah berubah: kini bukan hanya soal menaklukkan gunung, tapi juga bertahan menghadapi misteri yang menunggu di balik batas dunia manusia.

Bambang segera mengangkat tangan, memberi isyarat tegas agar semua berhenti, lalu merangkak perlahan ke balik tumpukan batu besar yang kokoh. Ia menahan napas, menempelkan tubuhnya erat-erat ke tanah, jantungnya berdebar begitu keras sampai seolah ikut menggetarkan batu di bawahnya. Dengan sangat hati-hati, ia mengintip dari celah batu, dan pemandangan di depan matanya membuat darahnya serasa berhenti mengalir.

Di tengah cekungan dalam, tepat di bawah lereng batuan terjal, seekor makhluk raksasa terbujur—makhluk yang mustahil digambarkan dengan kata lain selain Monster Tidur. Ukurannya benar-benar mencengangkan, tubuhnya setidaknya tiga kali tinggi gajah dewasa, bahkan mungkin lebih. Kulitnya tampak kasar dan tebal, berwarna gelap, nyaris hitam seperti arang, penuh benjolan lumut vulkanik yang tumbuh liar, menjadikannya mirip sebongkah batu lava raksasa yang sudah lama mendingin. Setiap bagian tubuhnya tampak sekeras batu, seolah-olah makhluk itu sendiri adalah bagian dari gunung. Cakarnya tumpul dan mengerikan, sebesar batang pohon kelapa, dengan guratan-guratan tua yang menandakan usia dan kekuatannya. Sementara ekornya sangat panjang, melingkar di sekeliling tubuh, seperti cambuk yang siap meledak sewaktu-waktu, hanya menunggu alasan kecil untuk menghantam apapun yang mendekat.

Makhluk itu sedang terlelap, nafasnya berat dan dalam, suara dengkurannya menyembur keras, menciptakan getaran yang merambat melalui batu-batu di sekitarnya dan terasa sampai ke dada Bambang. Dengan setiap helaan napas, uap panas mengepul dari lubang hidungnya yang besar, membentuk pusaran tipis di udara yang langsung lenyap dihembus angin gunung. Aroma belerang dan panas bercampur dengan udara, membuat suasana semakin menegangkan.

Namun, yang benar-benar membuat bulu kuduk Bambang dan kawan-kawannya berdiri bukan hanya sosok monster itu, melainkan sarangnya yang luar biasa aneh dan menyeramkan. Sarang itu terbentang luas, disusun dari lumpur panas dan pecahan batu tajam, membentuk semacam cekungan raksasa di mana puluhan telur-telur raksasa terletak. Telur-telur itu berwarna coklat kemerahan, permukaannya kasar dipenuhi gurat-gurat dan retakan kecil, ukurannya sebesar batu giling yang biasa digunakan nenek-nenek di desa. Dari permukaan telur, memancar panas yang aneh—satu jenis panas yang tidak hanya terasa di kulit, tapi juga memberi sensasi tidak nyaman di dalam dada, seolah tubuh menolak untuk mendekat lebih jauh. Ada aura ancaman yang jelas, sesuatu yang menegaskan bahwa makhluk ini sedang dalam masa mengerami, siap melindungi keturunannya dengan segala daya.

Bambang bisa membayangkan, betapa sensitifnya Monster Tidur itu terhadap gangguan sekecil apa pun. Seekor lalat saja mungkin cukup untuk membangunkannya, dan bila itu terjadi, tak seorang pun akan selamat. Jelas, tempat ini lebih dari sekadar sarang—ia adalah benteng pertahanan terakhir makhluk purba yang menakutkan.

Abdullah, yang bersembunyi di sebelahnya, menatap makhluk itu lekat-lekat. Suaranya nyaris tak terdengar, diucapkan dengan nafas tercekat antara takut dan takjub. "Ini Hadr al-Jabal," bisiknya pelan, seolah nama itu sendiri adalah mantra kuno yang bisa membangunkan monster di depan mereka. "Kita harus melewatinya. Semua jalur lain sudah ditutup Belanda, tidak ada pilihan lagi."

Kata-kata Abdullah menegaskan kenyataan pahit yang sudah Bambang sadari sejak tadi. Jalan mereka kini benar-benar hanya satu: melewati sisi sarang monster, melintasi Jalan Sunyi yang menakutkan, di bawah bayang-bayang maut. Ia tahu, gagal di sini bukan sekadar kegagalan biasa—ini berarti semangat perlawanan mereka tamat, perjuangan akan padam sebelum sempat berkobar. Dan jika Monster Tidur itu terbangun, semuanya akan hancur dalam sekejap, tanpa sisa harapan.

Tak ada lagi jalan mundur. Satu-satunya harapan ada di depan, di jalan sempit yang membelah sunyi, di bawah pengawasan monster yang menjaga sarangnya dengan naluri purba. Bambang menelan ludah, menyiapkan diri. Ini bukan sekadar ujian keberanian, tapi pertaruhan hidup mati demi masa depan yang lebih baik.

Felix Chen langsung bergerak. Dia mengeluarkan kantung kulit berisi bubuk herbal racikannya sendiri—campuran akar Lingzhi gunung dan daun pahit yang dia kumpulkan. Bubuk ini bukan cuma menghilangkan bau manusia, tapi juga bikin indra penciuman mereka agak mati rasa, jadi bau busuk monster itu nggak bikin pusing. Mereka mengoleskan bubuk itu ke wajah, leher, bahkan sampai ke ujung sepatu bot. Rencana mereka: Jalur Bisu Tiga Titik. Bambang, yang badannya paling ringan, jadi orang pertama yang bergerak, mengetes pijakan di antara tumpukan telur.

Felix, dengan pengetahuannya tentang keseimbangan dan gerakan Tai Chi yang pelan, jadi pengatur ritme—dia kasih isyarat tiap kali dengkuran monster mencapai puncaknya (ini waktu terbaik untuk bergerak, soalnya suara monster bisa menutupi suara mereka) atau saat nafasnya pelan (ini bahaya, harus ekstra hati-hati). Abdullah, yang paling kuat, bawa semua ransel berat dan tugasnya jadi penahan, memastikan nggak ada batu yang bergeser atau jatuh. Mereka merayap maju, memanfaatkan bayangan batu-batu kecil yang tercipta dari sinar matahari pagi yang baru nongol.

Setiap langkah terasa berat, seperti menempuh jarak berkilometer. Mereka merayap pelan di antara batu vulkanik, hidung mereka diserang bau belerang dan aroma anyir yang menusuk. Tapi yang benar-benar bikin jantung berdegup kencang adalah cakar monster itu — cuma beberapa meter dari mereka. Mereka harus lewat persis di samping tujuh telur, semuanya tampak hidup, memancarkan panas yang hampir memanggang kulit.

Di satu titik, Bambang berusaha menggeser tubuh di antara dua telur. Sialnya, kakinya malah menggeser pasir vulkanik. Suaranya kecil, cuma desahan, tapi di tengah sunyi Lembah Tidur, itu terdengar seperti bom meledak. Monster Tidur langsung berhenti mendengkur. Sunyi mendadak yang turun itu rasanya lebih menakutkan daripada suara apapun. Bambang langsung kaku, menempel di tanah. Ia cuma berani menghirup napas pelan lewat celah di lengan bajunya. Ia bisa merasakan panas napas monster itu dari lubang hidungnya, cuma beberapa meter. Uap hangatnya bahkan terasa menyentuh rambut.

Felix, dengan tatapan setenang air danau, memberi isyarat pelan banget: jangan gerak, jangan bahkan melirik. Hampir lima belas menit mereka diam total, seperti patung. Mereka cuma bisa pasrah, menunggu nasib—semuanya tergantung satu tarikan nafas monster itu. Akhirnya, setelah ketegangan yang bikin saraf nyaris putus, monster itu menghela napas panjang dan mulai mendengkur lagi, bahkan lebih keras. Seolah puas dengan sunyi yang ia ciptakan. Dengan lega yang berat, mereka lanjut merayap, kali ini lebih hati-hati, benar-benar menyesuaikan langkah dengan ritme napas Si Tidur.

Begitu mereka lolos dari lembah maut, rombongan ini akhirnya sampai di punggungan terakhir. Jalannya licin—es tipis bercampur kerikil di mana-mana. Suasana berubah drastis. Awalnya mereka senang, tapi langsung siaga waktu melihat jejak sepatu lars. Bukan milik siapapun dari kelompok mereka. Jelas, patroli Belanda sudah lebih dulu naik. Belum habis rasa waspada, suara-suara samar dari atas bikin mereka tambah tegang. Belanda pasti sudah dekat sekali dengan kawah.

Bambang cepat ambil keputusan. Nggak ada waktu untuk rencana lama—mereka harus selesaikan misi dengan cepat, kibarkan bendera, lalu bersihkan area secepat mungkin. Kelompoknya bergerak makin cepat, tapi tetap hati-hati supaya nggak terpeleset. Dorongan amarah dan rasa mendesak benar-benar terasa di setiap langkah.

Akhirnya, mereka berhasil mengejar dua prajurit Belanda yang sedang sibuk bangun pos pengamatan. Nggak boleh ada suara tembakan. Bambang langsung berhadapan dengan satu prajurit, rencong di tangan. Felix dan Abdullah kompak melumpuhkan yang satunya lagi. Felix bergerak cepat, pakai teknik Dim Mak—tepat di titik tekan, sehingga prajurit itu langsung ambruk, nggak sempat bersuara. Abdullah, dengan tenaga dan jambiya-nya, memastikan semuanya selesai. Setelah itu, mereka ambil radio dan senapan dari kedua tentara itu—siap untuk langkah berikutnya.

Waktu terus menipis. Mereka berlari secepat mungkin ke puncak kawah. Begitu matahari penuh muncul, langit berubah jadi lautan jingga dan merah darah. Saat itulah mereka sampai di titik tertinggi Slamet. Tanpa pikir panjang, Bambang langsung menancapkan tiang bambu ke tanah vulkanik yang keras. Ia mengikat bendera Merah Putih dengan tali, memastikan semuanya kuat. Bendera itu langsung berkibar, tegas dan berani, jadi simbol perlawanan yang nggak bisa dibantah siapa pun.

Tapi urusan belum selesai. Bambang melirik radio komunikasi rampasan. Ia sadar, pengibaran bendera ini harus didengar. Ia nyalakan radio itu, putar volume sampai maksimal. Dengan emosi yang meletup, ia ucapkan proklamasi singkat pakai bahasa Indonesia. Lalu, sambil menahan napas, ia teriak tantangan dalam bahasa Belanda. Setelah itu, ia menyalakan sirene kecil yang sudah ia siapkan, dan tanpa ragu, radio itu dilempar sejauh mungkin ke jurang. Ia benar-benar ingin suaranya terdengar, meski risikonya besar—bahkan kalau itu artinya membangunkan sang raksasa.

Dan ya, raksasa itu pun terbangun.

Teriakan yang mereka dengar benar-benar menusuk telinga. Bukan suara sirene, tapi lolongan marah Monster Tidur dari Lembah Tidur. Tanah di Bumi Slamet berguncang hebat sampai mereka nyaris terjatuh. Dari puncak, kehancuran di lembah terlihat jelas—monster itu berdiri tegak, besar, dan aura kemarahannya terasa sampai ke atas. Mata merahnya menyala tajam. Yang bikin bulu kuduk berdiri, dalam amukannya, ia justru menghancurkan sarangnya sendiri. Telur-telur raksasa itu diinjak dan diremukkan dengan cakarnya yang besar dan tumpul. Suara gemuruhnya memicu longsoran batu besar di jalur pendakian utama, menutup jalur timur laut dan jalur patroli Belanda. Ini bencana yang mengerikan, tapi di saat yang sama, semacam keberuntungan. Amarah Monster Tidur menutup jalan ke puncak untuk siapa pun yang ingin mengejar mereka.

"Turun! Jalur barat daya! Cepat!" Abdullah berteriak, jarinya menunjuk ke arah lereng curam yang cuma sedikit kena longsor. Dia tahu jalur itu—bintang-bintang di langit jadi penuntunnya. Mereka langsung turun, dan jujur saja, turunan ini sama gilanya dengan naik tadi. Kerikil meluncur ke mana-mana, tangan mereka sibuk berpegangan pada tali dan sisa-sisa akar pohon yang masih bisa dicengkeram.

Felix, yang herbalnya tinggal sisa, nggak lagi pakai buat nutup bau badan. Dia malah menyebarkannya ke bebatuan sepanjang jalan, berharap monster yang mungkin mengendus suara mereka jadi bingung. Sementara itu, Abdullah benar-benar mengandalkan tenaganya, menahan laju turunan supaya mereka nggak meluncur membabi buta.

Beberapa kali mereka harus lompat melewati jurang kecil, lalu merayap pelan di bawah reruntuhan batu. Pikiran mereka cuma satu: bertahan hidup. Suara menggelegar Si Tidur makin lama makin jauh, dan itu sedikit memberi lega.

Akhirnya, setelah turunan yang bikin badan gemetar, mereka sampai juga di zona hutan yang lebih aman. Di sana, monster nggak bisa melihat mereka, dan patroli Belanda—yang pasti lagi sibuk sendiri di lereng lain—nggak bakal nemu jejak mereka.

Mereka sampai di desa pengungsian, tempat mereka akhirnya bertemu lagi. Wajah mereka lelah, tubuh penuh luka, tapi senyum kemenangan jelas terpancar. Bambang langsung memeluk Felix dan Abdullah, erat sekali, seakan tak mau lepas. Misi selesai. Dari kejauhan, bendera Merah Putih berkibar, kecil tapi tegas di tengah alam yang buas. Kabar soal bendera di Slamet cepat menyebar, bikin semangat rakyat membara, dan jadi tamparan keras buat Belanda.

Soal monster dan telur-telur itu? Mereka sepakat, cerita itu cukup jadi rahasia mereka bertiga. Hanya mereka yang tahu, karena itu bagian dari persahabatan—persahabatan yang lahir di tengah perjuangan, melampaui negara dan warna kulit. Bambang, Felix, dan Abdullah berasal dari tiga benua berbeda, tapi mereka sama-sama berjanji, suatu hari nanti, mereka bakal bertemu lagi saat Indonesia betul-betul merdeka.

Mereka bukti hidup, perjuangan kemerdekaan bukan urusan satu suku atau agama saja. Ini urusan semua manusia yang ingin bebas dari penindasan. Bahkan, monster purba di puncak gunung pun, entah bagaimana caranya, ikut membantu mereka. Akhirnya, mereka berhasil melewati Lembah Tidur dan berdiri di Puncak Harapan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image