Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arhafid Rizqon Annafiian

Belajar Dari Nepal: MBG Pendongkrak Ketahanan Pangan Nasional

Pendidikan dan Literasi | 2025-11-18 11:04:52

Pemerintah lagi ramai mau belajar MBG dari India, katanya program makan siang gratis di sana sukses besar. Bagus, saya setuju. India memang jago urusan distribusi dan skala besar sampai jutaan anak sekolah dapat makan tiap hari. Tapi, ada satu pertanyaan yang mengganggu pikiran saya: kenapa nggak belajar juga dari negara sebelahnya, Ne

Di Nepal, menu makan siang sekolah bukan hanya soal “gratis” atau “isi perut”. Mereka punya program makan siang yang benar-benar ngikutin model Home-Grown School Feeding. Artinya, makanan datang dari petani lokal, dimasak di dapur sekolah, komunitas ikut terlibat. Menu berubah tiap hari ada; kheer, kari, sayur, telur, sesuai hasil panen, musim, dan tradisi makan setempat.

WFP (World Food Programme) dan pemerintah Nepal bareng-bareng, sejak 2017, ngasih cash ke sekolah biar dapur sekolah bisa beli bahan sendiri. Hasilnya? Gizi anak-anak naik, absensi turun, anak-anak makin sehat dan aktif. Buat petani perempuan macam Krishna Maya dan Parvati Tamang, hasil panen mereka laku ke sekolah, penghasilan naik, keluarga lebih damai, bahkan kekerasan dalam rumah tangga ikut berkurang.

Saya teringat kritik dr. Tan Shot Yen waktu bicara di DPR. “Menu MBG jangan sampai burger atau makanan impor saja. Anak Papua harus makan ikan kuah asam, anak Sulawesi makan kapurung!” Beliau nggak setuju permintaan dapur MBG yang ngikutin request anak atau vendor pusat harus berani mendiversifikasi menu sesuai bahan lokal. Minimal 80% isi MBG itu pangan daerah, katanya.

Bulan lalu saya baca, Nepal rela biaya program diversity menu naik 20–33% dari standar pemerintah. Tapi mereka percaya nggak ada rugi karena anak-anak makan lebih sehat, komunitas diuntungkan, petani lokal hidup, ketahanan pangan desa makin kuat. Kalau Indonesia cuma mikir murah dan cepat, hasilnya makannya monoton, anak bosan, gizi setengah-setengah, pangan lokal dilupakan.

Saya percaya, kalau MBG Indonesia mau sukses dan negara ini benar-benar punya ketahanan pangan, harus mulai dari diversity menu seperti Nepal. Bukan soal “gratisnya”, tapi fondasi perubahan perilaku makan dari dapur sekolah ke rumah. Bukan hanya soal menu, tapi soal jati diri dan kesehatan anak bangsa.

India bisa jadi inspirasi soal logistik, sistem, dan auditnya. Nepal jadi “alarm” biar program MBG tidak kehilangan ruh menu lokal, kolaborasi komunitas, dan keberanian buat keluar dari zona nyaman tender pusat.

Ketahanan pangan Indonesia? Dimulai dari diversity menu MBG dan keberanian merangkul tradisi pangan daerah kita sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image