Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aurellya Desiuli

Ingatan dalam Dengung dan Diam

Eduaksi | 2025-11-18 09:22:28


Ada satu hal yang selalu saya ingat dari masa kecil saya, suara. Bukan suara tertentu, bukan juga melodi yang indah, tetapi dengung samar yang muncul setiap kali saya berada terlalu lama dalam ruangan sunyi. Di usia kecil, saya tidak mengerti apa itu. Bagi saya saat itu, keheningan justru paling bising.

Saya tumbuh dengan tubuh yang mudah cemas. Ketika gugup, jari saya mengetuk-ngetuk meja tanpa henti, sebuah gerakan kecil yang selalu saya coba hentikan namun muncul kembali seperti refleks yang keras kepala. Kadang saya melakukan gerakan itu sambil mengulang-ulang kalimat dalam hati “tenang saja, tenang saja.” Namun tubuh sering kali punya bahasa sendiri, yang tidak selalu patuh pada perintah.

Bertahun-tahun, saya menyimpan rahasia kecil itu sendirian. Saya mengira semua orang mengalami hal yang sama. Namun ketika saya lebih dewasa, saya baru sadar bahwa apa yang saya anggap sebagai “kebiasaan” ternyata memiliki nama dalam dunia medis. Bahwa tubuh, dalam banyak kondisi, tidak hanya bergerak karena kehendak, tetapi karena serangkaian mekanisme saraf yang rumit, serumit perasaan manusia itu sendiri.

Kini, ketika saya melangkah di lorong Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, kenangan itu seperti kembali menyentuh bahu saya. Saya belajar tentang tics, gangguan saraf, respon stres, impuls motorik, dan berbagai istilah lain yang dulu terasa asing. Namun semakin saya mempelajarinya, semakin saya mengerti diri saya sendiri. Seperti bertemu kembali dengan versi kecil diri saya yang duduk di kamar, mendengar dengung yang tidak pernah saya pahami.

Ada momen-momen ketika saya berhenti sebentar, menatap jari saya yang dulu selalu mengetuk meja, dan tersenyum kecil. Bukan karena semuanya telah selesai, tetapi karena kini saya memahami bahasa tubuh saya dengan cara yang lebih lembut. Dalam ruang akademik yang penuh data dan definisi, saya justru menemukan ruang untuk merawat ingatan yang saya simpan selama ini.

Ada rasa bangga yang pelan, yang tidak meledak-ledak. Bangga karena jalan saya ke dunia medis tidak hanya dibangun oleh rasa ingin tahu, tetapi juga oleh kerentanan pribadi, sesuatu yang dulu saya anggap sebagai kelemahan.

Belajar kedokteran mengajarkan saya bahwa setiap tubuh memiliki cerita. Bahkan cerita yang kita sembunyikan dari diri kita sendiri. Dan sering kali, perjalanan memahami orang lain dimulai dari keberanian untuk memahami diri sendiri terlebih dahulu.

Di klinik pendidikan, saya melihat pasien dengan kegelisahan yang disalurkan lewat tubuh. Ada yang mengetuk kaki, ada yang menggigit bibir, ada yang memutar-mutar cincin di jari. Gerakan-gerakan kecil itu mengingatkan saya pada versi kecil diri saya yang dulu menahan cemas lewat ketukan jari.

Saat itu, saya tersadar sesuatu, bahwa memahami tubuh manusia bukan hanya tentang mempelajari penyakit, tetapi tentang menghormati cara-cara manusia bertahan.

Dalam banyak hal, pengalaman pribadi saya adalah pintu pertama menuju empati. Ia mengajarkan bahwa tidak semua pertempuran terlihat jelas. Ada peperangan kecil yang terjadi di balik kulit, di balik gerakan kecil yang sering kita anggap remeh. Dan ada kemenangan sunyi yang tidak pernah diberi panggung.

Ketika ingatan masa kecil saya bertemu dengan pengetahuan yang saya pelajari hari ini, semuanya terasa menyatu seperti dua sisi cermin yang akhirnya saling memantulkan. Masa lalu tidak pergi. Ia bertransformasi menjadi cara saya memahami dunia, memahami pasien, memahami diri sendiri.

Dan pada akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan yang sederhana namun jujur :

Ingatan-ingatan paling pribadi sering kali menjadi peta paling jernih dalam perjalanan kita menjadi manusia.

Aurellya Desiuli Harianja, Mahasiswi Universitas Airlangga (111251052)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image