Filosofi Stoikisme dalam Menghadapi Cinta dan Patah Hati
Nasihat | 2025-11-10 20:33:59Membahas tentang cinta selalu menjadi topik yang menarik dan membingungkan secara bersamaan. Hal ini bisa terjadi karena setiap orang memiliki pengalaman dan perspektif yang berbeda-beda. Sampai sekarang, pertanyaan “Apa itu cinta?” tidak pernah mendapatkan jawaban yang sama dari setiap orang. Dalam artikel, kita akan mengetahui bagaimana persepsi cinta dari perspektif stoikisme.
Apa itu cinta?
Nevzat Tarhan, dalam bukunya The Psychology of Love menggambarkan cinta seperti sebuah pelangi. Jika pelangi adalah spektrum warna, cinta adalah spektrum emosi. Secara sederhana, spektrum ialah kumpulan ide, sifat, atau objek yang saling tumpang tindih dan berkesinambungan. Pelangi terbentuk dari sinar matahari yang disebut polikomatrik. Polikomatrik adalah kumpulan cahaya berbagai warna yang menyatu menjadi cahaya putih. Cahaya ini menembus butiran air hujan dan kecepatannya mulai melambat dibandingkan saat di udara. Saat berada dalam butiran air, cahaya dibiaskan atau arahnya berubah sedikit. Selain itu, warna-warna dalam cahaya polikomatrik membelok dengan sudut yang berbeda-beda. Hal ini terjadi karena setiap warna memiliki kecepatan gelombang yang berbeda juga. Dalam butiran air, gelombang cahaya dipantulkan keluar ke udara dan terurai menjadi berbagai warna. Sebenarnya, warna dalam pelangi sangat beragam, tetapi mata manusia hanya bisa melihat 7 warna yaitu, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna ini juga dipengaruhi oleh frekuensi dan panjang gelombang setiap cahaya. Mari kita bahas sedikit rumus fisika yang pernah dipelajari saat sekolah. 
Jika dilihat dari rumus tersebut, dapat disimpulkan bahwa semakin panjang gelombang, maka semakin rendah frekuensinya, dan sebaliknya. Warna merah menjadi warna pertama sekaligus warna yang memiliki panjang gelombang paling panjang dan frekuensi paling rendah. Sebaliknya, warna ungu menjadi warna paling akhir dengan panjang gelombang terpendek dan frekuensi tertinggi. Mari kita bedah metafora pembuatan pelangi ini dan kaitannya dengan cinta
Love Bombing
Saat ini istilah “love bombing” sering kali kita dengar terutama di kalangan remaja. Love bombing adalah perilaku memberi perhatian atau kasih sayang secara intens untuk menciptakan ketergantungan. Frekuensi emosional yang tinggi dan menggebu-gebu sering kali cepat hilang dan tidak bertahan lama. Dengan kata lain, fenomena love bombing dapat menghasilkan cinta tanpa komitmen, dan gelombang cinta yang pendek, dan cepat padam. Hal ini serupa dengan warna ungu pada pelangi yang memiliki frekuensi paling tinggi, tetapi panjang gelombang paling pendek.
Cinta sejati
Masih dengan pengandaian cinta dan pelangi tadi, cahaya dapat menghasilkan warna pelangi setelah dibiaskan, dibelokkan, serta dipantulkan dari berbagai sudut oleh butiran air. Sama dengan cahaya, cinta sejati juga perlu melalui proses panjang berupa pengalaman, kebahagiaan, kadang kesedihan, dan penderitaan hingga terbentuk cinta yang kuat. Konsep ini juga dijelaskan oleh Nevzat Tarhan dalam bukunya The Psychology of Love, yang menyatakan bahwa cinta sejati merupakan pemurnian dari nafsu. Lebih lanjut, Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa
“Wahai yang lalai! Engkau telah menamai hawa nafsumu sebagai cinta
Dengan keadaan itu, kau telah mencabut kehormatan yang agung
Engkau telah merongrong makna sejati
Andai kau tahu, betapa engkau telah lekat dengan kesombonganmu”
Sering kali nafsu disamakan dengan cinta, padahal hal tersebut sangat berbeda. Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan
“Mereka menyebut nafsu sebagai cintaJika nafsu adalah cintaMaka keledai akan menjadi penguasa cinta”
Nafsu adalah hasrat atau gejolak perasaan yang tumbuh tiba-tiba dan terkadang tak terkendali. Sementara itu, cinta sejati tumbuh melalui proses pemurnian yang panjang. Nevzat Tarhan mengibaratkan cinta sebagai pemurnian emas dari tambang. Emas yang berasal dari tambang diolah dan dimurnikan.Seperti halnya nafsu yang menggebu, setelah melalui proses hidup, cobaan, dan terkadang penderitaan, akan muncul perasaan yang lebih kuat yang dapat kita sebut sebagai cinta sejati. Kita ambil contoh sepasang kekasih atau suami istri yang telah mengalami badai hubungan yang memperkuat ikatan mereka. Kita bisa lihat salah satu cerita cinta paling fenomenal dari tokoh Indonesia yaitu Habibie dan Ainun. Dalam filmnya, dapat kita lihat bagaimana badai hubungan mereka ketika Habibie melanjutkan studinya ke Jerman; Ainun menjadi support system bagi Habibie, dan mereka harus melewati berbagai perselisihan. Sampai akhirnya Ainun meninggal dan Habibie tetap menjaga cintanya sampai dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Stoikisme
Dalam buku Filosofi Teras, kata "stoa" diambil dari bahasa Yunani yang berarti "teras". Pengertian ini tak lepas dari sejarah penyebarannya yang berpusat di teras Kota Athena, Yunani (sekarang menjadi alun-alun). Bagi para pengikut filosofi stoa disebut sebagai kaum "Stoic". Filsafat stoa juga dikenal sebagai stoikisme. Filsafat ini bukanlah kerangka berpikir abstrak yang menonjolkan perdebatan paradigma, melainkan berfokus pada praktik sehari-hari dalam mengendalikan emosi negatif. Tujuan utama yang ingin dicapai oleh stoikisme ialah kehidupan yang tenang dan terbebas dari pikiran negatif yang mengganggu pemikiran manusia dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat kita kendalikan. Beberapa konsep filosofi stoa diantaranya:
a. Selaras dengan Alam (in accordance with nature)
Manusia yang hidup selaras dengan alam berarti manusia yang menggunakan nalarnya. Yang dimaksud dengan “alam” adalah keadaan yang sesuai dengan kodrat manusia ketika diciptakan. Hal yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya ialah akal yang dimilikinya. Stoikisme mengajarkan agar manusia selalu menggunakan nalar atau akal dalam menyikapi berbagai hal dalam hidup. Selain menggunakan nalar, sifat alami manusia adalah sebagai bagian dari kelompok sosial. Hubungan yang terjadi sebagai makhluk sosial juga didasari pada akal yang rasional. Selain itu, stoikisme mengungkapkan bahwa kejadian yang kita alami saat ini merupakan rangkaian kejadian yang berkaitan satu sama lain. Tidak ada sesuatu yang “kebetulan” menurut stoikisme karena keterkaitan peristiwa merupakan hukum alam. Untuk itu, kita sebagai manusia tidak melawannya.
b. Dikotomi Kendali
Konsep ini menjelaskan bahwa segala sesuatu terbagi menjadi dua, yaitu hal-hal yang berada di bawah kendali kita, seperti persepsi, pemikiran, dan tindakan kita. Selain itu, ada hal-hal yang berada di luar kendali kita, seperti persepsi, pemikiran, dan tindakan orang lain. Dalam mencapai tujuan hidup, stoikisme menekankan pentingnya berusaha pada hal-hal yang berada dalam kendali kita. Selebihnya, hasil yang diperoleh berada di luar kendali kita karena dipengaruhi oleh banyak variabel yang tidak dapat kita atur.
Cinta Ala Stoic
Konsep “Selaras dengan Alam” menekankan agar manusia hidup sesuai dengan kodratnya, seperti menggunakan nalar. Mencintai dan hidup sebagai makhluk sosial juga merupakan kodrat seorang manusia. Saat ini fenomena cinta tak terbalas menjadi salah satu fenomena kisah romansa yang sering terjadi dan menyakitkan. Terkadang perasaan tak terbalas tersebut dikaburkan dengan “status teman tapi mesra” atau “hubungan tanpa status”. Kita sudah berharap lebih, tetapi orang yang kita sukai tidak memberikan kejelasan, bahkan mungkin sudah memiliki gandengan lain. Mempelajari stoikisme menjadi salah satu juru selamat agar kita bisa lebih menata diri. Jika kita refleksikan melalui konsep dikotomi kendali, kita memilih untuk menyukai atau mencintai seseorang. Memberikan orang tersebut hadiah, waktu, dan perhatian sepenuh hati. Tentu hal tersebut merupakan tindakan kita dan sepenuhnya berada dalam kendali kita. Sebagai manusia kita berpikir bahwa seharusnya orang yang kita sukai memberikan perasaan yang sama kepada kita. Namun, umpan balik dan perasaan orang tersebut berada di luar kendali kita, sehingga kita tidak dapat memaksakan kehendak. Patah hati terjadi ketika kita berusaha mengaburkan garis kedua kendali ini. Jika kita hubungkan dengan konsep “Selaras dengan Alam” maka kita bisa simpulkan bahwa segala kejadian memiliki keterikatan hukum alam. Termasuk pertemuan dan perpisahan terjadi karena sebuah peristiwa yang berkaitan. Cinta yang tak terbalas bukan karena cinta tersebut tidak layak untuk dibalas, melainkan memang jalan cintanya bukan berlabuh kepada orang tersebut.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
