Saatnya Santri Bergerak Bersama Umat untuk Terapkan Syariat
Ngariung | 2025-11-01 13:22:30Ada yang berbeda penampilan pegawai di instansi pemerintahan pada hari Rabu , tanggal 22 Oktober 2025 lalu. Tampak pegawai wanita memakai gamis dan berkerudung , sementara pegawai prianya berbaju koko, berkopyah lengkap dengan sarung ala - ala santri. Ya , mereka berpenampilan demikian dalam rangka merayakan hari santri. Hari yang diperingati sebagai bentuk penghargaan atas jasa para santri yang terlibat dalam tegaknya negara Indonesia. Di masa lalu dengan pekikan takbir menggelorakan semangat jihad mengusir penjajah dari tanah nusantara.
Tema hari Santri tahun ini adalah: "Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia." Publik tampak ikut antusias memeriahkan Hari Santri , terlihat dari banyaknya serangkaian seremonial, dari upacara, kirab, baca kitab sampai festival film. Pun demikian Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan momen hari santri ini dengan mengajak para santri menjadi penjaga moral dan pelopor kemajuan. Dia menyinggung Resolusi Jihad yang dipelopori oleh ulama sekaligus tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945.
Dari sekian riuh peringatan Hari Santri yang terasa lebih banyak seremonial, terkesan tidak menggambarkan peran santri sebagai sosok yang faqih fiddin dan agen perubahan. Pujian soal peran santri dalam jihad melawan penjajah di masa lalu tidak sejalan dengan berbagai kebijakan dan program menyangkut santri dan pesantren di masa kini. Alih - alih memahamkan ummat pada ajaran murni Agama Islam. Santri justru dimanfaatkan untuk menjadi agen moderasi beragama dan agen pemberdayaan ekonomi. Santri tidak diarahkan memiliki visi dan misi jihad melawan penjajahan gaya baru dengan menjaga umat dan syariat. Peran strategis santri dan pesantren justru dibajak untuk kepentingan mengokohkan sistem sekuler kapitalisme.
Tiba waktunya peran strategis santri dikembalikan , yaitu menjadi santri fakih fiddin sebagai penjaga umat yang bertugas mewujudkan peradaban Islam cemerlang. dan menjadi agen perubahan menegakkan syariat Islam. Negara sebagai penanggungjawab utama untuk mewujudkan eksistensi pesantren dengan visi mulia mencetak para santri yang siap berdiri di garda terdepan melawan penjajahan dan kezaliman. Bukan malah menjadi bagian antek penjajah, mengkerdilkan potensi santri sebagai agen perubahan. Saatnya santri bergerak bersama umat terapkan syariat, Allahu Akbar!!!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
