Antara Waktu, Kematian, dan Kesadaran Akan Cinta
Agama | 2025-10-23 11:36:07Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Penggerak Literasi dan Kebudayaan
Ada sesuatu yang lebih sunyi daripada kematian: kesia-siaan waktu yang dibiarkan berlalu tanpa makna. Kematian, sejatinya, hanyalah pintu yang memisahkan kita dari dunia dan segala hiruk-pikuknya. Namun, membuang waktu dalam kelalaian—itu jauh lebih berbahaya. Ia memutuskan hubungan kita dengan Allah dan dengan kampung akhirat, memisahkan jiwa dari sumber hidupnya sebelum jasad benar-benar tiada.
Waktu bukan sekadar detik yang berdenting di jam dinding. Ia adalah denyut kehidupan, napas dari rahmat Allah yang dititipkan untuk diolah menjadi amal, menjadi makna, menjadi perjalanan menuju kekekalan. Saat kita menyia-nyiakannya, kita sesungguhnya sedang merobek benang halus yang menghubungkan hati kita dengan langit. Dan di situlah letak kehilangan yang paling menyakitkan — kehilangan arah, kehilangan makna, kehilangan rasa hadir di hadapan Sang Pencipta.
Kematian tidaklah sekejam itu. Ia datang sebagai perantara; memisahkan kita dari dunia, tapi tidak dari rahmat-Nya. Ia hanya mengantarkan jiwa kembali kepada sumber cahaya yang selama ini melindunginya. Namun waktu—ketika kita salah memperlakukannya—bisa menjadi racun yang perlahan membunuh kesadaran kita akan hakikat hidup.
Ada pula kesedihan yang lebih dalam daripada kehilangan: ketika kita baru menyadari nilai seseorang setelah ia tiada. Cinta sering kali baru menemukan kedalaman maknanya di tengah kesunyian doa dan air mata yang tertinggal. Di situlah manusia belajar tentang kefanaan, tentang pentingnya menghargai sebelum kehilangan, tentang lembutnya kasih Allah yang mengajarkan makna sabar dan ihtisab—menyerahkan segala pada kehendak-Nya.
Kita berduka atas kepergian seorang saudara. Namun di balik duka, terselip keyakinan bahwa kasih sayang Allah lebih luas daripada kesedihan kita. Semoga ruhnya beristirahat dalam kedamaian surga, di taman-taman rahmat yang dijanjikan.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga sabar menjadi selimut, dan ihtisab menjadi lentera yang menuntun jiwa menerima takdir. Karena apa pun yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan. Apa yang Allah beri adalah milik-Nya, dan apa yang Allah ambil pun tetap milik-Nya.
Maka sekali lagi, sabarlah. Dalam setiap kehilangan, terselip panggilan untuk kembali pada makna waktu yang sesungguhnya—bahwa setiap hembusan napas adalah kesempatan untuk menebus kelalaian, memperdalam cinta, dan mempererat hubungan kita dengan Allah sebelum waktu sendiri yang menutup pintunya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
