Menjaga Keseimbangan Jiwa di Tengah Tekanan Modernisasi
Gaya Hidup | 2025-10-21 12:41:22Kesehatan Mental: Fondasi Kehidupan yang Sering Terlupakan Di era modern yang serba cepat, masyarakat dituntut untuk selalu produktif dan kompetitif. Tuntutan pekerjaan, tekanan sosial, serta pengaruh teknologi yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari sering kali membuat individu mengabaikan kesehatannya sendiri, terutama kesehatan mental. Padahal, kesehatan mental memiliki peranan yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik dalam menjaga kualitas hidup manusia.
Kesehatan mental merupakan kondisi di mana individu memiliki kesejahteraan yang tampak dari kemampuannya menyadari potensi diri, mengatasi tekanan hidup yang wajar, bekerja secara produktif, serta memberikan kontribusi kepada komunitasnya (Böse-O’Reilly et al., 2022). Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan dirinya sendiri dan lingkungan sekitar sehingga mampu merasakan kebahagiaan, hidup dengan lapang, serta menghadapi berbagai kenyataan hidup dengan sikap positif (Rozali et al., 2021).
Selain itu, World Health Organization (WHO, 2001) menegaskan bahwa kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, bekerja secara produktif, serta berperan aktif dalam komunitasnya (Jumala, 2021). Kesejahteraan mental mencakup kemampuan seseorang untuk mengelola emosi, berpikir positif, serta menjalin hubungan sosial yang sehat. Menjaga kesehatan mental membuat individu lebih berani dalam menjalani kehidupan, mengambil keputusan, dan berbuat kebaikan.
Hidupnya pun akan lebih sejahtera—atau yang dikenal dengan istilah well-being—serta mampu mencapai aktualisasi diri. Seseorang dengan kesehatan mental yang baik dapat membangun fondasi kuat untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Dalam kehidupan sosial, kesehatan mental juga berperan penting. Individu dengan gangguan mental cenderung mengalami permasalahan dalam relasi sosial, perawatan diri, maupun kepekaan terhadap sesama (Rudianto, 2022).
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahkan mengungkapkan bahwa pemerintah memperkirakan sekitar 30 persen dari 280 juta penduduk Indonesia mengalami penyakit mental. Ia menambahkan bahwa angka depresi juga tinggi, bahkan di kalangan terpelajar. Hal ini membuktikan bahwa gangguan mental tidak mengenal batas status sosial ataupun pendidikan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental kini menjadi isu global yang perlu mendapat perhatian serius.
Tekanan Hidup di Tengah Modernisasi Kemajuan teknologi dan urbanisasi membawa perubahan besar dalam pola hidup manusia. Kehidupan modern yang penuh target, persaingan, dan arus informasi yang deras dapat menimbulkan tekanan psikologis yang tidak ringan. Banyak individu merasa harus selalu tampil sempurna di media sosial dan di hadapan publik, sehingga muncul rasa cemas, stres, hingga kelelahan emosional.
Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pengguna media sosial merupakan medium user, yaitu mereka yang menggunakan media sosial 2–4 jam per hari. Kondisi ini dapat memicu masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan stres. Temuan ini sejalan dengan penelitian Younes (dalam Syiddatul Budury & Andikawati Fitriasari, 2019) yang menunjukkan bahwa kecanduan internet dapat menyebabkan depresi, gangguan harga diri, serta menurunkan prestasi akademik mahasiswa.
Depresi, kecemasan, dan stres sering muncul akibat kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain melalui unggahan di media sosial. Dibanding generasi milenial, generasi Z lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental karena tekanan sosial dan tuntutan eksistensi yang lebih tinggi. Mereka tidak hanya dituntut untuk berprestasi secara akademik, tetapi juga untuk tampil sempurna di dunia maya. Selain itu, faktor sosial dan politik, seperti berita tentang kekerasan atau meningkatnya kasus bunuh diri, turut memperburuk kondisi mental masyarakat (Syiddatul Budury & Andikawati Fitriasari, 2019). Tekanan hidup semacam ini, jika tidak dikelola dengan baik, dapat memicu berbagai gangguan seperti burnout, depresi, hingga gangguan tidur.
Dampak Kesehatan Mental terhadap Kualitas Hidup Kesehatan mental yang terganggu dapat berdampak langsung pada kualitas hidup seseorang. Individu yang mengalami stres kronis cenderung kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, dan mengalami penurunan produktivitas. Selain itu, hubungan sosial pun bisa terganggu akibat munculnya rasa mudah marah, menarik diri, atau kehilangan empati terhadap orang lain. Kesehatan fisik juga berperan penting dalam mendukung kesejahteraan mental. Aktivitas fisik yang teratur tidak hanya memberikan manfaat pada tubuh, tetapi juga berpengaruh positif terhadap kesehatan jiwa dan sosial.
Penelitian menunjukkan bahwa olahraga dapat meningkatkan fungsi kardiovaskular, memperkuat otot, serta mendukung kesehatan tulang, yang secara keseluruhan menciptakan dasar kuat bagi kesehatan fisik dan mental (Murthy, 2017; Faidah et al., 2024). Kesehatan jiwa raga bukan hanya tentang ketiadaan penyakit, tetapi tentang menciptakan kualitas hidup yang lebih baik. Aktivitas fisik yang menyenangkan seperti olahraga atau kegiatan rekreasi dapat meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup. Dampak positif ini juga meluas ke aspek sosial dan emosional seseorang (Faidah et al., 2024). Dengan demikian, kesehatan mental bukan sekadar urusan pribadi, melainkan juga faktor penting yang memengaruhi kesejahteraan sosial secara luas.
Strategi Menjaga Keseimbangan Jiwa Menjaga kesehatan mental tidak selalu membutuhkan langkah besar. Keseimbangan jiwa dapat dipertahankan melalui kebiasaan sederhana namun konsisten, seperti tidur cukup, berolahraga ringan, mengatur waktu antara pekerjaan dan hiburan, serta menjalin komunikasi positif dengan orang lain. Selain itu, praktik mindfulness atau kesadaran diri menjadi salah satu metode efektif dalam menjaga stabilitas emosional di tengah tekanan hidup modern.
WHO (2022) mencatat bahwa gangguan kesehatan mental merupakan penyumbang terbesar kelima dalam beban penyakit global. Lebih dari 80% penderita tidak pernah mencari bantuan profesional, sehingga kondisi mereka semakin memburuk. Oleh karena itu, pemahaman dan praktik menjaga kesehatan jiwa raga penting untuk mencegah gangguan serta membangun kesejahteraan holistik (Faidah et al., 2024). Berbagai faktor dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengelola stres, seperti kondisi fisik, keyakinan hidup, dan dukungan sosial. Hal ini sejalan dengan konsep self-care, yaitu kegiatan yang dilakukan individu untuk memenuhi kebutuhan hidup, kesehatan, dan kesejahteraan (Fauziah et al., 2024).
Lazarus dan Folkman (dalam Taylor, 2006) menjelaskan bahwa coping stress merupakan upaya individu mengatasi tekanan dengan mengubah cara berpikir atau bertindak agar merasa lebih aman. Mereka membedakan dua strategi utama, yaitu problem-focused coping dan emotion-focused coping (Fauziah et al., 2024). Menurut Keliat (dalam Sitepu & Nasution, 2017), kemampuan seseorang menghadapi stres dipengaruhi oleh kesehatan fisik, sikap positif, kemampuan sosial, dukungan lingkungan, serta kondisi ekonomi.
Sarafino (dalam Apreviadizy & Puspitacandri, 2014) menambahkan bahwa sumber stres utama berasal dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sosial (Fauziah et al., 2024). Self-care, menurut Baker & Denyes (2008), adalah bentuk perawatan diri untuk menjaga kesehatan, mengembangkan potensi, serta memperhatikan keseimbangan hidup dan lingkungan sekitar (Fauziah et al., 2024). Kearney & Fleischer (1979) juga menyebutkan empat aspek penting dalam self-care: respons aktif, motivasi, pengetahuan, dan rasa diri. Teori Self-Care Orem menegaskan bahwa usia, jenis kelamin, gaya hidup, sistem keluarga, serta kondisi sosial-ekonomi turut memengaruhi kemampuan seseorang dalam merawat dirinya (Riegel, Dickson, & Faulkner, 2016; Fauziah et al., 2024). Selain faktor individu, dukungan sosial juga sangat penting. Keluarga, teman, maupun lingkungan kerja yang suportif dapat membantu seseorang pulih dari tekanan serta mencegah gangguan mental yang lebih berat.
Kesehatan mental merupakan aspek fundamental yang menentukan kualitas hidup manusia di tengah perubahan zaman yang dinamis. Menjaga keseimbangan jiwa berarti berupaya memahami diri sendiri, mengelola stres dengan bijak, serta menciptakan harmoni antara pikiran, perasaan, dan tindakan. Oleh karena itu, sudah seharusnya masyarakat menempatkan kesehatan mental sejajar dengan kesehatan fisik. Dengan kesadaran dan kepedulian bersama, kehidupan modern yang penuh tekanan dapat dijalani dengan lebih tenang, sehat, dan bermakna.
Sayangnya, stigma dan ketidakpahaman masyarakat masih menjadi penghalang bagi banyak orang untuk mencari pertolongan profesional. Penting bagi kita untuk memperluas wawasan dan empati terhadap isu kesehatan mental agar mampu mendukung orang-orang yang membutuhkan. Seperti yang diungkapkan oleh Deepak Chopra, seorang dokter dan penulis terkenal, “Jika Anda memiliki seorang teman yang berjuang dengan kesehatan mental, carilah cara untuk mendengarkan dan mendukung mereka.
Dengan demikian, Anda bisa menjadi pelita di kegelapan yang mereka alami.”
Oleh: Namira Syahda – Mahasiswa Program Studi Kesehatan MasyarakatSumber:Böse-O’Reilly, S., Schoierer, J., & Wermuth, I. (2022). Psychische Gesundheit von Kindern und Jugendlichen. Padiatrische Praxis, 99(1), 179–190. https://doi.org/10.1007/s00112-023-01714-w
Faidah, A. N., Sugiati, T., Firzatullah, M. D., & Fauzan, M. H. (2024). Sosialisasi Kesehatan Jiwa Raga untuk Peningkatan Kualitas Hidup dan Produktivitas DOI : https://doi.org//10.54832/judimas.v2i2.288 Pendahuluan Dalam era modern yang kian mengglobal , pola hidup masyarakat menjadi semakin dinamis.
Tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi , tetapi juga oleh tren gaya hidup yang terus berkembang . Indonesia sendiri berada di urutan ke lima dengan angka kejadian depresi sebesar ( 3 , 7 %) menurut ( WHO , 2017 ) Dalam konteks ini , kesehatan jiwa dan raga menjadi dua aspek yang tidak dapat dipisahkan . Keseimbangan antara keduanya tidak hanya menjadi kunci untuk mencapai kebahagiaan personal , tetapi juga memiliki dampak besar pada kesuksesan individu dalam berbagai aspek kehidupan , termasuk dalam dunia bisnis ( Aziz et al ., 2021 ).
Salah satu tempat yang menjadi pusat interaksi sosial di Banjarmasin adalah SOG Coffe , sebuah tempat kumpul yang tak hanya menjadi destinasi pecinta kopi tetapi juga menjadi ruang bagi pertemuan dan komunikasi antar individu . Dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks , penting bagi para pengunjung SOG Coffee untuk memahami dan menerapkan konsep Kesehatan jiwa dan raga yang baik serta betapa pentingnya kesehatan jiwa dan raga dalam mendukung kesuksesan .
Sosialisasi memberikan panduan praktis bagi para pengunjung dalam mengintegrasikan aspek ini ke dalam gaya hidup mereka . Kesehatan jiwa dan raga bukan sekadar tentang ketiadaan penyakit , tetapi juga mencakup keseimbangan antara pikiran yang sehat dan tubuh yang bugar . SOG Coffe Banjarmasin , sebagai tempat pertemuan yang seringkali menjadi saksi berbagai percakapan dan interaksi , memiliki potensi besar untuk menjadi katalisator bagi perubahan positif dalam gaya hidup pengunjungnya .
Oleh karena itu , pemahaman yang baik tentang sosialisasi kesehatan jiwa dan raga akan membawa dampak yang signifikan , baik maupun kolektif . Dalam menjalani rutinitas sehari-hari di SOG Coffe , para pengunjung seringkali terlibat dalam percakapan santai , pertemuan bisnis , atau sekadar bersantai sambil menikmati secangkir kopi . Sebuah pola hidup yang sehat , baik dari segi jiwa maupun raga , akan memberikan dampak positif pada kualitas interaksi sosial mereka . Oleh karena itu , artikel ini akan menyajikan informasi seputar praktik- praktik sehat yang dapat diterapkan secara konkret oleh para pengunjung SOG Coffe Banjarmasin , untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan jiwa dan raga secara holistik . Dengan memahami dan . 2, 276–288.
Fauziah, F. N., Rizqi Amalia Aprianty, & Ghea Amalia Arpandy. (2024). Self-Care dan Coping Stress pada Working Mothers. Psikodinamika: Jurnal Literasi Psikologi, 4(2), 075–093. https://doi.org/10.36636/psikodinamika.v4i2.4598
Jumala, N. (2021). BIMIBINGAN KONSELING ISLAMI: Memahami Drama Kehidupan Remaja. In Media Nusantara. http://eprints.undip.ac.id/38840/1/KESEHATAN_MENTAL.pdf
Rozali, Y. A., Sitasari, N. W., & Lenggogeni, A. (2021). Meningkatkan Kesehatan Mental Di Masa Pandemic. Jurnal Pengabdian Masyarakat AbdiMas, 7(2). https://doi.org/10.47007/abd.v7i2.3958
Rudianto, Z. N. (2022). Pengaruh Literasi Kesehatan Terhadap Kesadaran Kesehatan Mental Generasi Z Di Masa Pandemi. Jurnal Pendidikan Kesehatan, 11(1), 57. https://doi.org/10.31290/jpk.v11i1.2843
Syiddatul Budury, Andikawati Fitriasari, K. (2019). Penggunaan Media Sosial Terhadap Use of Social Media on Events of Depression , Anxiety and Stress Among. 6(2), 205–208.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
