Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Disa Fanisa Putri

Ketika Doa Tak Cukup di Reruntuhan Pesantren Al Khonizy

Kabar Pesantren | 2025-10-11 16:26:04

Tragedi ambruknya mushala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/09/2025) sekitar pukul 15.00 WIB, menjadi duka mendalam bagi dunia pendidikan Indonesia. Di tengah lantunan doa, lantai dua bangunan yang sedang gemetar itu runtuh ketika para santri tengah melaksanakan salat Ashar. Orang Tangisan tua menggema di halaman pesantren yang kini hanya menyisakan puing dan kenangan.

Menurut laporan Detik.com (1/10/2025), sedikitnya 67 santri meninggal dunia, sementara lebih dari seratus lainnya berhasil diselamatkan setelah operasi pencarian selama beberapa hari. Kepala Basarnas meminta daerah dikosongkan agar proses evakuasi lebih efektif, seperti diberitakan Antara News (30/9/2025). Namun hingga operasi berakhir, harapan banyak keluarga tetap pupus. Fauzi, salah satu keluarga korban, mengungkapkan kepada Detik.com (1/10/2025) "Empat keponakan saya meninggal, dan yang lainnya masih luka-luka. Kami hanya ingin keadilan.

Jangan ada yang menutupi." Kutipan itu menggambarkan luka yang lebih dari sekadar kehilangan, tetapi juga mengecewakan terhadap lemahnya pengawasan dalam pembangunan fasilitas pendidikan berbasis keagamaan. Hasil penyelidikan awal kepolisian menyebutkan bahwa perluasan proyek mushala dilakukan tanpa izin mendirikan bangunan (IMB) dan tanpa pengawasan teknis profesional (Detik.com, 3/10/2025).

Tragedi ini membuka kembali perbincangan tentang standar keselamatan bangunan di lembaga pendidikan, terutama pesantren yang banyak dibangun secara swadaya. Pesantren Kemandirian memang patut dihargai, tetapi kemandirian tidak boleh mengorbankan keselamatan. Banyak gedung berasrama berdiri tanpa kajian struktur, apalagi audit keselamatan. Menteri Agama Nasaruddin Umar, sebagaimana dikutip Kemenag.go.id (30/9/2025), meninjau langsung lokasi kejadian dan menyalurkan bantuan senilai Rp610 juta kepada korban.

Ia menegaskan bahwa Kementerian Agama akan meminta Arahan Presiden untuk melakukan audit menyeluruh terhadap bangunan pesantren di Indonesia, khususnya yang tua atau tidak memiliki izin lengkap. Langkah ini penting agar kejadian serupa tak terulang. Namun, lebih dari sekedar bantuan dana dan audit fisik, tragedi ini juga menyingkap masalah yang lebih dalam: rendahnya kesadaran akan keselamatan di lingkungan pendidikan keagamaan.

Selama ini, pesantren sering dipandang cukup aman karena “dilindungi doa”. Padahal, iman dan keselamatan seharusnya berjalan beriringan. Tidak cukup hanya berdoa di awal pembangunan, tapi juga memastikan setiap fondasi, dinding, dan atap memenuhi standar keamanan. Dari sisi pemerintah daerah, pengawasan pembangunan pesantren seharusnya tidak dikesampingkan hanya karena statusnya lembaga keagamaan.

Dinas terkait perlu aktif melakukan inspeksi dan memastikan proyek pendidikan berasrama mematuhi aturan teknis bangunan. Tragedi Al Khoziny menampilkan bahwa ketika satu pihak lalai, nyawa anak-anaklah yang menjadi taruhannya. Para keluarga korban kini bukan hanya kesedihan, tetapi juga menanggung trauma dan kesedihan jangka panjang. Banyak santri selamat yang mengalami luka berat, bahkan ada yang harus menjalani amputasi, seperti dilansir Health.Detik.com (2/10/2025).

Mereka membutuhkan pendampingan psikologis dan bantuan pemulihan, bukan sekedar belasungkawa sementara. Kita semua perlu menjadikan peristiwa ini sebagai refleksi bersama. Pendidikan bukan hanya tentang menjaga ilmu dan iman, tetapi juga memastikan lingkungan belajar aman secara fisik. Keselamatan adalah bagian dari nilai moral yang seharusnya diajarkan di setiap pesantren.

Di tengah doa dan air mata para orang tua korban, terselip pesan moral bagi kita semua: jangan biarkan tragedi ini menjadi berita momen yang terlupakan. Pesantren Al Khoziny telah kehilangan puluhan putra terbaiknya, semoga dari puing-puing ini tumbuh kesadaran baru bahwa tanggung jawab moral tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga di setiap batu dan fondasi tempat anak-anak belajar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image