Dampak Ekonomi dari Demonstrasi yang Semakin Chaos di Indonesia
Info Terkini | 2025-09-04 23:34:23Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia kembali diwarnai gelombang demonstrasi yang semakin tidak terkendali. Aksi yang awalnya bertujuan menyuarakan aspirasi rakyat (17+8 tuntutan rakyat) kini menjadi kericuhan yang bahkan menelan korban jiwa dan tentunya menimbulkan kerugian besar.
Menteri Pekerja Umum (PU) Dody Hanggodo buka suara terkait kerugian pemerintah akibat demonstrasi yang berakhir ricuh di berbagai daerah di Indonesia. Dody menyebutkan total kerugian diperkirakan mencapai hampir Rp 900 miliar, dengan jumlah tertinggi di wilayah Jawa Timur.
"Biayanya total seluruh Indonesia, kemarin kami hitung, hampir sekitar Rp 900 miliar," ucap Dody dikutip Rabu (3/9).
Dody menegaskan estimasi kerugian kerusakan infrastruktur tersebut sudah mencakup berbagai fasilitas di seluruh Indonesia, termasuk gedung-gedung DPRD yang dibakar, gerbang tol, halte, dan lain-lain.
Ia memperkirakan provinsi dengan nilai kerugian tertinggi adalah Jawa Timur, melihat sejumlah infrastruktur yang dibakar, meliputi Gedung Negara Grahadi yang merupakan cagar budaya, Kantor DPRD Kota Kediri, dan lain-lain.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: seberapa besar dampak kerusuhan demonstrasi terhadap kondisi ekonomi bangsa?
Dari sisi ekonomi, demonstrasi yang berujung kerusuhan membawa dampak berlapis.
Pertama, kerugian fisik dan infrastruktur. Perusakan fasilitas publik, pembakaran gedung DPR, serta kerusakan sarana transportasi menuntut biaya perbaikan yang tidak sedikit. Anggaran negara yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat, akhirnya tersedot untuk menutup kerugian akibat aksi anarkis.
Kedua, penurunan produktivitas dan aktivitas bisnis. Saat demonstrasi berlangsung, banyak kantor, toko, hingga pusat perbelanjaan terpaksa tutup demi alasan keamanan. Hal ini bukan hanya menghambat aliran barang dan jasa, tetapi juga mengurangi pendapatan para pelaku usaha, khususnya UMKM yang paling rentan.
Ketiga, pengaruh terhadap iklim investasi. Investor, Baik dalam maupun luar negeri, akan ragu menanamkan modal jika melihat kondisi polotik dan sosial yang tidak stabil. Kerusuhan memberi sinyal bahwa keamanan belum sepenuhnya terjamin, sehingga Indonesia beresiko dianggap sebagai tempat berisiko tinggi. Hal ini tentu berimbas pada laju pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Keempat, ketidakpercayaan masyarakat terhadap pengelolaan pajak. Demonstrasi yang chaos membuat sebagian masyarakat merasa uang pajak mereka hanya terbuang percuma untuk menutup kerugian akibat kerusuhan, bukan untuk kesejahteraan. Akibatnya, meski bukan dampak langsung, tingkat kepatuhan pajak berpotensi menurun karena masyarakat semakin enggan membayar. Jika ini dibiarkan, penerimaan negara bisa melemah dan pembangunan akan semakin terhambat.
Pada akhirnya, demonstrasi memang bagian dari demokrasi, tetapi ketika berubah menjadi chaos dan merusak, dampaknya sangat merugikan bangsa, khususnya dari segi ekonomi. Kerugian ratusan milyar rupiah, terganggunya aktivitas bisnis, melemahnya kepercayaan investor, hingga menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pajak harga mahal yang harus dibayar.
Oleh karena itu, penyampaian aspirasi sebaiknya dilakukan dengan cara yang damai dan konstruktif. Masyarakat juga perlu lebih bijak dalam menerima informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi, agar suara rakyat tetap tersampaikan tanpa harus mengorbankan stabilitas ekonomi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
