Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nasrahana

Anak-Anak Gaza Dibunuh, Mengapa Dunia Bungkam?

Agama | 2025-08-05 09:48:22

Tewas–itulah kata pertama yang terlintas untuk menggambarkan betapa pilunya peristiwa yang menimpa anak-anak di Gaza, pada Kamis, 10 juli 2025. Serangan udara brutal Israel menghantam kerumunan warga yang tengah mengantre di depan posco layanan kesehatan Altayara Clinic di Deir al-Balah, jalur Gaza tengah.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza dan lembaga bantuan lokal, total korban yang tewas serangan tersebut mencapai 67 orang, termasuk anak-anak yang saat itu sedang mengantre untuk mendapatkan suplemen gizi dan layanan kesehatan.

Reaksi Dunia

Organisasi kemanusiaan seperti UNICEF dan Project HOPE menyebut serangan ini sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Seruan untuk gencatan senjata dan perlindungan bagi warga sipil terus dikumandangkan, namun hingga kini belum membuahkan hasil nyata.

Padahal, serangan seperti ini bukanlah hal baru. Dan jika dunia terus bungkam, maka ini jelas bukan yang terakhir. Genosida ini telah berlangsung lama dan telah menewaskan jutaan jiwa tak berdosa. Nyawa-nyawa manusia yang menuntut keadilan itu, hingga kini belum juga mendapat kepastian.

Lebih parah lagi, di tengah derasnya pemberitaan mengenai pilunya genosida di Gaza, para pemimpin negeri-negeri Muslim hanya mampu mengecam dengan kata-kata hambar, tanpa keberanian untuk melumpuhkan pelaku dari seluruh kebiadaban ini.

Akar Masalah: Sistem yang Rusak

Diamnya penguasa dan para pemimpin negeri-negeri Muslim hari ini bukan tanpa sebab. Sistem kapitalisme sekuler adalah akar dari semua ini. Sistem ini menjauhkan manusia dari aturan Allah dan menjadikan manusia sebagai pembuat hukum. Akibatnya, manusia tak lagi tunduk kepada perintah-Nya.

Kekuasaan yang semestinya menjadi amanah, kini berubah menjadi alat kekuasaan yang bisa diatur sesuka hati. Sistem ini telah melahirkan pemimpin-pemimpin yang gila akan dunia dan kekuasaan, yang tak lagi peduli pada tanggung jawabnya terhadap rakyat. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda:

"Tiap-tiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadis ini kita pahami bahwa pemimpin bukan sekadar simbol negara, melainkan pelindung rakyat dari kehancuran, ancaman, dan ketidakadilan.

Namun dalam sistem kapitalisme sekuler ini, negeri-negeri Islam justru terpecah-pecah oleh batas nasionalisme. Padahal, sebagai satu umat, kita memiliki kewajiban untuk melindungi dan menolong saudara-saudara kita di Palestina. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

"Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan berlemah lembut diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakan sakitnya dengan tidak bisa tidur atau demam." (HR.Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa umat Islam harus saling peduli dan empati. Jika ada yang menderita di satu tempat, maka yang lain pun tak boleh tinggal diam. Empati ini seharusnya diwujudkan dalam bentuk doa, dukungan, bantuan nyata, hingga jihad.

Islam Memberikan Solusi Tuntas

Permasalahan yang begitu genting ini membutuhkan solusi yang mendasar. Namun, solusi yang ditawarkan oleh para pemimpin saat ini bukanlah solusi yang tuntas. Satu-satunya solusi sejati adalah kembali kepada syariat Allah, dalam naungan negara Islam yang menerapkan sistem Islam.

Dengan menegakkan syariat Islam, manusia tidak akan seenaknya membuat hukum, karena hukum hanya boleh ditetapkan oleh Al-Khaliq, Allah SWT, sebagai pencipta dan pengatur kehidupan.

Dalam Islam, Palestina (Baitul Maqdis) adalah wilayah yang sangat penting bagi umat Muslim. Ia adalah simbol spiritual dan tempat yang diberkahi karena:

1. Masjid Al-Aqsa adalah tempat suci bagi tiga agama samawi.

2. Masjid Al-Aqsa menjadi lokasi peristiwa Isra' dan Mi'raj.

3. Ia adalah kiblat pertama umat Islam.

4. Tempat jejak para nabi dan utusan Allah.

Karena begitu pentingnya Baitul Maqdis, maka menjaganya adalah tanggung jawab kita semua, dan membebaskannya dengan jihad adalah bagian dari kewajiban umat. Hal ini pernah terbukti di masa kejayaan Islam:

Ketika Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak tawaran Theodor Herzl yang ingin membeli tanah Palestina demi proyek Zionisme. Semua ini adalah bukti bahwa selama Palestina dinaungi oleh negara Islam, tak ada satu kekuatan pun yang berani merampasnya.

Wallahu A'lam bissawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image