Mengenal Titik Kritis Keripik Kaca.

Image
Azmatul Alyaa
Eduaksi | Thursday, 03 Mar 2022, 22:13 WIB

Keripik kaca merupakan keripik singkong yang diiris sangat tipis. Sehingga penampakannya seperti kaca, tembus pandang. Kripik kaca juga sering disebut dengan kripik beling atau beledag.

Keripik yang berasal dari daerah sunda ini sangat digandrungi di tengah masyarakat saat ini. Bahkan menurut survey yang dilakukan oleh telunjuk.com, keripik ini merupakan yang paling laris penjualannya di pasar daring.

Lalu bagaimana status kehalalannya?

Secara umum, bahan yang digunakan untuk membuat kripik ini masuk ke dalam daftar positive list halal atau daftar bahan tidak kritis. Namun, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian terkait titik kritis kehalalan keripik kaca ini.

Bahan utama yang digunakan ialah singkong, singkong tidak masuk dalam bahan kritis, hal ini disebabkan singkong merupakan tumbuhan yang sudah pasti kehalalannya. Hal yang perlu diperhatikan ialah proses pembuatan dari mulai singkong utuh hingga menghasilkan keripik tersebut. Jika dilihat dari bahan dan alat yang digunakan pun sudah aman, karena hanya memerlukan sinar matahari sebagai alat bantu pembuatannya.

Namun, belakangan ini bahan utama yang digunakan juga dapat menggunakan tepung tapioca/tepung singkong. Tepung singkong merupakan kelompok bahan tidak kritis. Hal ini dikarenakan produk yang berasal dari nabati kemudian diolah melalui proses fisik tanpa penambahan bahan atau zat aditif bahan kimia.

Selanjutnya ialah Bumbu, ada 2ua jenis bumbu yang dapat digunakan. Yang pertama perasa alami, dimana bahan yang digunakan ialah bawang putih, bawang merah, cabe, garam, dan gula pasir. Jika dilihat dari bahan yang digunakan dalam pembuatan bumbu alami ini, masuk dalam bahan tidak kritis, namun ada beberapa bahan yang perlu diperhatikan, salah satunya ialah gula pasir. Sebagaimana kita ketahui, gula pasir berassal dari tanaman tebu yang sduah dapat dipastikan kehalalannya. Namun, dalam proses menjadikannya gula pasir, ada proses yang berpeluang menggunakan bahan tambahan dekolorisasi, yang mana dapat berasal dari tulang hewan, dan inilah yang menjadi focus perhatian dalam memilih bahan tersebut.

Selain itu, bumbu juga dapat menggunakan perasa sintetis. Ada juga keripik kaca yang menggunakan perasa sintesis ini, dan tidak ada salahnya jika si produsen sudah menggunakan bahan dari yang halal pula. Meskipun tidak mengandung bahan yang haram, penggunaan yang berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan seseorang yang mengkonsumsinya.

Terakhir yang harus menjadi perhatian penting pula ialah penggunaan minyak goreng dalam proses pembuatannya. Ingatkah kasus beberapa bulan yang lalu, terdapat beberapa produk yang ditahan sertifikasi jaminan halalnya, dikarenakan sumber minyak goreng yang digunaakan tidak jelas. Dalam proses nya seluruh tahapan yang dilakukan haruslah sesuai dengan ajaran islam dan terhindar dari syubhat yang ada. Allahu’alamu Bishowab.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Sosialisasi Peran Perangkat Daerah dalam Melakukan Pengawasan Orang Asing

Image

Percepatan Pemanfaatan Data Sistem Penanganan Perkara Terpadu Berbasis Teknologi Informasi (SPPT-TI)

Image

Meriah! Sebanyak 3.000 Peserta Akan Menghadiri Muktamar XIV Nasyiatul Aisyiyah

Image

Pimpinan Tinggi Pratama Kemenkumham Jateng Paparkan Hasil Rapat Koordinasi

Image

Kepala Rutan Temanggung Ikuti arahan Menkumham lewat Kakanwil Kemenkumham Jateng

Image

Rutan Temanggung Ikuti Penguatan Manajemen Resiko Kemenkumham Jateng di Kanim Wonosobo

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image