Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Deffy Ruspiyandy

Sarapan, Bukti Cinta Seorang Ibu Penuh Makna

Gaya Hidup | Tuesday, 22 Feb 2022, 05:44 WIB

Sarapan terkadang hanya dianggap sebuah rutinitas harian saja. Tetapi sesungguhnya hal itu memilki nilai yang penuh makna karena mampu mendekatkan diri seorang ibu dengan anak-anaknya penuh kasih sayang. Bukan sekedar memberikan nutrisi demi pertumbuhan dan kesehatan semata, namun semua itu akan berlangsung secara sempurna terlebih didasari rasa cinta yang tiada terbatas.

Seorang anak sedang sarapan yang telah disediakan sang ibu (FOTO : Amin Madani/Republika.co.id

Seorang ibu di pagi hari buta akan selalu berjuang demi menyediakan sarapan bagi anak-anaknya. Tidak sekedar memasak apa saja yang tersedia di dalam kulkas. Namun dalam pagi buta pun terkadang rela ke pasar untuk menyenangkan anak-anaknya dan bisa memacu selera makan pagi anak-anaknya. Tak mengherankan jika seorang ibu dengan curahan cintanya akan memasak seenak dan senikmat mungkin agar dimakan oleh anak-anaknya.

Betapa pentingnya sarapan itu maka menjadikan seorang ibu mengutamakan hal ini dan harus dilakukannya setiap hari. Malah terkadang banyak para ibu yang berpikir keras menyediakan menu masakan beragam yang menggugah selera makan anaknya. Adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai jika seorang ibu berhasil menyediakan sarapan yang disenangi oleh anak-anaknya. Saat yang bersamaan seorang ibu menjadi koki sekaligus sebagai motivator bagi anak-anaknya yang menerangkan jika sarapan pagi itu banyak manfaatnya bagi kehidupan mereka.

Menurut Dr. dr. I Gusti Lanang Sidiartha Sp.A (K), seorang ahli gizi di Bali yang melakukan penelitian di sebuah SD Gianyar seperti dilansir www.fimela.com menjelaskan jika hasil penelitiannya yang berjudul “"Kebiasaan Sarapan Pagi dan Performa Akademis Pada Anak" dapat diambil kesimpulan jika efek positif dari sarapan bernutrisi pada anak berperan dalam kemampuan kognitif, tingkah laku, dan prestasi di sekolah. Kinerja kognitif ini terutama dalam hal daya ingat dan kemampuan memperhatikan pelajaran di kelas.

Jika demikian adanya, seorang ibu yang setiap pagi berjuang menyediakan sarapan untuk anak-anaknya ternyata tidak sekedar membuat perut anak-anaknya kenyang saja. Namun lebih dari itu apa yang dilakukannya adalah sebuah proses membuat anak-anaknya untuk siap memulai kehidupan pada hari itu. Setidaknya bagi mereka yang hendak sekolah adalah menyiapkan anak-anaknya untuk bisa menerima ilmu pengetahuan yang diajarkan gurunya karena kondisi fisik dan otaknya yang siap dengan keadaan itu. Dengan begitu anak-anak yang siap belajar tak mengherankan jika kemudian mampu menghasilkan prestasi yang membanggakan orangtuanya.

Menyediakan sarapan adalah wujud cinta seorang ibu yang penuh makna. Jadi seyogyanya bagi seorang ibu yang melakukan hal ini perlu membuang rasa malas, menggerutu atau marah-marah. Karena jika sesuatu yang dilakukan tanpa ketulusan dan tidak dibarengi kerelaan mengerjakannya sama saja dengan melakukan semua itu tanpa cinta. Benar jika sarapan itu bisa dinikmati dan mengenyangkan tapi di balik itu ada penanaman nilai-nilai negatif kepada anak-anaknya walaupun tak terlihat. Bisa jadi apa yang dilakukan oleh seorang ibu dengan kondisi seperti itu takkan menghasilkan apa-apa. Jadi apa yang dilakukan ternyata sia-sia saja.

Karenanya nikmatilah pekerjaan menyediakan sarapan bagi anak-anak. Cinta memang tak terbatas, dan dengan menyediakan sarapan sebaik mungkin merupakan bagian cinta yang terpisahkan dari cintanya seorang ibu kepada anak-anaknya. Dengan menikmati pekerjaan itu secara baik tentu saja akan membuat seorang ibu merasakan kebahagiaan yang tak terhingga dan mampu menikmati apa yang dia kerjakan kendati perjuangannya dirasakan cukup berat.

Sarapan pagi sendiri adalah ruang bagi seorang ibu untuk bisa berkomunikasi dengan anak-anaknya. Dalam suasana enak menikmati hidangan seorang ibu bisa memperhatikan kebutuhan anak-anaknya serta membagi cinta kepada seluruh anaknya. Jika kondisi ini terciptakan secara baik maka akan membentuk kebiasaan anak menghadapi pagi dengan penuh keceriaan. Seorang ibu yang baik adalah ibu yang bukan saja menyediakan sarapan yang enak dan nikmat saja, tetapi lebih dari itu ia mampu mendorong anak-anaknya untuk selalu berjuang menjadi yang terbaik pada hari itu di sekolahnya.

Memamg tak salah jika seorang ibu untuk bisa menciptakan kondisi sarapan yang disukai dan bisa dinikmati anak-anaknnya, tak mengehrankan jika banyak diantara mereka justeru berburu resep masakan agar mampu menghadirkan masakan yang enak dan nikmat bagi anak-anaknya. Memang hal ini adalah sebuah keharusan terkait selera makan. Akantetapi itu terkait persoalan fisik anak-anak, namun yang lebih penting adalah dalam sarapan pagi itu bisa menciptakan sebuah keakraban yang tercipta atas perjuangan dari seorang ibu yang tak ingin melewatkan paginya agar bisa mendapatkan pahala karena mampu membuat kebahagiaan bagi orang-orang yang dicintainya.

Tentu saja hal ini adalah kesempatan emas bagi seorang ibu untuk membuktikan cintanya saat waktu sarapan tiba. Di sanalah seorang ibu benar-benar mendapatkan makna yang tak terhingga bahwa kedekatan dirinya dengan anak-anaknya terlihat begitu indah. Sarapan pagi bisa menjadi quality time yang mungkin bisa diciptakan kecuali saat pandemi seperti sekarang mereka semua bisa bertemu karena semua ada di rumah. Namun di kala normal nanti tiba, maka kindisi ini jelas memiliki makna yang mampu mendorong siapapun merasakan kebahagiaan setelah melakukan hal itu.

Dengan begitu, menyediakan sarapan sepertinya hal yang biasa rutin dilakukan. Namun di balik semua itu ternyata menyimpan makna yang sangat mendalam. Setiap hari sering membuat sarapan maka selama itu pula tertanam rasa cinta yang kuat diantara ibu dan anak-anaknya.***

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image