Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Habibah Mustofa

Dosa atau Kebahagiaan Duniawi? Cerpen Datangnya dan Perginya karya A.A. Navis

Sastra | 2025-05-28 07:03:21

Cerpen Datangnya dan Perginya karya A.A. Navis adalah sebuah karya sastra yang kaya akan lapisan makna, menggali dilema moral yang mendalam antara dosa masa lalu dan kebahagiaan duniawi. A.A Navis menghadirkan kisah yang memaksa para pembaca untuk merenungi pilihan sulit antara kebenaran yang menyakitkan dan kebahagiaan yang rapuh.Dosa dalam cerpen ini diwujudkan melalui perjalanan batin ayah Masri, tokoh utama yang hidup dengan bayang-bayang kesalahan masa lalu. Ia pernah mengusir Iyah, istrinya, dan menikah lagi, sebuah tindakan yang tidak hanya memutus ikatan keluarga, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi anaknya, Masri. Keputusan ini menjadi sumber penyesalan yang menghantui ayah, terutama setelah ia berubah menjadi pribadi yang taat beragama dan sadar akan dosa-dosanya.Namun, puncak konflik dosa muncul ketika ayah mengetahui rahasia keluarga yang tragis: Masri, anaknya, menikah dengan Arni, yang ternyata adalah saudara kandungnya. Rahasia ini diungkap oleh Iyah, yang memilih menyimpan kebenaran demi melindungi kebahagiaan anak-anaknya. Dosa ayah, yang berawal dari pengusiran Iyah, kini berlipat ganda dengan implikasi yang tidak pernah ia bayangkan: pernikahan terlarang antara anak-anaknya.Di sisi lain, kebahagiaan duniawi dalam cerpen ini diwakili oleh kehidupan Masri dan Arni, yang tampak bahagia dalam pernikahan mereka. Mereka hidup sederhana, saling mencintai, dan tidak menyimpan dendam terhadap masa lalu. Namun, kebahagiaan ini dibangun di atas ketidaktahuan akan fakta bahwa mereka adalah saudara kandung. Penulis dengan cerdik menempatkan kebahagiaan ini sebagai sesuatu yang rapuh, sebuah ilusi yang dapat runtuh jika kebenaran terungkap. Iyah, sebagai ibu, memilih untuk tidak mengungkap rahasia ini, menyadari bahwa kebenaran akan menghancurkan kebahagiaan anak-anaknya. Keputusan ini mencerminkan dilema moral: apakah kebahagiaan duniawi yang dibangun di atas ketidaktahuan lebih berharga daripada kebenaran yang menyakitkan?Di sisi lain lagi, ayah Masri juga dihadapkan pada pilihan serupa. Ketika mengetahui kebenaran, ia memilih untuk pergi tanpa mengungkap rahasia tersebut kepada Masri dan Arni. Tindakan ini menunjukkan pengorbanan ayah demi menjaga kebahagiaan duniawi anak-anaknya, meskipun ia sendiri harus menanggung beban dosa dan rahasia tersebut hingga akhir hayatnya. Penulis seolah mengajak pembaca untuk bertanya: apakah kebahagiaan yang semu ini layak dipertahankan, atau apakah kebenaran, meskipun menyakitkan, adalah jalan yang lebih mulia?

Sumber foto: pexels.com 
Sumber foto: pexels.com

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image