Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhamad Fathul Bari

Di Antara Ribuan Ilusi

Ekspresi | 2025-04-03 00:47:36
Foto : Muhamad Fathul Bari

Hidup ini penuh dengan ilusi. Kita sering kali terjebak dalam bayangan kebahagiaan yang semu, kesuksesan yang menipu, dan kenyataan yang tak lebih dari fatamorgana. Dunia terus berputar, tetapi kita tersesat dalam persepsi yang diciptakan oleh ambisi, ekspektasi, dan perbandingan yang tiada henti.

Kita diajarkan bahwa kebahagiaan terletak pada harta, jabatan, atau pengakuan orang lain. Kita berlari tanpa henti, mengejar sesuatu yang seolah-olah menjanjikan kepuasan, namun semakin dekat kita, semakin jauh rasanya. Ilusi ini membutakan, membuat kita lupa bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi pada bagaimana kita menghargai apa yang ada.

Media sosial telah mengubah cara kita melihat dunia. Kita disuguhi potongan-potongan kehidupan orang lain yang tampak sempurna—senyuman bahagia, pencapaian besar, perjalanan indah. Namun, di balik semua itu, ada kesedihan yang tak terlihat, ada perjuangan yang tak pernah diceritakan. Kita iri pada kebahagiaan orang lain tanpa menyadari bahwa mereka pun mungkin sedang iri pada kehidupan kita. Sebuah lingkaran tanpa akhir yang membuat kita merasa tidak pernah cukup.

Lalu, bagaimana kita bisa membedakan antara ilusi dan kenyataan? Jawabannya ada pada kesadaran diri. Kita harus berani bertanya: Apakah yang kita kejar benar-benar sesuatu yang kita inginkan, atau hanya sekadar mengikuti arus? Apakah kebahagiaan kita berasal dari hati, atau hanya pantulan dari ekspektasi orang lain?

Menyadari bahwa dunia dipenuhi ilusi bukan berarti kita harus kehilangan harapan. Justru, inilah kesempatan untuk bangkit, untuk mulai hidup dengan lebih jujur pada diri sendiri. Tidak ada salahnya bermimpi, tetapi jangan biarkan mimpi itu menipu. Kita harus berani menerima kenyataan, sekecil apa pun itu, dan menemukannya sebagai sumber kebahagiaan yang sejati.

Di antara ribuan ilusi yang mengelilingi kita, hanya hati yang jujur yang mampu melihat kebenaran. Kita tidak perlu menjadi seperti orang lain untuk merasa cukup. Kita hanya perlu menjadi diri sendiri, sepenuhnya, tanpa ilusi, tanpa kepalsuan. Sebab, pada akhirnya, hanya dengan menerima diri sendiri, kita bisa benar-benar hidup.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image