Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhamad Fathul Bari

Lebaran: Antara Euforia dan Kehilangan yang Terpendam

Litera | 2025-04-01 01:31:44
Foto : Muhamad Fathul Bari

Gema takbir berkumandang di seluruh penjuru negeri. Langit malam dihiasi cahaya kembang api, jalanan dipenuhi wajah-wajah ceria, dan rumah-rumah bersinar dengan kebahagiaan keluarga yang kembali berkumpul. Namun, tidak semua hati bersuka cita. Bagi sebagian orang, Lebaran bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang kehilangan, tekanan, dan luka-luka lama yang kembali terbuka.


Di balik perayaan yang meriah, ada yang hanya bisa menatap kosong kursi yang kini tak lagi ditempati oleh orang terkasih. Ada yang harus menahan air mata di balik senyum dipaksakan, karena tahu bahwa kehangatan yang dulu ada telah pergi bersama waktu. Mereka yang kehilangan orang tua, saudara, atau pasangan hidup harus menghadapi hari raya dengan kekosongan yang menggigit hati.


Lebaran juga menjadi momen yang menguak luka lama. Kewajiban untuk pulang kampung sering kali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menghadirkan kebersamaan.

Namun, di sisi lain, ia juga memunculkan kembali konflik-konflik keluarga yang belum terselesaikan. Percakapan-percakapan di meja makan bisa berubah menjadi pengingat pahit akan masa lalu. Pertanyaan-pertanyaan tentang pekerjaan, pernikahan, dan pencapaian hidup sering kali menjadi tekanan bagi mereka yang masih berjuang.


Bagi mereka yang berjuang dalam kesulitan ekonomi, Lebaran justru menjadi beban. Tuntutan sosial untuk menyediakan hidangan terbaik, membeli pakaian baru, atau memberikan angpao bagi keponakan dan saudara jauh menjadi tekanan tersendiri. Tidak sedikit yang harus meminjam uang demi menjaga gengsi, meski di dalam hati mereka merasa tercekik.


Lebaran seharusnya menjadi momentum kemenangan, perayaan bagi jiwa-jiwa yang telah melewati ujian Ramadhan. Namun, kemenangan itu tidak selalu terasa bagi semua orang. Sebagian harus berjuang lebih keras, menelan kepahitan dengan senyuman, dan menghadapi kenyataan bahwa tidak semua luka bisa sembuh hanya dengan gema takbir.


Di tengah kegembiraan yang melimpah, mungkin kita perlu lebih peka. Tidak semua orang memiliki alasan untuk tertawa. Ada baiknya kita merangkul mereka yang merasa sendirian, menguatkan mereka yang kehilangan, dan memberi ruang bagi mereka yang masih berjuang. Sebab, di balik kemeriahan Lebaran, ada hati-hati yang diam-diam menangis dalam sunyi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image