Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Admin Eviyanti

Mengapa Mereka Ingin Pergi dari Indonesia?

Politik | 2025-02-20 19:53:19

Oleh Aas K

Aktivis Muslimah

Belakangan ini, tagar #KaburAjaDulu ramai berseliweran di media sosial, terutama di platform X (sebelumnya Twitter). Dikutip oleh media online CNN Indonesia.com, pada hari Jumat (7-2-2025), tagar ini berisi curhatan netizen Indonesia yang ingin pindah ke luar negeri karena berbagai alasan, mulai dari tekanan ekonomi, ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah, hingga sekadar mencari kehidupan yang lebih layak. Fenomena ini pun memicu diskusi luas apakah ini sekadar tren, atau justru cerminan dari keresahan masyarakat Indonesia saat ini?

Tagar #KaburAjaDulu bukan sekadar keluhan spontan, melainkan didasarkan pada berbagai faktor yang membuat orang merasa sulit untuk berkembang di dalam negeri. Salah satu penyebab utama adalah ketidakstabilan ekonomi. Biaya hidup yang makin tinggi, lapangan pekerjaan yang terbatas, serta gaji yang tidak sebanding dengan kebutuhan hidup membuat banyak orang merasa terjebak dalam pekerjaan.

Di tengah sulitnya mencari pekerjaan yang layak, banyak orang akhirnya mendapatkan kesepakatan dengan perjanjian kerja di luar negeri dengan gaji yang lebih tinggi di negara maju. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari fenomena brain drain yang menjadi isu krusial dalam konteks globalisasi/liberalisasi ekonomi yang makin menguat, dan makin memperlebar kesenjangan antara negara maju dan berkembang, menciptakan ketidakadilan dalam akses terhadap sumber daya dan kesempatan.

Hal ini menggambarkan kegagalan kebijakan politik ekonomi dalam negeri memberikan kehidupan sejahtera. Sistem kapitalis yang dijadikan sebagai asas negeri ini adalah akar masalah kondisi ini. Kesenjangan ekonomi tidak saja terjadi di dalam negeri ini. Namun, di tingkat dunia antara negara berkembang dan negara maju.

Kasus seperti ini menunjukkan betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan di sistem kapitalis, sampai-sampai orang rela mengambil risiko besar hanya untuk kesempatan bekerja di luar negeri.

Selain faktor ekonomi, kondisi sosial dan politik juga turut berperan dalam keinginan masyarakat untuk “kabur” ke luar negeri.

Berbeda dengan sistem Islam, yang mewajibkan negara membangun kesejahteraan rakyat, dan mewajibkan negara memenuhi kebutuhan asasi setiap warga negara individu per indvidu. Karena itu Daulah Islam menjadi pihak yang bertanggung jawab menyediakan lapangan pekerjaan, apalagi ada perintah bagi setiap laki-laki baligh wajib mencari nafkah. Tentu saja kewajiban ini perlu dukungan dari negara dalam bentuk lapangan pekerjaan. Adapun kesempatan bekerja di dalam Daulah Islam terbuka sangat luas semisal dari sektor ekonomi rill saja, ada bidang pertanian, perdagangan, industri, dan jasa. Belum lagi pengelolaan SDA secara syar'i oleh Daulah, pasti membutuhkan tenaga ahli dan terampil dalam jumlah yang banyak.

Daulah Islam juga bisa menerapkan syariat tanah iqtha ihyaul mawat dan jenisnya. Adanya jaminan lapangan pekerjaan bagi warga negara Islam, tidak membuat mereka harus kabur ke negara lain hanya demi mendapatkan kesempatan bekerja lebih baik. Selain itu strategi pendidikan Daulah Islam juga menjamin warga negara mendapat pendidikan yang layak dan berkualitas, pasalnya pendidikan dalam Islam dipandang sebagai kebutuhan dasar publik yang wajib diberikan oleh negara secara mutlak. Pendidikan harus diberikan secara gratis tanpa mengurangi kualitasnya.

Tujuan pendidikan Islam adalah mencetak generasi yang memiliki kepribadian islam di mana pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) mereka berdasarkan Islam. Namun, mereka juga dicetak menjadi orang-orang berilmu yang memiliki sense al-qhadiyah al-mashiriyah atau peka terhadap problematika utama umat, sehingga orang pintar dan berbakat dalam Daulah Islam menjadi garda terdepan yang siap membangun negara dan negara juga peduli dan menjamin kehidupan mereka sebagai warga negara.

Tegaknya Daulah Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam dan mewujudkan dunia yang adil dan sejahtera.

Wallahualam bissawab

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image