Waspada Brain Rot!
Info Terkini | 2025-01-08 15:07:45Konten receh ternyata berbahaya. Oxford University di Inggris menerbitkan satu kata penting di tahun 2024 lalu. Untuk dimasukkan dalam entry kamus Oxford. Saya kutip dari website resminya, bahwa Brain Rot adalah:
“the supposed deterioration of a person’s mental or intellectual state, especially viewed as the result of overconsumption of material (now particularly online content) considered to be trivial or unchallenging. Also: something characterized as likely to lead to such deterioration”
Terjemahannya adalah sebagai berikut:
"Proses memburuknya kondisi mental atau intelektual seseorang, terutama yang dianggap sebagai akibat dari konsumsi berlebihan materi (kini terutama konten daring) yang dianggap remeh (receh) atau tidak menantang (baca: tidak mendorong pada suatu pencapaian apapun). Juga: sesuatu yang dikategorikan sebagai hal yang dapat menyebabkan penurunan tersebut."
Kata kunci penting dalam definisi di atas adalah 'deterioration'. Istilah tersebut, saya rasa dapat ditarik jauh dalam kajian oleh Henry David Thoreau dalam Walden; or Life in the Woods. Boston: Ticknor and Fields, 1854 yang ditulisnya dalam konteks ekologi yang semakin memburuk. Tentu istilah ini akhirnya digunakan kembali untuk menggambarkan proses di atas.
Setelah 'dilaunching' oleh Oxford (yang sebenarnya telah mulai dinominasikan sejak 2023), selanjutnya bermunculan banyak tulisan populer mengkaji hal tersebut. Mayoritas dari tulisan yang terbit, menyarankan kita agar mewaspadai media sosial - khususnya dengan konten yang pendek dan receh, dalam hal ini tidak berkontribusi pada wawasan maupun peningkatan diri.
Padahal, riset tentang ini sudah cukup banyak beredar. Apabila kita browsing di Google Scholar dengan kata kunci 'Brain Rot', sudah dapat kita temukan dengan mudah kajian tentang hal tersebut. Khususnya, yang dikaitkan dengan fenomena 'media baru' seperti televisi.
Baik menuliskan 'brain' dan 'rot' sebagai satu suku kata, maupun dipisahkan. Contohnya adalah kajian oleh Matthew Gentzkow dan Jesse M. Shapiro. "Does television rot your brain? New evidence from the Coleman study." yang terbit tahun 2006 dalam website National Buerau of Economic Research (https://www.nber.org/papers/w12021)
Setahun sebelumnya, kajian serupa ditulis oleh Susan Lever berjudul "Television After TV: Essays on a Medium in Transition." terbit di tahun 2005 dalam Australasian Journal of American Studies, Vol. 24, No. 2 hlm. 112-114. Kajian ini menyoroti tayangan televisi yang sedemikian massif di lingkungan keluarga.
Lebih lawas lagi, kajian oleh Penelope J. Haile dan Anneliese Payne. "Book Review: More Than a Tool?, Failure to Connect: How Computers Affect Our Children's Minds–For Better and Worse." tahun 2001 dalam Journal of Educational Computing Research hlm. 93-97. Kajian tersebut menegaskan bahwa perkembangan komputer, cukup dapat dirasakan dampaknya pada kemampuan kognitif anak yang menghabiskan waktu dengan teknologi tersebut. Apalagi, dengan konsumsi game yang berlebihan.
Selain tiga di atas, tentunya masih banyak lagi penelitian serupa. Tentunya dengan indikator dan parameter yang berbeda. Termasuk juga kata kunci yang terkait, seperti: a) media addiction, b) media dependency, maupun masalah lainnya seperti penurunan kemampuan kognitif (demensia) atau lainnya.
Saran yang cukup baik, dituliskan dalam website forbes.com yang terbit 6 Desember 2024 lalu. Ada 4 yang utama, yakni:
1. Melakukan kurasi atas konten digital yang ditonton, serta mengusahakan 'diet' dalam menonton.
2. Menggunakan media digital secara 'higienis', dalam hal ini hanya gunakan media digital untuk produktivitas saja.
3. Mengerjakan aktivitas analog untuk mental. Yakni aktivitas 'nyata' seperti hobi, kegiatan 'ritual sosial' di dunia nyata, serta lainnya.
4. 'Fitnes' kemampuan kognitif dengan 'latihan otak'. Yakni membaca, menganalisa, refleksi, diskusi, serta permainan yang mengaktifkan fungsi kognitif.
Saya rasa, berbagai saran tersebut tidak jauh dari saran yang dituliskan oleh berbagai media. Yang menarik, bahwa segala hal tersebut sudah ada di masyarakat kita. Yakni masyarakat Nusantara. Sebagai negara yang mengakomodir agama sebagai hal yang terintegrasi dengan tatanan sosial, nampaknya kita tidak kekurangan sarana dalam mengatasi Brain Rot sebagaimana yang ditakutkan oleh masyarakat Barat yang memiliki kecenderungan untuk privasi yang kadang berlebihan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
