Band Feast : Sebagai Suara Perlawanan Politik
Politik | 2025-01-05 22:08:52Feast adalah band asal Indonesia yang berhasil mencuri perhatian publik dengan musik yang penuh kritik sosial dan politik. Grup musik yang dibentuk pada tahun 2012 ini beranggotakan Baskara Putra sebagai (vokalis), Adnan sebagai (gitaris), Dicky Renanda sebagai (gitaris), Fadli Fikriawan sebagai (bassist), dan Adrianus Aristo Haryo sebagai (drummer). Band ini termasuk dalam genre musik rock alternatif yang dipadukan dengan elemen-elemen elektronik, Feast tidak hanya menawarkan bunyi-bunyian yang segar, tetapi juga lirik yang memiliki makna.
Politik yang ada didalam Musik Feast
Feast banyak dikenal karena lirik-liriknya yang sering kali menyuarakan keresahan terhadap isu-isu yang mengandung unsur sosial dan politik. Lagu-lagu mereka menjadi medium untuk menyampaikan kritik terhadap sosial, ketidakadilan, hingga isu lingkungan. Salah satu contohnya adalah lagu “Peradaban” yang menjadi anthem perlawanan generasi muda terhadap dominasi kekuasaan dan korupsi. Dalam lagu ini, Feast menyuarakan semangat perubahan, mengajak pendengar untuk tidak diam terhadap ketidakadilan.
Pada tahun 2017 Feast secara terang-terangan membahas berbagai isu krusial di Indonesia, seperti eksploitasi sumber daya alam, pembangunan yang tidak berpihak pada rakyat kecil, dan dampak kapitalisme. Lagu yang berjudul “Kami Belum Tentu” mengangkat dilema masyarakat kecil yang sering menjadi korban pembangunan, sementara “Berita Kehilangan” menggambarkan kehilangan keadilan di tengah masyarakat yang semakin apatis.
Sikap Feast Terhadap Isu Terkini
Tidak hanya dalam industri musik, Feast juga aktif mengomentari isu-isu politik terkini melalui media sosial dan wawancara. Baskara Putra, yang juga dikenal lewat proyek solonya Hindia, sering kali mengekspresikan pandangan yang kritis terhadap kebijakan pemerintah yang ia anggap tidak berpihak pada rakyat.
Sebagai contoh, Feast juga pernah terlibat dalam kampanye kesadaran lingkungan terkait dampaknya terhadap masyarakat adat di Indonesia. Mereka juga tidak jarang menyinggung isu HAM, seperti kebebasan berekspresi dan perlakuan terhadap minoritas. Sikap ini menunjukkan bahwa Feast bukan sekadar band penghibur, tetapi juga agen perubahan yang berani mengambil risiko demi menyuarakan kebenaran.
Kesimpulan
Feast adalah bukti nyata bahwa musik dapat menjadi medium untuk menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan. Dengan lirik yang penuh kritik dan keberanian menyuarakan opini, Feast berhasil mengukuhkan diri sebagai salah satu band Indonesia yang paling vokal dalam isu politik dan sosial. Bagi Feast, musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga panggilan untuk bertindak dan berjuang demi perubahan.
Penulis : Ryan Fathurrahman ( Mahasiswa S1 Fakultas Hukum )
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
