Membangun PTM Tetap Berkualitas dari Rumah, Bisakah?

Image
Hery Wibowo
Eduaksi | Saturday, 12 Feb 2022, 17:08 WIB

Semangat dari proses pembelajaran adalah proses penyampaian materi sebaik mungkin kepada warga belajar. Maka ketika proses belajar harus terpisahkan oleh ruang dan jarak, maka sedapat mungkin unsur-unsur yang biasa disampaikan di kelas tatap muka, ditransformasikan dengan beragam cara. Sehingga tidak akan terlalu banyak “learning loss” ataupun kehilangan kesempatan belajar dari situasi yang ada.

Kecanggihan teknologi memang telah sangat membantu para pengajar untuk tetap menyampaikan proses pembelajarannya. Maka, seyogianya perkembangan “kecanggihan’ para pengajar dalam menyampaikan materi juga harus terus berkembang. Beragam kreativitas, pemikiran konstruktif dan aksi inovatif perlu terus dikembangkan untuk membersamai kecepatan perkembangan teknologi informasi.

Berikut rumusan konsep dasar pelatihan andragogi, yang penulis nukil dari bahan pelatihan Training of Trainer Bandung Consulting Group, yaitu RAMP2FAME.

R berarti Review. Untuk menjaga ketercapaian tujuan pembelajaran, tentunya review perlu selalu dilakukan, baik diawal, ditengah ataupun di akhir penyampaian materi. Upaya untuk menggairahkan kelas, dapat dibangun dengan mengkreasi beragam cara untuk mereview, misalnya melalui video (youtube) atau melalui poster (instagram) dll, yang memang merupakan dunia permainan (world of game) dari generasi masa kini.

A berarti Appropriatness. Appropriatness bermakna kesesuaian. Jelas ini merupakan tantangan tersendiri, yaitu bagaimana para pengajar mengajar dari jarak jauh, namun harus tetap tidak keluar jalur. Artinya tetap berusaha di rel yang tepat

M berarti Motivation. PJJ dapat menjadi menyenangkan ketika para pengajar sekuat tenaga mencari cara untuk membangun motivasi. Salah satu hal-hal sederhana untuk meningkatkan motivasi adalah bermain games, dengan mengoptimalkan beragam aplikasi online, sehingga terjalin keakraban dan tertawa bersama.

P berate Primacy, yaitu menarik di awal. Buatlah di awal pertemuan, sesuatu yang menarik, sekaligus menyenangkan. Sehingga para pembelajar akan segera dapat menangkap “kesan pertama yang menyenangkan’ dari seluruh rangkaian rencana pembelajaran.

2 berarti 2 way communication. Walaupun terpisah jarak dan hanya dapat menatap layer, bangunlah komunikasi dua arah sesering mungkin. Tindakan ini juga akan mendorong konsentrasi para pembelajar untuk terus terpertahankan. Artinya, pengajar berusaha membangun percakapan, tanya jawab, brainstorming dan sebagainya, sehingga komunikasi yang terbangun tidak satu arah. Melalui ini kita juga dapat mendengarkan aspirasi dari pembelajar

F berarti Feedback. Umpan balik, ataupun usaha untuk memantau lebih jauh perkembangan pemahaman warga belajar, dapat selalu dilakukan. Baik pada saat pembelajaran berlangsung, misalnya setiap setengah jam sekali dalam setiap pertemuan, ataupun di awal pekan sekali, menjelang pertemuan. Hal ini dilakukan untuk memantau perkembangan pemahaman warga belajar, dan tidak harus selalu dilakukan dengan serius, dan dibangun suasana kreatif dan menyenangkan ketika melakukan ini

A berarti Active Learning. Nah, inilah tantangan utama bagi para pengajar yang mengajar jarak jauh dan menggunakan instrument teknologi informasi tertentu. Untuk membangun partisipasi aktif dari warga belajar, jelas para pengajarnya wajib membangun skenario khusus dan sejumlah rencana cadangan (back-up plan). Misalnya, tidak harus seluruh pertemuan dibangun sinkronus (real time), namun sebagian dapat dibangun melalui video (sehingga bisa disaksikan anytime, anywhere)

M berarti Multisense Learning. Berbasis orientasi daya tangkap pelajaran yaitu Visual, Auditory atau Kinestetic, maka proses belajar jarak jauh dapat dibangun sedemikian rupa sehingga memaksa pembelajara mengoptimalkan seluruh alat indranya. Misalnya penugasan pembelajar ke lapangan lalu dan merekam perjalanan tersebut dalam video.

E berarti Exercise. Terakhir, bangunlah latihan-latihan untuk meningkatkan kualitas pemahaman dan peningkatan kompetensi pembelajar, seperti layaknya dalam kelas tatap muka. Latihan-latihan dapat dirancang dengan penuh variasi agar tidak membosankan dan tetap menyenangkan.

Maka, inilah era dimana pengajar wajib mengeluarkan pemikiran terbaik, untuk merancang proses pembelajaran yang paling kreatif dan inovatif, untuk mengatasi ketidakpastian situasi dimana belajar terkadang harus daring, dan tidak selalu luring.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Menebak-nebak Rambut Putih Pak Jokowi, Menggiring atau Memancing?

Image

Unisa Yogyakarta Tandatangani Kerjasama dengan Pemkab Kapuas Hulu

Image

Pariwisata Religi Solo-Magetan, Akulturasi Budaya Islam-Jawa

Image

Cyberbullying Pengaruhi Kesenjangan Sosial Masyarakat

Image

IMM Insan Kamil UMP Resmikan Pojok Baca

Image

21 Tahun Berikhtiar, YBM BRILiaN Kembali Raih Penghargaan Indonesia Fundraising Award 2022

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image