Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jauza Najwa Jihan Saputri

Menggandeng Kecerdasan Buatan, Revolusi Prostetik melalui Jaringan Saraf Tiruan

Riset dan Teknologi | Friday, 21 Jun 2024, 18:58 WIB

Di era digital yang serba canggih ini, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah membuka pintu menuju terobosan baru dalam bidang medis. Salah satu cabang yang menjanjikan adalah penerapan jaringan saraf tiruan (Artificial Neural Networks/ANN) dalam pengembangan prostetik. Teknologi prostetik terbaru memanfaatkan kecerdasan buatan dan jaringan saraf tiruan untuk menciptakan prostetik pintar yang adaptif dan sensitif terhadap gerakan pengguna. Inovasi ini menghadirkan kontrol yang lebih baik, meningkatkan kenyamanan, dan membuka potensi baru untuk meningkatkan kualitas hidup bagi pengguna prostetik.

(Sumber: iStock)

Menciptakan Otak Buatan untuk Prostetik

Jaringan saraf tiruan adalah model komputasi yang terinspirasi oleh struktur dan fungsi sistem saraf biologis. Mirip seperti otak manusia, ANN terdiri dari jutaan unit pemrosesan yang saling terhubung dan mampu belajar dari data yang diberikan. Dengan kemampuan untuk mengenali pola kompleks dan mengambil keputusan, ANN menawarkan solusi yang powerful dalam membangun prostetik yang dapat merespons rangsangan eksternal dengan cara yang mirip dengan anggota tubuh asli.

Menerjemahkan Sinyal Saraf menjadi Perintah Gerak Tantangan utama dalam pengembangan prostetik adalah menciptakan antarmuka yang dapat menerjemahkan sinyal saraf dari tubuh ke perangkat buatan dengan presisi tinggi. Jaringan saraf tiruan menawarkan solusi yang ampuh dengan kemampuannya untuk mempelajari dan menginterpretasikan pola kompleks dari sinyal saraf. Dengan menggunakan elektroda yang ditanamkan, sinyal saraf dari saraf yang tersisa dapat direkam dan diproses oleh ANN, yang kemudian menerjemahkannya menjadi perintah gerak yang dapat dikenali oleh prostetik.

Melampaui Keterbatasan Manusia Dengan kemajuan dalam teknologi AI dan jaringan saraf tiruan, masa depan prostetik terlihat sangat menjanjikan. Prostetik generasi baru dapat mencapai tingkat responsivitas dan kinerja yang bahkan melampaui kemampuan anggota tubuh asli manusia. Pasien dapat mengontrol prostetik dengan pikiran mereka, merasakan sensasi sentuhan yang lebih tajam, dan bergerak dengan cara yang lebih presisi dan efisien. Selain itu, penggunaan bahan canggih seperti polimer dan nanopartikel dapat membuat prostetik lebih ringan, kuat, dan nyaman digunakan.

(Sumber: iStock)

Menjembatani Kesenjangan antara Manusia dan Mesin

Meskipun potensi teknologi ini sangat menjanjikan, masih terdapat tantangan yang harus diatasi. Masalah privasi dan keamanan data menjadi pertimbangan utama, terutama dalam konteks sinyal saraf yang sensitif. Selain itu, terdapat pertanyaan etis tentang sejauh mana teknologi ini dapat memodifikasi tubuh manusia dan implikasi jangka panjangnya. Diperlukan diskusi yang mendalam dan pedoman yang jelas untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi ini tetap berada di jalur yang aman dan etis, serta menjembatani kesenjangan antara manusia dan mesin dengan cara yang bertanggung jawab.

Dengan menggandeng kecerdasan buatan melalui jaringan saraf tiruan, kita berada di ambang revolusi dalam bidang prostetik. Teknologi ini membuka pintu menuju anggota tubuh buatan yang responsif dan intuitif, memungkinkan penyandang disabilitas untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar seperti manusia normal. Meskipun tantangan masih ada, potensi untuk meningkatkan kualitas hidup tidak dapat diabaikan. Dengan terus mendorong inovasi dan mempertimbangkan implikasi etis, kita dapat mengubah masa depan prostetik dan membawa harapan baru bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image