Sejarah Konflik Perang Palestina dengan Israel Serta Dampak Psikologis
Politik | 2023-12-09 07:28:19
Perang antara Palestina dan Israel terjadi, perang terbaru terjadi sejak 7 oktober Hamas menyerang Israel. Namun, sebenarnya konflik antara Palestina dan Israel terjadi jauh sebelum serangan Hamas pada tanggal 7 oktober, Israel membalas menyerang melalui udara. Bertubi - tubi balasan udara dari Israel ke Palestina. Israel meluncurkan roket yang ledakannya hampir setara dengan ledakan bom nagasaki – hiroshima. Ledakan roket yang diluncurkan Israel mencapai hingga 12,000 tons yang terjatuh per km2.
Menurut Palestinian Central Bureau of Statistic (PCBS), sampai hari ke-48 perang, yakni 23 November 2023 jumlah total korban jiwa palestina mencapai 15.082 orang sementara 38.850 orang yang terluka akibat dari kekejaman Israel. Israel sendiri mencatat terdapat 1000 perwira dan tentara terluka, selain itu terdapat 203 orang yang diyakini ditangkap oleh Hamas dan di bawa ke Gaza. Data resmi Israel tidak menyebutkan jumlah total tentara yang tewas sejauh ini.
Namun sebenarnya, bagaimana konflik bisa terjadi? Berikut rangkuman sejarah dan bagaimana kronologi.
Awal mula konflik
Jauh sebelum israel berdiri di Timur tengah, kaum Yahudi selalu saja mempunyai keinginan yang kuat untuk menduduki tanah Palestina. Dengan berbagai rencana, misalnya pada tanggal 2 November 1917, pada saat itu Menteri Luar Negri Inggris, Athur Balfour, menuliskan sebuah surat untuk Lionel Walter Rothschaild, seorang tokoh komunis Yahudi Inggris. Surat tersebut hanya berisi 67 kata namun isinya sanggat memberi dampak kepada rakyat Palestina hingga saat ini.
Surat itu berisi perintah Inggris untuk “ mendirikan rumah nasional bagi orang - orang Yahudi di Palestina ” dan memfasilitasi “ pencapaian tujuan ini ’’. Surat itu dikenal sebagai Deklarasi Balfour. Kekuatan Eropa menjanjikan gerakan Zionis sebuah negara di wilayah yang 90% penduduknya adalah orang Arab Palestina asli. Selama priode tersebut, Inggris memberikan fasilitas kepada migrasi massal orang Yahudi, yang mana terjadi peningkatan kedatangan yang cukup tinggi pasca gerakan Nazi di Eropa. Dalam peningkatan ini, mereka mendapat perlawanan dari warga Palestina. Para warga Palestina khawatir dengan adanya perubahan demoksrasi negara mereka dan penyitaan tanah mereka oleh Inggris yang mana akan diberikan kepada pemukiman Yahudi. Meningkatnya kekerasan.
Pada April 1936, Komite Nasional Arab yang baru dibentuk untuk menyuruh warga Palestina untuk melakukan pemogokan umum, di mana mereka melakukan penahanan pembayaran pajak dan memboikot produk-produk Yahudi untuk memprotes kolonialisme Inggris dan meningkatnya migrasi Yahudi.
Pemogokan itu terjadi selama enam bulan tersebut ditindas secara brutal oleh Inggris, yang mana mereka melancarkan kampanye penangkapan massal dan melakukan penghancuran rumah- rumah warga Palestina. Karena hal itu Israel terus menerapkan hingga saat ini kepada warga Palestina.
Pada akhir tahun 1937 terjadilah pemberontakan yang kedua. Yang dipimpin oleh gerakan perlawanan petani Palestina, yang di targetkan untuk kekuatan Inggris dan kolonialisme.
Pada tahun 1939 Inggris mengerahkan 30.000 tentara di Palestina untuk melakukan pengeboman di desa-desa melalui udara, diberlakukannya jam malam, rumah-rumah warga dihancurkan, penahanan administratif serta melakukan pembunuhan massal. Inggris juga melakukan kolaborasi dengan komunitas pemukiman Yahudi untuk membentuk kelompok bersenjata dan pasukan kontra pemberontakan yang berisi para pejuang Yahudi bernama Pasukan Malam Khusus yang dipimpin Inggris. Dalam tiga tahun pemberontakan itu sebanyak 5.000 warga Palestina yang terbunuh, 15.000 hingga 20.000 orang yang terluka dan 5.600 orang menjadi tawanan.
Pada 1947, PBB melakukan Resolosi 181, yang berisi pemberitahuan tentang pembagian Palestina menjadi negara-negara Arab dan Yahudi. Dimana Palestina menolak rencana itu karena dalam rencana itu menyuruh warga Palestina untuk memberikan 56% wilayah mereka kepada Yahudi.
Sebelum Mandat Kekuasaan Inggris berakhir pada 14 Mei 1948, para militer Israel telah memulai oprasi milIter dengan menghancurkan kota-kota dan desa-desa Palestina untuk memperluas perbatasan Israel yang akan berdiri. Pada saat itu lebih dari 100 pria, wanita dan anak-anak Palestina yang dibunuh yang berada di desa Yassin di pinggiran Yerusalem. Dari tahun 1947 sampai 1949, lebih dari 500 desa, kota kecil dan besar orang Palestina menyebut itu sebagai Nakba atau bencana.
Diperkirakan sekitar 15.000 warga Palestina yang terbunuh termasuk dengan puluhan pembantaian, dari insiden ini membuat Gerakan Zionis menguasai 78% wilayah bersejarah Palestina dan sisanya 22% menjadi wilayah yang saat ini menjadi Tepi Barat yang ditempati dan Jalur Gaza yang terkepung. Sekitar 750.000 warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka, saat ini mereka hidup sebagai 6 juta pengungsi di 58 kamp pengungsian yang berada di seluruh Palestina dan juga yang berada di negara-negara tetangga seperti Lebanon, Suriah, Yordania dan Mesir.
Desember 1948, majelis umum PBB mengeluarkan resolusi 194 hak untuk kembali bagi pengungsi Palestina. Sebanyak 150.00 warga Palestina yang tinggal di Israel. Mereka hidup dikontrol ketat selama 20 tahun sebelum akhirnya mereka diberikan kewarganegaraan Israel.
Intifada atau perlawanan Palestina pertama kali dijalur Gaza pada Desember 1987. Empat warga Palestina tewas ketika sebuah truk Israel menabrak dengan dua van yang membawa pekerja Palestina. Hal ini menyebar dengan sangat cepat di tepi barat, pemuda Palestina banyak melemparkan batu ke tank dan tentara Israel. Aksi ini mencakup pembunuhan mendadak, penutupan Universitas, dan penghancuran rumah, yang dilakukan oleh tentara Israel.
Menurut organisasi hak asasi manusia Israel B’Tselem, sebanyak 1.070 warga Palestina dibunuh termasuk anak anak. 175.000 warga Palestina ditangkap oleh pasukan Israel selama intifada.
Intifada berakhir dengan penandatangan perjanjian oslo pada tahun 1993 dan pembentukan otoritas palestina(PA). Perjanjian ini berisi memberikan Israel 60% tepi barat,dan sebagian besar sumber daya tanah dan air di wilayah tersebut. Pada perjanjian ini 110.000 pemukiman Yahudi tinggal ditepi barat. Saat ini jumlahnya 700.000 orang lebih dari 100.000 hektar tanah yang diambil alih dari Palestina.
Intifada kedua pada 28 september 2000, ribuan pasukan dikerahkan di dalam dan sekitar Kota Yerusalem. Pengunjuk rasa Palestina dan tentara Israel menewaskan 5 warga Palestina dan melukai 200 orang dalam 2 hari. Israel menyebabkan kerusakan yang belum pernah terjadi di Palestina seperti kerusakan infrastruktur dan perekonomian Palestina. Israel mulai membangun pondasi tembok pemisah, menghancurkan mata pencaharian, dan komunitas warga Palestina.
Serangan Israel ke Gaza
Israel sudah melancarkan empat serangan militer berkepanjangan pada Gaza yaitu pada tahun 2008, 2012, 2014, 2021. Sudah banyak ribuan warga Palestina yang terbunuh, termasuk pada anak anak, sekolah, ribuan rumah, dan gedung perkantoran yang sudah hancur.
Pembangunan di Gaza sangat mustahil untuk dilakukan karena terjadinya pengepungan yang menghalangi material kontruksi seperti semen dan baja. Pada tahun 2014, dalam waktu 50 hari Israel sudah membunuh warga Palestina sebanyak 2.100, termasuk 1.462 warga sipil dan 500 anak-anak. Sekitar 11.000 warga Palestina terluka, 20.000 rumah hancur dan setengah juta orang mengungsi.
Tanah Kanaan
Sementara itu, penyebab lain dari terjadinya peperangan adanya asal usul dari Tanah Kanaan. Tanah Kanaan merupakan sebuah negara kuno yang memiliki wilayah yang lebar dan luas, meliputi negara Lebanon, Yordania, Suriah dan Palestina termasuk didalamnya jalur Gaza.
Britannica mendefinisikannya sebagai wilayah Levant atau Syam. Alkitab sendiri meyebutkan “tanah perjanjian yang diberikan Allah kepada Abraham dan keturunannya.
Dampak Psikologis dari Konflik Palestina dan Israel
Anak-anak di Palestina mengalami hidup yang penuh dengan duka, kehilangan keluarga membuat harapan hidup mereka rendah. Konflik yang terjadi memiliki dampak negatif dari segi psikologis warga Palestina, seperti kecemasan, gelisah, kehilangan, rasa tidak aman dan trauma yang mendalam. Penyebab mereka mengalami trauma karena sering mendengar suara pesawat tempur, bom dan melihat secara langsung penembakan dari tentara Israel. Orang tua dari anak-anak Palestina mencoba untuk mengatasi rasa trauma anak mereka dengan cara tertawa disaat mendengar pesawat tempur yang melewati rumah mereka.
Perjuangan anak-anak Palestina dalam kondisi ini sangat berat, mereka harus menghadapi tantangan yang tidak dialami oleh anak-anak seusia mereka. Disaat anak-anak diusia mereka yang seharusnya hanya fokus bermain dan belajar. Seperti akses yang terbatas terhadap pendidikan, fasilitas kesehatan yang tidak memadai, dan ketidakpastian kehidupan sehari-hari. Mereka sering kali mengalami tekanan sosial dan tekanan psikologis yang intens. Perjuangan ini dapat menghambat perkembangan psikologis mereka dan meningkatkan resiko gangguan depresi dan stres pasca trauma.
Penulis
Julia rahmayani, Yulia catursari, Winny Wirdiyanti
Sumber
Mengenal Sejarah Konflik Israel-Palestina, Ini Awal Mulanya. (2023, Oktober 23). Retrieved from CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com/news/20231023064808-4-482722/mengenalsejarah-konflik-israel-palestina-ini-awal-mulanya
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
