Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kamaruddin

Pemprov DKI Pugar Makam Sultan Alaidin, Tokoh Muda : Tak Ada Peran Pemprov Aceh

Sejarah | 2022-01-03 01:55:16
Pengurus Besar Kaum Alaidin Kesultanan Aceh Darussalam mengadakan acara maulid Nabi Muhammad SAW dan FGD membahas tentang kesultanan Aceh di Warkop kawasan Peurada, Banda Aceh | Foto : Dok. Pri

Banda Aceh - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memugar makam Sultan Muhammad Alaidin Daud Syah yang merupakan sultan terakhir Aceh di tempat pemakaman umum Utan Kayu, Rawamangun, Jakarta Timur.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan meresmikan pemugaran, Senin, 13 Desember 2021. Pemprov DKI juga memugar tujuh makam keluarga Sultan Muhammad Alaidin Daud Syah. Pemugaran makam-makam tersebut menghabiskan dana Rp2,1 miliar dan dikerjakan sejak Oktober 2021.

Menanggapi hal itu, Tokoh Muda Alaidin, Tuanku Muhammad, menyebutkan terkait pemugaran yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jakarta yang menghabiskan anggaran sebesar Rp2,1 miliar, dirinya sangat menyayangkan tidak adanya peran Pemerintah Aceh.

"Kita sangat sayangkan, tidak ada peran Pemerintah Aceh, baik dari sisi anggaran maupun yang mengusulkan. Ini murni inisiatif Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan," kata Tuanku Muhammad kepada wartawan usai acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh Pengurus Besar Kaum Alaidin Kesultanan Aceh Darussalam di Lambada Kupi, Banda Aceh, Minggu 2 Januari 2021

Tuanku Muhammad menyampaikan Anies Baswedan tergerak hati untuk memugar makam leluhur Aceh itu berawal dari buku yang dibacanya tentang Tokoh Aceh yang berada di Jakarta. Sehingga Anies mencari makam tersebut, lalu di pugar.

"Pasca ada keinginan itu, kami dihubungi oleh Pemprov DKI menanyakan ahli waris. Kami menunjukkan anggota keluarga di Jakarta untuk berkomunikasi dengan Pemprov DKI," ujar Tuanku Muhammad yang juga Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh.

Hal yang sama juga disampaikan Tokoh Muda Alaidin lainnya, Tuanku Badral Maruzi, menegaskan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sangat menjunjung tinggi Sultan Aceh. Sedangkan Pemerintah Aceh terkesan tidak menghargai.

"Saya kecewa dengan Pemerintah Aceh. Makam sultan sendiri aja dipugar oleh daerah lain. Dimana marwah Aceh sekarang, kita sudah kehilangan marwah itu. Ini krisis sejarah yang sangat berbahaya, kakek kita memperjuangkan sejarah. Sedangkan kita membuang," ungkap Badral.

Untuk diketahui, Sultan Muhammad Alaidin Daud Syah lahir pada 1871. Beliau diangkat sebagai Sultan Aceh di Masjid Indrapuri pada 1878.

Sultan Muhammad Alaidin Daud Syah menentang Belanda yang saat itu telah menguasai wilayah Kutaraja. Beliau disebut merobek draf damai karena tidak mengakui kekuasaan Belanda.

Akhirnya, Belanda mengasingkan Sultan Muhammad Alaidin Daud Syah dari Aceh pada 1907. Beliau meninggal sebagai tawanan Belanda di Batavia (Jakarta) pada 6 Februari 1939 dan dimakamkan di Rawamangun.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image