Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tri Anna Rindi Astuti

Menolak Standar Kecantikan : Membangun Citra Tubuh pada Remaja

Eduaksi | 2023-06-28 20:19:20
ilustrasi standar kecantikan foto by pexels

"Yang cantik tuh harus kayak kulit putih,hidung macung,body langsing,bibir kecil,rambut lurus,muka bersih engga jerawatan,glowing dan yang terakhir hatinya itu baik tapi kalo masalah hati itu urusan terakhir yang penting engga malu-maluin kalo dibawa ajak jalan-jalan."

Apa kalian kaum wanita pernah mendengar perkataan tersebut??

Ya ,pernyataan tersebut sering sekali diucapkan oleh kaum manusia yang merasa dirinya paling sempurna 100 persen,tidak hanya laki-laki saja yang dapat mengucapkan hal tersebut,wanita pun juga bisa mengucapkan hal tersebut.untuk di zaman sekarang ini sangatlah sedikit kita mendengar adanya kaum wanita dengan slogan woman support woman,apalagi di zaman yang semakin canggih akan era digital ini kita dapat melihat di platfrom media digital adanya komentar-komentar pedas dari netizen-netizen yang tidak kita kenal hanya karena melihat satu foto lalu netizen tersebut meluncurkan aksinya dengan tulisan yang tidak memikirkan perasaan orang lain.

Lalu apakah yang mengungkapkan tentang standar kecantikan itu mempunyai hati dan pikiran? Tentu saja tidak, jika orang tersebut mempunyai hati tidak mungkin dia akan mengungkapkan hal tersebut.

Lalu apakah yang mengungkapkan tentang standar kecantikan itu merasa dirinya paling baik? Oouh tentu, ia merasa dirinya paling sempurna karena kecantikannya ia bisa mendapatkan apapun yang ia mau atau yang disebut di zaman sekarang ialah beuty privilege,yaah orang tersebut sedang menunjukkan kesombongannya kepada orang lain,tetapi seseorang yang menunjukkan kesombongannya itu ialah orang yang bodoh.

Padahal,yang kita ketahui,bahwa kita hidup di indonesia adalah negara yang multikultural dan heterogen yang di dalamnya hidup berbagai macam suku,agama,adat istiadat,golongan,tak terkecuali etnis dan ras. Jadi wajar saja kalau kita itu berbeda-beda,perempuan-perempuanindonesia ini terlahir tidak hanya dengan kulit puyih,body langsing,rambut lurus. Tetapi juga ada yang terlahir dengan warna kulit sawo matang,kuning langsat,rambut keriting,hidung pesek body gendut ataupun kurus. Kita hidup dengan banyaknya keanekaragaman jadi wajar saja kalau kita itu berbeda-beda.

Dalam era yang didominasi akan adanya media digital ini para remaja pasti banyak sekali memiliki media sosial yang mungkin lebih dari satu akun saja.Banyak remaja menggunakan media sosial hanya untuk hiburan,mengupload kegiatan yang mereka lakukan,meluapkan keluh kesah mereka jika tidak bisa bercerita dengan orang lain dan juga banyak hal lain yang mereka lakukan. Tetapi ada juga yang menggunakan media sosial sebagai ujaran kebenciannya kepada orang lain salah satunya yaitu mengenai standar kecantikan yang berada di indonesia. Ketikan netizendi media sosial sangatlah pedas karena ia hanya melihat dari sebuah foto tanpa tahu perasaannya dan langsung membuat kesimpulan yang jelek.

Di zaman yang sekarang ini banyak remaja yang mengalami stress karena ingin memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis ini.Lalu kenapa remaja bisa stress karena standar kecantikan? ya karena adanya pemikiran sempit dari orang-orang tentang standar kecantikan jadi banyak remaja yang ingin berubah dan ingin diakui oleh orang lain.Tahap emosi perkembangan emosi remaja masih sangatlah labil jadi wajar saja jika para remaja ingin diakui oleh orang lain.

Standar kecantikan yang diperlihatkan media seringkali tidak mencerminkan keragaman tubuh yang sebenarnya. Remaja, terutama perempuan,merasa terjebak dalam presepsi yang sempit tentang bagaimana tubuh yang "seharusnya" terlihat. Mereka merasa tidak puas dengan penampilan mereka sendiri dan membandingkan diri merekan dengan citra yang tidak realistis yang ditampilkan oleh selebriti dan model.

Namun saatnya kita harus mengubah pola pikiran sempit ini dan menolak nya tentang standar kecantikan dan kita harus membangun citra positif yang sehat bagi remaja. Kita harus menyadarkan orang yang berpikir sempit akan adanya standar kecantikan,bahwa setiap remaja memiliki kecantika yang unik dan indah dengan caranya sendiri.

Menolak standar kecantikan berarti menghargai keberagaman tubuh dan menempatkan kepentingan kesehatan fisik dan mental diatas tuntutan kecantikan yang tidak realistis sekarang ini. Remaja harus diberdayakan untuk merayakan keunikan mereka dan memperlakukan tubuh mereka dengan penuh kasih sayang.

Pendidikan tentang citra tubuh yang sehat dan positif harus dimulai dari lngkungan disekitar kita dan keluarga.lingkungan dan keluarga harus saling mendukung agar para remaja memahamibahwa kecantikan sejati itu datang dari rasa percaya diri dan kebahagiaan yang berasal dari dalam. Penting bagi kita mengajarkan mereka tentang pola hidup yang sehat,olahraga yang menyenangkan dan pentingnya merawat tubuh dengan cinta dan perhatian kegiatan tersebut dapat menghindari stress di kalangan remaja akan standar kecantikan yang sedang beredar ini.

Selain itu,media dan industri kecantikan perlu bertanggung jawab dalam mengubah paradigma yang ada. Mereka harus medorong keberagaman tubuh dalam kampanye iklan mereka dan menghentikan penggunaan retus yang berlebihan. Menggambarkan berbagai ukuran,bentuk,dan warna kulit akan membantu remaja merasa diterima dan menghancurkan presepsi tentang "tubuh yang sempurna."

Dan upaya untuk membangun citra tubuh yang sehat dan positif,penting menciptakan ruang lingkup yang aman di media sosial,influencer dan conten creator harus ikut mengedukasi para remaja tentang penerimaan diri,cinta tubh,dan menawarkan aspirasi yang positif. Mereka dapat menghasilkan konten yang mempromosikan kecantikan yang alami dan sehat,dan juga meghilangkan tekanan untuk menjadi "Sempurna" dalam hal kecantikan.

Menolak standar kecantikan yang sempit adalah langkah penting untuk membangun citra tubuh yang sehat dan positif bagi remaja. Remaja perlu dorongan untuk mencintai dan merawat tubuh mereka,menghargai keberagaman,dan menemukan keindahan dan keunikan pada diri mereka. Dengan kita mendukung remaja dalam hal menolak standar kecantikan yang tidak realistis ini,kita dapat memberikan ruang lingkup yang tumbuh dan berkembang dengan percaya diri

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image