Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Risna Afrianis

Fatherless Indonesia Peringkat 3 Dunia, Apa Dampaknya Bagi Tumbuh Kembang Anak Muda?

Parenting | 2023-06-24 15:59:37
Waktunya Ayah Mengasuh
Waktunya Ayah Mengasuh

Pengasuhan dan penanganan yang baik dari kedua orang tua menghasilkan anak dengan kepribadian yang kuat. Ketika salah satu figurnya hilang maka akan muncul ketimpangan dalam perkembangan psikologisnya. Kesehatan mental,pengendalian stress,dan pertahanan diri akan sulit dilakukan oleh anak yang kehilangan salah satu peran orang tuanya. Itulah yang akhirnya menjadikan berita akhir-akhir ini penuh tentang penganiayaan, perselingkuhan,pembulian,LGBTQ,dll. Maka dari itu,mari kita ulik sebenarnya seberapa pentingnya peran ayah terhadap tumbuh kembang anak pada generasi ini.

Fatherless adalah kondisi dimana ketiadaan sosok ayah dalam proses pengasuhan,kita tidak berbicara secara fisik saja melainkan juga psikologis. Artinya anak-anak yatim pun juga anak-anak lain yang masih memiliki ayah tetapi tidak memiliki hubungan dekat dengan ayahnya masuk dalam kategori ini. Menurut data dari Global Fatherless Children,Indonesia menempati urutan ke-3 negara yang mengalami fatherless terbesar di dunia. Tentu ini fenomena yang sangat ironi.

Semua ini tidak terlepas dari budaya yang masih begitu melekat dalam banyak rumah tangga di Indonesia bahwa membesarkan anak adalah tanggung jawab ibu saja. Patriarki yang diinterpretasi bahwa laki-laki lebih tinggi derajatnya dibanding wanita,tidak pantas untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga turut menjadi faktor yang mendominasi. Sistem ini pula yang membungkam ibu dan anak-anaknya untuk berpendapat,tidak ada kebebasan berfikiran di dalamnya. Selalu hanya ada keputusan ayah di dalam suatu masalah. Hanya pendapatnya dan tak terbantah. Inilah yang akhirnya merenggangkan hubungan antar keduanya. Ayah dianggap bukan tempat yang nyaman untuk menuang cerita apalagi bertukar pikiran.

Sebuah penelitian longitudinal pada siswa kelas 4 Sekolah Dasar menemukan adanya tingkat agresi yang lebih tinggi pada anak laki-laki yang hanya tinggal dengan ibu. Keberadaan dan kesetiaan ayah untuk tidak berbagi dengan anak dari ibu yang lain, akan memberikan well-being pada diri anak yang berujung pada kesehatannya. Tingkat depresi ayah berhubungan dengan ekspresi berbahasa anak saat usia 2 tahun, dan daya baca anak atau perkembangan bahasanya. Artinya kehadiran ayah sangat berdampak terhadap tumbuh kembangnya baik secara akademik maupun emosional. Dampak yang dirasakan ketika sosok itu menghilang ialah masalah gangguan kecemasan,rendah diri,perasaan marah,depresi, penggunaan obat-obatan terlarang,terlibat tindakan kriminal, dan penyimpangan orientasi seksual pada anak. Ini terjadi karena anak kehilangan sosok yang memberikan batasan tegas dan contoh dari perilaku yang baik,adanya kebingungan identitas dan peran gender yang seharusnya ditiru oleh anak,akhirnya ia mencari-cari jalan untuk mengisi kekosongan tersebut secara mandiri.

“Waktunya Ayah Mengasuh”. Fatherless di Indonesia ada,bahkan sangat banyak kasusnya namun seperti sengaja diabaikan. Atau bahkan si anak sendiri tidak menyadari bahwa perilaku negatifnya selama ini adalah dampak dari fatherless tadi. Tentu ini ibarat bom waktu,karena pengaruhnya bukan hanya ketika ia masih kanak-kanak tapi akan terbawa hingga ia dewasa yang akhirnya hanya akan membuat lingkaran siklus fatherless itu akan terulang lagi. Maka dari itu dalam pernikahan dan juga menjalani rumah tangga kita harus memiliki bekal yang cukup bukan hanya secara finansial,tetapi juga ilmu dan kesiapan emosional. Karena kita bisa berubah agar menjadi orang tua yang bagaimana,tetapi anak tidak bisa memilih akan dilahirkan dari orang tua yang seperti apa. Dengan demikian, ketika ayah dapat bertanggung jawab secara menyeluruh untuk berbagi tugas mengasuh anak bersama dengan ibu, dalam menjalankan peran dan keterlibatan pengasuhan, maka kebersamaan yang dicapai dengan anak merupakan salah satu cara mendekatkan diri sekaligus menanamkan nilai-nilai pendidikan kehidupan yang ingin dicapa. Sehingga anak akan mengikuti dan meniru tindakan dan ucapan orangtua, bukan hanya perintah yang bersifat satu arah semata.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image