Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syakila Liulinnuha

Mengapa Konsumsi Hiburan Genre Kriminal Sangat Diminati?

Lainnnya | Sunday, 11 Jun 2023, 22:59 WIB
Cuplikan Series Reacher (2022) / Prime Video

Bagaimana perasaan Anda ketika mendengar, membaca, atau melihat suatu tindak kriminal? Normalnya seseorang akan merasa takut dan bertanya tanya bagaimana seseorang dapat bertindak kejam kepada sesama. Hal tersebut dapat terlihat ketika berita tindak kriminal disebarluaskan. Melalui televisi, media sosial, surat kabar, kita dapat melihat beragam respons dari masyarakat seperti perasaan takut, sedih, khawatir, bahkan marah. Kolom komentar media sosial dipenuhi doa untuk korban, kalimat duka bagi keluarga dan orang terdekat, serta sumpah serapah pada pelaku kriminal yang bersangkutan.

Fakta bahwa berita tindak kriminal mendapat respons publik yang berempati, hal ini justru berkebalikan dengan konsumsi hiburan genre kriminal yang cukup diminati publik. Konsumsi hiburan yang dimaksud dapat berupa cerita fiksi, film, drama, maupun podcast. Dari cerita fiksi bacaan, kita mungkin sudah familiar dengan tokoh detektif fiksi seperti Sherlock Holmes, Auguste Dupin, Hercule Poirot, dan Conan. Kemudian beberapa waktu terakhir tayangan genre kriminal dalam bentuk series pun semakin banyak diproduksi. Sebut saja Tokyo Voice (2022), Reacher (2022), The Staircase (2022) yang dapat Anda tonton di platform HBO dan Prime Video. Tidak hanya itu, Netflix bahkan merilis beberapa dokumenter kriminal seperti The Ripper dan In the Name of God: A Holy Betrayal yang rilis pada 3 Maret lalu. Lantas, apa sebenarnya alasan kita menyukai konsumsi hiburan genre kriminal?

1. Memacu Adrenalin

Menurut Dr. Scott Bonn, seorang profesor dan kriminolog, daya tarik acara kekerasan dan pembunuhan berkaitan dengan sentakan adrenalin. Pada saat kita menonton tayangan kriminal, sadar maupun tidak sadar akan muncul perasaan takut dan cemas. Secara alami tubuh akan mendeteksi bahwa kita sedang dalam keadaan “bahaya” sehingga mendorong pengeluaran hormon adrenalin sebagai bentuk pertahanan diri. Hormon adrenalin inilah yang dapat menantang kita untuk terus berada pada situasi tersebut. Ketika kita berhasil menuntaskan sebuah tantangan, tidak jarang akan muncul keinginan baru untuk melakukan tantangan yang lebih ekstrem dari sebelumnya. Memacu adrenalin dengan menonton tayangan kriminal juga tidak memerlukan banyak usaha sebab kita hanya duduk dengan nyaman.

2. Perasaan Lega Tidak Menjadi Salah Satu Pelaku Maupun Korban

Seorang psikiater di New York, Dr. Sharon Packer, dalam wawancaranya bersama Decider mengatakan, “Ada perasaan lega bahwa bukan Anda yang melakukannya.” Ia melanjutkan bahwa kita semua pernah marah pada seseorang, bahkan beberapa dari kita juga mengatakan ‘Saya akan membunuh mereka’ tetapi pada kenyataannya hampir tidak benar-benar dilakukan. Kemudian ketika menonton tayangan kriminal, secara alami kita akan merasa bersyukur bahwa kita tidak menjadi pelaku kriminal seperti dalam film. Perasaan lega tersebut meyakinkan kita bahwa pribadi kita tidak seburuk itu, bahwa kita mampu mengontrol emosi dengan baik sehingga tidak sampai mencelakai orang lain.

Lebih lanjut lagi, Dr. Sharon Packer menanggapi asumsi terkait munculnya perasaan lega karena kita bukan merupakan salah satu korbannya. “Hal tersebut tidak berarti kita adalah pribadi yang sadis, tetapi jika hal buruk harus terjadi pada seseorang, setidaknya bukan kita yang harus merasakannya.” Pada dasarnya hal tersebut kembali pada upaya kita dalam mempertahankan keselamatan diri kita sendiri untuk jangka waktu yang panjang.

3. Melatih Diri Ketika Berada dalam Situasi Serupa

Sadar maupun tidak sadar, konsumsi hiburan genre kriminal dapat memberi wawasan terkait kasus tindak kriminal. Kita dapat menyelami lebih dalam bagaimana sisi gelap umat manusia dan latar belakangnya menjadi sesuatu yang tidak mampu dikendalikan. Di lain sisi, kita dapat memposisikan diri sebagai korban. Satu per satu pertanyaan muncul, “Apa sesuatu yang harus saya lakukan?”, “Bagaimana mencari jalan keluarnya?”, atau “Mengapa saya harus mengalami nasib buruk ini?”

Sebuah studi tahun 2010 oleh University of Illinois (Vicary dan Fraley, 2010) menunjukkan bahwa kisah kriminal terutama kisah nyata sangat populer di kalangan wanita. Di samping itu, studi lain juga mengatakan bahwa wanita lebih takut menjadi korban tindak kriminal. Ketakutan tersebut kembali pada anggapan masyarakat bahwa wanita adalah sosok yang lemah dan perlu dijaga, yang justru menjadi pertimbangan pelaku tindak kriminal untuk menjadikan mereka korban.

Sebagian besar wanita berupaya meredakan rasa takut mereka dengan mendengarkan podcast dan menonton tayangan kriminal. Mereka meyakini sedikit banyak akan menemukan pelajaran atas kejadian nyata dan memberi perhatian pada hal-hal tertentu. Belajar kriminal sejatinya menarik naluri bertahan hidup kita untuk mempersiapkan ancaman yang mungkin terjadi di kemudian hari.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image