Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ruang Dakwah Medis Indonesia

Cara Pencegahan dan Mengobati penyakit Ain pada Anak

Agama | Wednesday, 31 May 2023, 07:29 WIB

Solo – D idunia ini tujuan manusia hidup berbagai macam variasi, ada yang bertujuan hanya dunia saja, ada yang bertujuan untuk akhirat saja dan ada yang bertujuan untuk dunia dan akhirat. Yang dimaksud bertujuan untuk dunia saja adalah manusia hidup bertujuan untuk mencari harta sebanyak – banyaknya yang tujuannya untuk kebutuhan sehari – hari, dipamerkan dan ada yang untuk menimbun kekayaan supaya lebih banyak. Sedangkan untuk akhirat saja adalah bahwa manusia hidup didunia hanya fokus untuk kehidupan bekal diakhirat atau kehidupan setelah mati. Sedangkan yang hidup bertujuan untuk dunia dan akhirat adalah manusia hidup bertujuan untuk kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Baik dunia dan akhirat dilakukan secara seimbang, meskipun pada kenyataannya banyak menghabiskan waktu dunia daripada akhirat.

Dosen Spesialis Medikal Bedah Prima Trisna Aji ketika mengisi kultum di masjid/Foto : Dokpri

Mayoritas hal yang dilakukan manusia ketika memiliki kenikmatan dunia adalah melakukan pamer ke dunia sosial yang bertujuan ada yang ingin berbagi kebahagiaan dengan sesama dan ada yang ingin menunjukkan bahwa saya memiliki harta yang banyak sekali. Ketika kita mendapatkan kebahagiaan baru dengan istri yang baru hamil dan melahirkan kita langsung memamerkan disosial media, tidak hanya sekali tetapi berulang ulang.

Kadang dari jutaan orang yang melihat didunia maya tidak semuanya orang akan suka dengan kita, ada yang orang melihat iri dan mendoakan yang jelek, ada yang ikut bahagia, ada yang takjub dan ada juga yang cuek. Hal yang paling berbahaya adalah penyakit ain ketika seseorang atau orang lain melihat kebahagiaan kita disosial media. Penyakit Ain merupakan penyakit yang muncul baik secara fisik ataupun secara lahiriah atau jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata dari orang lain yang melihat dengan dengki ataupun takjub. Sehingga hal ini akan dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena penyakit ain tersebut.

Karena penyakit ain maka seseorang akan mengalami sakit yang tidak biasa sehingga hidupnya tidak akan normal dan ada penurunan dari segi fisik dan dari segi kejiwaan. Dari Ummu Salamah menceritakan bahwa : Nabi Muhammad SAW pernah melihat seseorang budak wanita dirumahnya (Ummu Salamah), wajahnya terlihat kusam dan pucat. Lalu beliau memerintahkan : “Ruqyah wanita ini, karena dia terkena ain” (HR. Bukhari 5739).

Pada anak, terutama yang masih Balita pada penyakit ain bisa menyebabkan dia menangis tidak normal. Aisyah menceritakan, Suatu ketika Nabi SAW masuk ke rumahku. Tiba – tiba Nabi SAW mendengar jeritan bayi nangis dan kemudian beliau bersabda : “Kenapa bayi menangis terus? Mengapa kalian tidak segera meruqyahnya untuk mengobatinya dari penyakit ain”. (HR. Ahmad 24442).

Upaya pencegahan dari penyakit ain adalah : Yang pertama sering mendoakan anak supaya terhindar dari penyakit ain. Jika anak perempuan : U’iidzuki dan jika anak laki – laki U’iidzuka. Aku memohon perlindungan untukmu dengan kalimat – kalimat Allah SWT yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan yang buruk. Kemudian yang kedua apabila memuji fisik anak, doakan keberkahan, contohnya Barakallahu fiik (Semoga Allah memberkahi kamu).

Pencegahan yang ketiga adalah untuk menghindari dandaanan yang menor pada anak, sehingga membuatnya semakin menggemaskan ketika dipandang. Sumber ain adalah pandangan mata yang takjub atau mata hasad. Kemudian pencegahan yang keempat pesan bagi orang tua untuk menghindari menceritakan semua kelebihan anaknya yang tidak dimiliki anak – anak lain, sehingga mengundang rasa iri yang mendengarnya. Yang ini ketika sampai dia melihat si anak dalam kondisi iri, bisa jadi Allah menakdirkan terjainya pengaruh buruk ain. Pencegahan yang terakhir adalah tidak kalah penting yaitu mengisi ruang dengar dirumah dengan bacaan Al Quran.

Sedangkan untuk pengobatan dari penyakit ain dibagi menjadi dua jenis yaitu penyakit Ain yang diketahui orang yang menjadi penyebab ain dan penyebab yang tidak diketahui penyebab ain.

Untuk pengobatan penyakit ain yang diketahui penyebabnya yaitu yang pertama Mandi dari air bekas wudlu orang yang menyebabkan penyakit ain yaitu sesuai dari Hadist Aisyah Radhiallahu’anha bahwa Dahulu orang yang menjadi penyebab ‘ain diperintahkan untuk berwudlu lalu orang yang terkena ain mandi dari sisa air wudlu tersebut. (HR Abu Daud Nomor 3885, Dishahihkan Al albani dalam silsilah Ash Shahihah nomor 2522). Kemudian pengobatan yang kedua adalah mandi daria ir bekas mandi orang yang menyebabkan penyakit ain. Hadist dari Ibnu Abbas Radhiallahuanhum Nabi SAW bersabda Ain itu benar adanya, andaikan ada perkara yang bisa mendahului takdir, maka itulah ain. Maka jika kalian mandi, gunakanlah air mandinya itu (untuk memandikan orang yang terkena penyakit ain). (HR. Muslim nomor 2188).

Sedangkan cara pengobatan penyakit ain yang tidak diketahui penyebab ain adalah dengan Quryah Syariah. Sebagaimana hadist dari Asma bintu Umais Radhiallahu ‘anha, bahwa ia berkata : Wahai rasulullah SAW, bani Ja’far terkena penyakit ain, bolehkah kami meminta mereka diruqyah? Nabi SAW menjawab : iya boleh. Andaikan ada yang bisa mendahului takdir, itulah ain.

Dosen Spesialis Medikal bedah Prima Trisna Aji menyampaikan bahwa sosial media seperti pedang tajam yang bermata dua. Disatu sisi akan menjadi asbab kebaikan serta kebermanfaatan bagi diri sendiri dan sesama. Tetapi disisi lain bisa melukai diri sendiri dikarenakan dipergunakan hal yang tidak baik seperti pamer, flexing, penipuan dll. *Red

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image