Perawat di Mata Masyarakat
Edukasi | 2023-05-16 22:00:15
Kini waktunya masyarakat menyadari siapakah perawat sebenarnya.
Kebanyakan di mata masyarakat perawat merupakan sosok yang ‘direndahkan’ dan dianggap sebagai ‘pembantu/asisten’ dokter, namun dapat saya katakan persepsi itu salah besar.
Terdengar sangat klise, karena dalam budaya masyarakat dan pandangan mereka telah tertanam dalam benaknya bahwa perawat tugasnya ‘hanyalah’ mendampingi dan mengerjakan apa yang dokter katakan dan perintahkan.
Perawat juga tidak berhak meresepkan suatu obat kepada pasien, ia hanya mencatat apa yang dokter katakan kemudian melakukannya, persis seperti pekerjaan seorang asisten / sekretaris. Dokter juga yang secara langsung menangani pasien untuk mengobati / mengoperasi demi mencapai kesembuhan pasien. Sedangkan perawat hanya membantu dan mendampingi dokter. Bahkan, saya pernah mendengar bahwa perawat merupakan ‘pelayan’ atau ‘pembantu’ yang tugasnya hanya ‘disuruh-suruh’, sehingga saat tidak ada ‘perintah’ maka ia tidak akan bergerak.
Namun, sesungguhnya perawat merupakan suatu profesi yang setara dengan dokter. Begitu ia merawat, ia membutuhkan pengetahuan khusus untuk mencapai kesembuhan yang diinginkan. Keuletan dan kesabaran harus dimilikinya untuk merawat banyaknya orang sakit dengan berbagai masalah yang dibawanya. Catatan-catatan yang ditulisnya memuat segala informasi tentang pasien dengan perkembangannya, yang juga dibutuhkan oleh dokter, petugas kesehatan lain serta perawat itu sendiri untuk menentukan tindakan dan obat apa yang selanjutnya akan diberikan kepada pasien. Ia rela menghabiskan berjam-jam dalam sehari untuk mendampingi dan merawat pasien bahkan konsep caring juga harus ia terapkan dengan memprioritaskan kesehatan pasien daripada dirinya sendiri.
Sebagai petugas kesehatan, perawat juga melakukan pekerjaan yang tidak semua petugas bisa untuk melakukannya. Menemani orang sakit dan mendengarkan segala keluh kesahnya, memberikan nasihat dan menjadi advokat bagi pasien, juga menjadi penghibur untuk tetap kuat dalam masa-masa sulitnya. Terdengar sepele, tetapi hadirnya seseorang yang dapat melaksanakan tugas-tugas kecil tersebut dapat mendukung kesembuhan pasien. Karena kesehatan juga dapat diciptakan dari pikiran yang sehat.
Sebagai buktinya, kita ambil peristiwa Covid-19 kemarin yang banyak memakan korban jiwa dan menggemparkan seluruh dunia hingga semua instansi-instansi kesehatan ‘kewalahan’ dalam menangani para pasien. Semua petugas kesehatan bahkan mahasiswa rumpun kesehatan telah dikerahkan untuk membantu menghadapi situasi itu. Namun, saking banyaknya korban yang berjatuhan setiap harinya membuat para petugas kesehatan tetap saja ‘kewalahan’ dalam menanganinya. Akibatnya, perawat yang tugas utamanya selalu mendampingi pasien kurang termaksimalkan karena banyaknya pasien yang harus dirawat dan adanya kebijakan untuk pasien covid harus diisolasi, membuat pasien lebih terkurung dengan pikirannya sendiri dan tidak bisa menyampaikannya secara leluasa kepada orang lain. Kurangnya interaksi dengan dunia luar dan masukkan untuk pikiran-pikiran sehat, membuat para pasien harus bertarung dengan pikirannya sendiri. Yang pada akhirnya, hanya terdapat dua pilihan kalah atau menang. Jika kalah dengan pikiran sakitnya itu ia akan gugur dalam peperangan melawan sakitnya. Ternyata hal sekecil itu sangat penting dan berpengaruh hingga bisa mengancam nyawa seseorang.
Kemampuan perawat untuk menyesuaikan diri dalam segala keadaan, tidak memandang apakah mereka baik-baik saja ataukah sedang ada masalah besar yang menimpanya, semua akan disisihkannya ketika berhadapan dengan pasien. Karena fokus utama perawat adalah memberikan perawatan dengan sepenuh hati, rasa peduli, perhatian, (caring) dan mempertahankan emosi pasien untuk menciptakan hubungan terapeutik. Ia juga bertanggungjawab penuh atas perawatan sakit hinga sembuhnya pasien. Untuk melakukan semua tugasnya itu, tentunya tidak ‘instan’, harus menempuh beberapa tahapan-tahapan yang cukup panjang terlebih dahulu.
Bukankah juga banyak sekali kampus-kampus ternama yang rumpun kesehatannya memiliki jurusan perawat / keperawatan. Ini merupakan salah satu bukti bahwa perawat merupakan suatu profesi, dimana sebagai suatu profesi haruslah menempuh pendidikan khusus untuk mendapatkan pengetahuan dan latihan khusus agar mampu memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Pendidikan yang ditempuh perawat juga tidak sebentar, perawat membutuhkan 3,5-4 tahun untuk menyelesaikan S1 dan mendapatkan gelar S.Kep. Kemudian, perawat juga harus melanjutkan pendidikan profesi untuk mendapatkan gelar Ners sehingga bisa bekerja di instansi-instansi kesehatan. Jika ingin lebih mendalami bidang ajarnya, perawat bisa mengambil spesialis ataupun S2 serta S3. Dari sini dapat dilihat bahwa perawat juga memiliki pengetahuan yang mumpuni, yang pastinya tidak sembarangan dalam melakukan pekerjaannya. Sehingga masih pantaskah dikatakan seorang ‘pembantu’ dengan pendidikan seperti itu.
Bahan ajar perawat dan dokter juga berbeda, dokter berfokus pada konsep ‘curing’ sedangkan perawat berfokus ‘caring’. Dimana fokus utama dokter adalah ‘mengobati’ penyakitnya agar mencapai kesembuhan, sedangkan perawat adalah ‘merawat’ individu/klien/pasien untuk mencapai kesembuhannya serta ‘memelihara’ kesehatannya. Dari sini, telah terlihat bahwa fokus masalah dari perawat dan dokter telah berbeda. Mereka memiliki perannya masing-masing, dokter yang menyembuhkan penyakit tanpa adanya seseorang yang memelihara dan merawat kesehatan pasien juga tidak akan dapat tercapai kesembuhan.
Namun, sosok perawat masih saja dilihat sesuai pikiran khalayak umum yang masih ‘terpenjara’ dengan pandangannya.
Kita perlu setidaknya memahami dan menghargai perawat sebagai suatu profesi yang setara bukan ‘bawahan’. Persoalan-persoalan yang dihadapi dokter tidak bisa diselesaikan jika perawat tidak mendukung pengobatannnya dengan melakukan perawatan. Selalu diberikan obat tanpa ada yang merawat juga mustahil pasien akan mencapai kesembuhannya.
Dokter tidak bisa berdiri sendiri untuk menghadapi pasien, perawat juga tidak dapat bertanggungjawab sepenuhnya untuk mengobati pasien. Pada akhirnya, dokter dan perawat merupakan dua profesi yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang sama. Menyambut tahun-tahun dengan berbagai kemajuan-kemajuan yang akan datang, membuat kita harus lebih berpikiran luas dan terbuka serta bisa bebas dari kurungan pikiran ‘kuno’. Tidak ada pilihan bagi orang-orang selain membuka mata dan pikiran untuk mulai memandang perawat adalah profesi yang setara dengan dokter.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
