Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fatimah Azzahra

Normalisasi Kekerasan Sampai Kapan?

Gaya Hidup | Thursday, 02 Mar 2023, 12:22 WIB

Kedamaian tidak dapat dijaga dengan kekerasan. - Albert Einstein

Kekerasan kini seolah sudah menjadi hal yang wajar. Di level negara, masyarakat, di lingkungan sekolah hingga keluarga terjerat kasus kekerasan. Padahal, kedamaian tak akan didapat dengan kekerasan sebagaimana yang disampaikan Albert Einstein.

Kasus Kekerasan

Cristalino David Ozora (17 tahun) mengalami cedera otak traumatis parah akibat tendangan Mario Dandy Satrio (20 tahun) yang bertubi-tubi. David mengalami kejang selama dua hari di Rumah Sakit. (republika.co.id, 1/3/2023)

David dianiaya oleh Mario Dandy karena kabar bahwa pacarnya diperlakukan tidak baik oleh David. Terbakar api amarah, Mario pun menganiaya David hingga kritis. Astagfirullah.

Di kota lain, kasus kekerasan terjadi juga. J (14), siswi SMP di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan meninggal usai menjadi korban pemerkosaan beberapa rekannya. Korban tewas saat menjalani perawatan di rumah sakit pada tanggal 17/2/2023. (kompas.com, 21/2/2023)

Masih di bulan Februari, Polsek Pasawahan, Polres Purwakarta amankan lima orang pemuda berstatus pelajar yang melakukan percobaan pencurian dengan kekerasan dan atau penganiayaan. (jurnalpolri.com, 22/2/2023)

Sedihnya, saat ini lingkungan keluarga pun tak lepas dari kasus kekerasan. Berdasarkan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, memasuki trimester awal 2023, Kota Bandung menjadi wilayah dengan jumlah kasus kekerasan tertinggi ketiga di Jawa Barat. Dari total 433 kasus kekerasan yang terjadi di Jawa Barat selama 2023, 399 kasus diantaranya dialami oleh perempuan. (Republika.co.id, 27/2/2023)

Normalisasi Kekerasan

Ada banyak kasus lain yang beredar di kanal berita tentang kekerasan. Ada banyak pula yang memilih untuk tidak melaporkannya. Saking banyaknya kasus kekerasan, kejahatan ini dianggap sesuatu hal yang biasa saja. Bahkan ada yang menganggapnya keren. Sungguh menyayat hati, betapa orang kini ringan melakukan kekerasan tak peduli korban terluka bahkan kehilangan nyawanya.

Sungguh normalisasi Kekerasan ini jadi bukti nyata rusaknya tatanan sistem yang diterapkan. Pertama, gagalnya sistem pendidikan. Fakta bahwa perilaku kekerasan rata-rata terjadi pada anak usia sekolah menjadi tamparan besar bagi sistem pendidikan yang ada. Betapa pendidikan gagal membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Sebagaimana kita ketahui, sistem pendidikan saat ini masih menaruh besar perhatian pada capaian kognitif anaknya daripada tingkah lakunya. Khawatir jika anak tak akan mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi jika nilai pelajaran tak baik.

Kedua, lemahnya peran keluarga dalam meletakkan dasar iman dan takwa. Terpengaruh oleh kapitalisme dan sekularisme yang diterapkan saat ini membuat manusia jauh dari agama. Tak paham bagaimana seharusnya mendidik anak dan memperlakukannya sesuai perintah Allah dan teladan Rasul. Belum lagi jeratan kemiskinan ala kapitalisme saat ini membuat orangtua berduyun-duyun terjun mencari pundi-pundi rupiah di luar rumah. Menitipkan anaknya seadanya pada kakek neneknya, atau ditinggal begitu saja di rumah.

Ketiga, rusaknya masyarakat. Aroma individual sudah merasuk ke dalam masyarakat. Elu elu gue gue. Tak usah ikut campur urusan orang lain. Tak perhatian dengan kondisi sekitar asal diri dan keluarga aman. Padahal, lingkungan masyarakat sedikit besar berpengaruh pada karakter diri dan anak. Jika masyarakat tempat berinteraksi baik, baik pula pengaruhnya. Begitu juga sebaliknya. Jika masyarakatnya senang berkata kasar, sumbu pendek, senang melakukan kekerasan, jangan heran jika anak akan terpengaruh dengan keburukan itu.

Inilah akibat diterapkannya sistem sekularisme kapitalisme yang bersumber dari akal manusia. Padahal, akal manusia serba lemah dan terbatas. Bagi sebagian orang, meluapkan emosi dianggap sesuatu yang benar walau berarti ada korban kekerasan. Sebagian lagi berpendapat, emosi harus diredam demi keamanan dan kenyamanan. Inilah pendapat manusia yang melahirkan pertentangan, perdebatan. Wajar jika budaya senggol bacok yang erat dengan kekerasan menjamur saat ini. Karena ada orang-orang yang membenarkannya bahkan memakai metode kekerasan demi menggapai tujuannya.

Islam Menyelamatkan

Hal ini sangat berbeda dengan Islam. Sebagai agama yang diturunkan Allah Sang Pencipta dan Al Mudabbir (Pengatur), Islam datang lengkap dengan seluruh aturan kehidupan. Islam mengatur bagaimana menjaga keamanan dan kenyamanan. Islam mengatur mengekspresikan emosi. Islam mengatur semuanya.

Akidah Islam adalah asas bagi semua aturan dalam Islam. Keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang menciptakan, juga mengatur seluruh kehidupan kita harus ada dalam setiap aktivitas. Sehingga ringan terasa beban hukum syara yang Allah wajibkan untuk dijalankan.

Pertama, sistem pendidikan Islam berasaskan akidah Islam. Keimanan dan ketakwaan akan dipupuk melalui kurikulum yang disediakan di setiap sekolah. Sehingga lahir anak-anak yang tak hanya terampil dan pintar dalam pelajaran sains teknologi, tapi juga berakhlak mulia. Mereka senantiasa diingatkan untuk merunduk, humble karena yang dicapai adalah atas izin Allah. Semua terjadi dengan kuasa-Nya. Sehingga benih sombong dalam diri akan diredam.

Kedua, dengan penerapan sistem Islam, keluarga akan dipahamkan akan tanggungjawab mendidik anak. Anak adalah titipan berharga dari Allah yang bisa membawa ke surga atau neraka bagi orangtua. Maka, sudah seharusnya orangtua serius membersamai anak, memilihkan teman sepermainan, memilihkan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang iman dan takwanya.

Dalam Islam, negara berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan dasar dan pokok setiap rakyatnya. Sehingga orangtua bisa fokus dan ringan dalam mendidik anaknya seperti yang Allah minta.

Ketiga, masyarakat dalam Islam memiliki pemikiran, perasaan dan peraturan yang sama, yakni Islam. Maka, rida dan murkanya pun sama. Rida dengan ketaatan dan murka dengan kemaksiatan dan kezaliman. Takkan ada elu elu gue gue, sikap individual. Karena Islam ajarkan setiap muslim bagaikan tubuh, jika yang satu terluka yang lain akan bereaksi merasakan sakitnya. Islam juga ajarkan tanggungjawab saat melihat kemungkaran di hadapan.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman’.”

Inilah budaya saling mengingatkan dalam kebaikan yang Allah wajibkan pula dalam Alquran yang artinya, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

Semuanya dilindungi oleh penerapan hukum Islam yang tegas pada setiap pelaku kezaliman dan kekerasan. Ada hukum qisas, mata dibayar mata, hidung diganti hidung, nyawa dibalas nyawa. Inilah hukum yang akan membuat manusia berpikir berulang kali untuk melakukan kekerasan, menyakiti orang lain.

Dari sini lahirlah masyarakat yang saling peduli, saling menjaga dalam keimanan dan ketaatan. Sehingga lahirlah keamanan, keselamatan pada diri, keluarga, masyarakat dan negara. Semoga segera datang saat islam diterapkan kembali secara Paripurna dalam kehidupan.

Wallahua'lam bish shawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image