Berkaca Kepada Socrates, AMBAK, Upaya Berperilaku Bijak dan Bajik dalam Menjalani Kehidupan

Image
Ade Sudaryat
Agama | Wednesday, 15 Dec 2021, 06:33 WIB

Seseorang bertamu kepada Socrates (470 – 399 SM), seorang filosof Yunani. Ia bermaksud ingin mengabarkan perilaku sahabat karib Sang Filosof yang menurut kabar burung sedang menyimpang perilakunya dari ajaran moral yang baik.

Baiklah, sebelum Anda memberitahu perihal perilaku sahabat karibku tersebut, izinkan aku mengajukan tiga pertanyaan. Jika Anda bisa menjawabnya dengan tepat, Anda boleh menceritakan tentang perilaku sahabat karibku tersebut. Demikian kata Socrates.

Pertama, apakah Anda benar-benar yakin dan percaya dengan kebenaran informasi mengenai perilaku sahabat karibku yang ingin Anda sampaikan itu?

Orang tersebut menjawab, sama sekali aku tidak mengetahui kebenarannya. Aku hanya mendengarkannya dari mulut ke mulut, hanya kabar burung saja.

Kedua, apakah berita yang akan Anda sampaikan mengenai perilaku sahabat karibku itu mengandung nilai-nilai kebaikan bagimu dan orang lain?

Orang tersebut menjawab, maaf aku hanya membawa kabar kurang baik tentang sahabatmu tersebut.

Ketiga, apakah berita yang akan Anda sampaikan itu akan memberikan manfaat dan keuntungan bagiku, wahai saudaraku?

Orang tersebut menjawab, maaf, jangankan untuk Anda, untuk aku pun kurang bermanfaat. Aku hanya latah saja karena orang-orang banyak membicarakannya.

Selanjutnya Socrates berkata, wahai saudaraku! Marilah kita renungkan, untuk apa kita menyampaikan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, tidak mengandung kebaikan, dan tidak bermanfaat. Semua itu hanya membuang-buang tenaga, mengotori jiwa dan pikiran saja.

Pada saat ini, kehidupan kita berada di tengah-tengah derasnya arus informasi dari berbagai media dan berbagi lini kehidupan. Hitungan informasinya bukan lagi harian, mingguan, atau bulanan, tapi sudah per detik.

Saking banyaknya informasi yang terus menerus berseliweran, kita sering kewalahan dan kebingungan dalam membaca, mendengarkan, dan menilai kebenarannya. Kita terkadang sangat kesulitan membedakan antara informasi yang sesuai dengan fakta dan informasi yang direka-reka, kemudian menjadi berita yang bernilai sampah alias hoax.

Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Bayang-bayang Tuhan, Agama dan Imajinasi (2011 : 251) menyebutkan, pada saat ini kita hidup di tengah-tengah berbagai polusi, salah satunya polusi informasi, yakni kegemukan informasi akibat komunikasi dan informasi yang melampaui batas.

Pergantian informasi yang begitu cepat menyebabkan kita tidak mempunyai waktu lagi untuk memaknai pesan dan mengecek kembali kebenarannya. Informasi yang kita terima tidak lagi menawarkan kebenaran yang mendalam, selain hanya menampilkan permukaannya saja dengan informasi yang dangkal.

Kecerdasan dan keterampilan menguasai teknologi informasi mutlak diperlukan dalam era kemajuan teknologi seperti sekarang ini. Namun demikian, bersikap bijak dalam menyaring informasi, mempertimbangkan mudarat dan manfaatnya lebih penting daripada kecerdasan dan keterampilan menguasai teknologi informasi tersebut.

Di tengah-tengah kehidupan yang semakin global yang serba super cepat ini, kita harus menyempatkan diri untuk selalu bertanya, Apa Manfaatnya Bagiku (Ambak). Hal ini penting, sebab pada arus kehidupan yang serba cepat seperti sekarang ini, terkadang kehidupan kita hanya mengikuti arus trend. Gaya hidup kita ingin sama dengan orang lain tanpa memperhatikan lagi kemampuan diri, kondisi diri, manfaat, dan mudaratnya bagi diri sendiri dan orang lain.

Memiliki prinsip Apa Manfaatnya Bagiku (Ambak) ini mutlak diperlukan agar kita tidak terjerumus kepada perbuatan sia-sia yang dapat mengotori pikiran, jiwa, dan akhirnya terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Tanpa melakukan prinsip ambak, kita hanya akan terjerumus kepada perbuatan mengikuti arus tanpa memikirkan manfaat dan mudarat dari informasi yang kita dapat. Pada akhirnya kita hanya menjadi orang-orang yang berpikiran dangkal dan mudah terprovokasi.

Dilihat dari segi Bahasa, ambak berarti mengambak yang berarti pula menambak atau menggalang supaya tinggi; bentuk pasifnya diambak artinya digalang supaya tinggi (Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI, 2005 : 36).

Dari kata tersebut lahir sebuah peribahasa yang sarat makna, subur karena dipupuk, besar karena ditambak; besar diambak, tinggi dianjung. Arti dari peribahasa ini, orang besar atau tinggi kedudukannya karena dimuliakan oleh anak buahnya atau pengikutnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selayaknya mengambak diri. Selalu menanam dan memupuk ilmu dan amal, perbuatan dan perilaku baik agar derajat kehidupan kita baik secara sosial maupun spiritual semakin tinggi dan mulia.

Dalam hal mengambak dan memperbaiki diri, orang Jepang memiliki prinsip kaizen. Masaaki Imai dalam bukunya The Kaizen Power (2008 : 43) menyebutkan, secara bahasa kaizen berarti perbaikan diri secara terus menerus. Pesan dari prinsip kaizen ini adalah tidak ada satu hari pun yang dijalani tanpa adanya perbaikan terhadap diri, lingkungan, dan tempat kita bekerja.

Jika orang Jepang memiliki prinsip kaizen, kita pun bisa menerapkan ambak, menggalang ilmu, amal, dan perilaku baik agar kualitas diri kita semakin bijak dan bajik dari hari ke hari. Dalam praktiknya, kata ambak ini bisa kita laksanakan sebagai sebuah akronim dari Apa Manfaatnya Bagiku. Kita harus selalu berpikir ulang dan matang ketika akan melakukan suatu perbuatan, berpikir ulang sebelum mengomentari atau menyebarkan informasi, selalu melakukan saring sebelum sharing.

Islam telah memberikan wejangan, salah satu ciri seorang mukmin yang akan hidup bahagia adalah selain melaksanakan shalat dengan khusyuk, juga berani berpaling dari perbuan sia-sia atau perbuatan yang tidak bermanfaat (Q. S. Al-Mu’minun : 1-3).

Demikian pula hadits Nabi saw mengatakan, sebagian dari ciri kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan perbuatan yang tidak akan memberikan manfaat kepada dirinya (H. R. at – Tirmidzy, Yahya bin Syarifudin an Nawawi, al Arba’in Nawawiyah, hadits nomor 7).

Sudah selayaknya kita belajar arif dalam menjalani kehidupan, terutama ketika kita mendapatkan suatu informasi. Awalilah selalu dengan pertanyaan Ambak, Apa manfaatnya bagiku?

Kehati-hatian dalam menjalani kehidupan ini, mempertimbangkan kemaslahatan dan kemudaratan, bukan hanya sekedar memenuhi hasrat kesenangan ragawi, merupakan upaya mengambak kehidupan kita agar semakin mulia bukan saja di dunia, tapi juga di alam keabadian.

Ilustrasi : Ambak (sumber gambar : suwarniazis.gurusiana.id)
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Mahasiswi Prodi Bidan Unisa Yogya Raih Juara 1 Puisi Tingkat Nasional

Image

Kesekian Kali

Image

Puskesmas Terbaik DKI Jakarta Berdasarkan Review Terbaru

Image

Ruang Lingkup Morfologi

Image

Pengaruh k-pop terhadap remaja

Image

Prodi Hukum Bisinis Unismuh Makassar Siap Gelar Kuliah Perdana Awal Desember

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image