Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di era Globalisasi
Agama | 2022-12-12 10:46:15
Berikut beberapa metode mengajar dalam islam di era globalisasi, metode mengajar dalam Islam berikut ini terlihat sama/identik dengan metode mengajar kebanyakan. Namun bukan berarti metode-metode ini hasil imitasi/meniru. Justru metode tersebut adalah hasil pergumulan pendidikan yang telah diterapkan sejak masa-masa awal Islam.
Metode tersebut tetap dipertahankan karena terbukti tidak hanya membuat siswa cerdas secara intelektual, tapi juga cerdas dalam berakhlak dan bertingkah laku. Baiklah, berikut ini metode pembelajaran yang sering digunakan oleh lembaga pendidikan Islam pada umumnya.
Metode Qudwah, Mengajar dengan contoh/keteladanan adalah metode paling kuat dalam pembelajaran Islam. Ada ungkapan "ucapan kurang efektif,lebih baik tindakan". Bahasa perilaku (pendidik) lebih bermakna daripada bahasa lisan. Bahkan Nabi Muhammad juga dikenal dengan sebutan 'uswatun hasanah'.
Ini menandakan posisi guru begitu penting sebagai panutan baik di lingkungan sekolah dan masyarakat. Tingkah laku pendidik punya daya sentuh yang lebih besar bagi siswa daripada apa yang diceramahkan. Metode Khitabah/Qoul, Berceramah masih menjadi metode yang efektif diterapkan dalam setiap suasana.
Sebagaimana kita lihat para dai/kyai yang istiqomah menerapkan metode ini. Dengan kemampuan bahasa yang fasih dan komunikatif, metode ceramah akan membawa keberhasilan belajar anak didik apalagi jika dilengkapi dengan teknologi terkini/multimedia. Metode Kitabah/Khat, Satu tingkat lebih tinggi dibanding berceramah adalah kitabah (menulis). Sejarah mencatat, Begitu pentingnya aktivitas baca tulis.
Metode menulis sendiri di lembaga-lembaga pendidikan Islam diterapkan dengan berbagai teknik, seperti imla’ (dekte) atau khat (kaligrafi). Metode hiwar, Hiwar (dialog) bagus diterapkan untuk mengunggah ide kreatif siswa. Dengan syarat, topik/materi yang dipelajari jelas batasannya dan memiliki kegunaan tinggi. Metode ini juga efektif untuk melatih siswa membaca peristiwa dan kejadian terbaru yang terjadi di lingkungan sekitar.
Metode as’ilah wa ajwibah, Banyak yang bilang di lingkungan lembaga pendidikan Islam/pondok pesantren kurang terbentuk iklim tanya jawab (as’ilah wal ijabah). Santri (siswa) tidak punya keberanian berhadapan apalagi bertanya kepada ustadz. Padahal tidak demikian. Hubungan guru dan murid terjalin atas dasar tawadhu’.
Sehingga proses tanya-jawab tidak bisa seenaknya. Metode musyawarah, Berdiskusi dilakukan untuk memecahkan masalah. Dalam pembelajaran, diskusi berarti menemukan solusi atas suatu permasalahan yang diberikan guru berkenaan dengan topi k yang sedang dibahas. Ada banyak manfaat berdiskusi.
Selain merangsang daya kreativitas siswa, berdiskusi juga membantu siswa yang punya kelemahan belajar di saat ia bekerjasama dengan teman yang lebih mampu. Maka dari metode itulah anak didik yang kurang efektif dalam belajar sedikit demi sedikit menjadi bisa. Metode mujadalah/bahtsul masail, Bahtsul masail telah menjadi tradisi di lingkungan pesantren. Inilah salah satu metode menemukan solusi / dasar hukum dari setiap persoalan kontemporer.
Melalui debat/brainstorming dengan referensi kitab/buku karya ulama klasik, ketajaman berpikir dan kerangka logika dibangun. Tak salah saat ini bermunculan cendekia-cendekia dengan latar belakang pesantren. Metode Tafakkur-tadzakkur, Refleksi-kontemplasi di lembaga pendidikan Islam dilakukan dengan mengambil satu topik khusus untuk ditemukan solusinya dengan mempertimbangkan dua hal: wahyu (dalil naqli) dan pemikiran/penelitian.
Meskipun metode ini merupakan tradisi para sufi dan filsuf Islam terdahulu, tidak ada salahnya dicoba untuk siswa pendidikan dasar sekalipun. Tentu saja harus menyesuaikan usia dan kemampuan berpikirnya. Metode Muhasabah an-nafs, Muhasabah an-nafs atau introspeksi diri dilakukan sebagai bentuk rasa cinta terhadap diri sendiri sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan atas ilmu yang telah diberikan.
Jika dicermati, inilah metode yang jarang dilakukan guru sehingga berdampak pada kurangnya pengenalan siswa terhadap potensinya masing-masing. Muhasabah bisa dilakukan tiap akhir pekan atau akhir semester, untuk mengukur keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Metode Qishah, Anak usia dini biasanya sangat suka jika guru bercerita.
Metode bercerita sangat tepat untuk menjelaskan kisah para tokoh muslim atau peristiwa sejarah lainnya. Namun, perhatikan target yang ingin dicapai. Metode qishah disebut berhasil manakala siswa mampu mengambil ibrah (pelajaran) yang baik yang bisa dijadikan contoh untuk diikuti.
Metode tathbiq, Di pendidikan umum lebih dikenal dengan metode demontrasi. Tujuan menggunakan metode ini agar teori yang dipelajari bisa dialami langsung dan diaplikasikan sehingga tidak terjadi kesalahan dalam memahami suatu materi ajar. Metode Tadabbur Alam, Karyawisata atau studi wisata sangat penting untuk menghadirkan suasana menyenangkan dalam belajar. Dengan metode ini, kesan jenuh dan monoton dalam belajar di kelas akan menghilang karena siswa belajar di tempat yang tidak biasanya.
Metode Mumarasat, Latihan secara berkelanjutan (drill) sering dipakai untuk siswa ketika hendak mengikuti tes/ujian akhir. Selain itu, metode ini sangat efektif untuk melatih keterampilan bahasa asing (Arab, Inggris, dan lain-lain). Saat ini banyak lembaga pendidikan Islam yang berhasil menciptakan lingkungan bahasa (bi’ah lughawiyah), dimana bahasa asing dijadikan sebagai bahasa ibu dan alat komunikasi sehari-hari.
Metode ta'alam fil bayt (belajar dari rumah), metode ini juga belakangan sudah banyak yang meggunakan, karena semenjak maraknya covid-19 proses belajar mengajar kurang efektif, sehingga metode ini di anggap lemah dalam kegiatan belajar mengajar. Demikian metode mengajar yang telah menjadi tradisi di lingkungan institusi pendidikan Islam. Ragam variasi metode tersebut menunjukkan betapa agama Islam menaruh perhatian tinggi pada berkembangnya ilmu pengetahuan.
Dan tentu saja, metode tersebut kiranya bisa mulai kita terapkan untuk menerapkan pembelajaran yang tidak hanya fokus pada transfer ilmu, tapi juga penanaman akhlakul karimah. Dan menurut saya, metode-metode di atas sangat bagus untuk di terapkan di era globalisasi saat ini, karena pada saaat ini anak didik hidup di zamannya tidak seperti zaman kita dahulu, yang mana mereka memerlukan pemahaman melalui audio visual juga dapat berpengaruh terhadap anak didik kedepannya. Pemahaman serta kemauan anak didik dalam belajar terkadang ada pada pendidiknya, sebagian anak didik mungkin merasa nyaman belajar jika metode yang di terapkan oleh pendidik baik dan dapat di terima oleh anak didik, begitu pula dengan pendidik yang paham akan karakteristik masing-masing anak didik, namun di antara keduanya pasti ada kekurangan dan kelebihan yang mana bisa saling melengkapi akan keduanya. Semoga artikel ini bermanfaat dan terima kasih sudah membaca.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
