Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhamad Rifki Fauzan

Cinta yang Maha Kuasa, Tidak Butuh Kata-Kata

Eduaksi | Monday, 05 Dec 2022, 21:11 WIB

Cinta yang Maha Kuasa, Tidak Butuh Kata-Kata

(Oleh : Muhamad Rifki Fauzan)

Cinta dan kasih sayang nampaknya sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga, sebab setiap manusia terus berlomba lomba, mencari serta mengulik kepada siapa cintanya akan bermuara, bahkan sampai tidak lagi menghirau kan berapa banyak waktu yang diluangkan, semuanya seakan larut dengan euphoria pencarian, sampai lupa, bahwa dirinya diciptakan atas dasar cinta dan kasih sayang.

Setiap insan memiliki makna cinta dengan versinya sendiri, akan tetapi melihat realita yang terjadi, sepasang kekasih pun bingung apa dan bagaimana makna cinta yang sebenarnya, karena cinta hadir dari sebuah perasaan dan ironinya logika seakan tak kuasa untuk menjalankan peran, namun satu hal yang perlu digaris bawahi, cinta tidak bisa diselebrasikan hanya dengan satu kata, tanpa mampu dirasakan secara nyata.

Cinta dianologikan seperti halnya piasu bermata dua yang masing masing mata pisau itu memiliki peranan berbeda, artinya, cinta mampu memberikan dua efek berbeda dalam satu waktu yang bersamaan, perasaan senang dan sedih memliki kekuatan yang sama untuk naik ke-permukaan secara beriringan.

Banyak manusia mengejar cintanya untuk mendapatkan sebuah kebahagian, sehingga mereka tidak sadar bahwasannya kekecewaan terbesar justru hadir dari apa yang mereka cintai, namun konsep itu akan berubah jika perasaan cinta, tepat pada posisi dimana ia ditempatkan dan untuk menjawab pertanyaan dibalik pernyataan tersebut tidak lain hanya menempatkan cinta pada yang menciptakan rasa cinta, yaitu ia yang maha cinta, Allah Swt.

Cinta merupakan konsekuensi keimanan, Ketika manusia mampu menghadirkan rasa cinta kepada tuhan, maka akan sangat mudah untuk melahirkan konsep keikhlasan, bahkan boleh jadi segala macam bentuk perintah dan larangan yang sudah diatur dan termaktub didalam kitab suci (Al Quran), akan sangat senang hati untuk melaksanakannya.

Sudah menjadi suatu keniscayaan bahwasannya, apabila setiap manusia menaruh rasa cintanya kepada tuhan, maka kekecewaan nampaknya tidak akan pernah mampu untuk naik pada permukaan, sebab allah adalah satu satunya dzat yang mengetahui apa yang paling terbaik untuk stabilitas kehidupan mahluknya, dan jangkaunnya pun bukan hanya didunia, akan tetapi sampai pada kehidupan yang abadi, yaitu alam akhirat.

Jika sepasang kekasih berani mendeklarasikan bahwa cinta mereka merupakan perasaan yang hadir secara tulus, sungguh itu hanya sekedar ungkapan yang dikeluarkan dari lidah yang tak bertulang. Perasaan itu seketika akan berubah, apabila terdapat satu tindakan yang tidak dikehendaki satu sama lain. Kondisi itu justru jauh dari kesucian makna dan substansi cinta itu sendiri. Satu hal yang perlu dicatat pada hakikatnya tidak ada cinta sejati, melainkan cintanya sang pencipta pada setiap mahluknya

Namun massifnya perkembangan pola kehidupan yang sistematis, berdampak pada ketidakmampuan manusia untuk melihat bukti kecintaan sang pencipta kepada setiap mahluknya hal itu disebabkan kedua mata yang diciptakan oleh tuhan seakan tidak kuasa untuk melaksanakan job desknya karena tertutup oleh tirai gemerlap kemewahan yang justru hanya akan menyengsarakan.

Namun kondisi itu akan berbalik 180 derajat apabila keinginan setiap insan tidak sesuai dengan realita yang terjadi, dengan mudahnya manusia menganggap bahwa tuhan sudah tidak lagi cinta, tuhan tidak lagi sayang, tuhan telah tega, semua menganggap bahwa kesengsaraan bersumber dari konsep kehidupan yang dibuat oleh tuhan, padahal tuhan adalah sebaik baiknya pembuat skenario.

Kalaupun hadir pristiwa bencana alam ditengah tengah kehdiupan merupakan sebuah konsep yang diciptakan oleh tuhan untuk mengembalikan manusia pada rules of the game kehidupan sebagai mahluknya, dan hal yang perlu digaris bawahi setiap skenario dan konsep yang bersumber dari tuhan mustahil melahirkan Kesia siaan, akan tetapi semuanya pasti mengandung hikmah dibaliknya,

Hal itu dibuktikan dengan salah satu firmannya yang termaktub didalam Al Quran Surat Al Imron ayat 191, yang artinya "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka." (Qs Ali Imran : 191).

Setiap ujian apapun itu bentuknya yang mewarnai pola kehidupan ummat manusia merupakan sebagai bentuk manifestasi rasa cinta dan kasih sayang allah terhadap seluruh mahluknya dan allah tidak membutuhkan kata kata untuk membuktikan kecintaanya, “Sesungguhnya pahala besar itu sebanding dengan ujian yang berat. Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian kepada mereka. Siapa yang ridha, maka ia akan meraih ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR Ibn Majah).

Kata kunci yang harus difahami oleh ummat manusia, untuk dapat merasakan rasa cinta yang allah berikan maka manusia diharuskan untuk berfikir,bersabar dan ikhlas, sebab dapat dipastikan, mustahil allah memberikan ujian ataupun cobaan diluar batas kemampuan mahluknya.

#Muhamad Rifki Fauzan

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image