Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Trimanto B. Ngaderi

Apakah Beribadah Itu Hanya Sekedar Mencari Pahala?

Agama | Monday, 05 Dec 2022, 18:38 WIB

APAKAH BERIBADAH ITU HANYA SEKEDAR MENCARI PAHALA?

“Saya patuh mengerjakan shalat 5 waktu karena itu suatu kewajiban”, kata seorang temanku.

“Saya rutin membaca Al Qur’an karena pahalanya besar, dihitung per huruf lagi”, ujar salah seorang tetanggaku.

*****

Sebagai pemeluk agama Islam, kita dibebani beberapa kewajiban. Misalnya shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, zakat fitrah, berhaji bagi yang mampu, dan ibadah mahdhah lainnya. Selain amalan wajib, di dalam syariat Islam ada pula amalan-amalan yang hukumnya sunnat, mubah, makruh, hingga haram.

Seorang hamba yang taat, tentu akan menjalankan semua kewajiban dengan baik dan berkesinambungan. Ia tidak pernah lalai atau sengaja tidak melaksanakan kewajiban itu. Selain itu, ia masih menambahnya dengan amalan-amalan sunnat. Sedangkan seorang hamba yang tidak taat, jangankan melaksanakan yang sunnat, yang wajib sekalipun terkadang ia abaikan.

Sumber gambar: https://Islamy.com

Setiap tindakan (amalan) manusia tidak terlepas dari yang namanya motif, yaitu suatu alasan yang mendorong seseorang mau melakukan perbuatan tertentu. Motif akan berkaitan erat dengan tujuan maupun hasil yang akan ia peroleh. Setidaknya ada tiga motif seseorang melakukan suatu amal ibadah, yaitu:

1. Murni sekedar melaksanakan perintah (kewajiban)

Menganggap perintah Allah murni sebagai suatu kewajiban yang mau tidak mau, harus dilakukan. Tidak boleh tidak. Orang tipe seperti ini dalam melaksanakan ibadah biasanya karena terpaksa. Dalam melaksanakan shalat 5 waktu misalnya, ia sekedar menggugurkan kewajiban. Ia tidak bisa shalat secara khusyu’, gerakan maupun bacaan shalat dilakukan dengan cepat (tidak tuma’ninah), tidak bisa merasakan nikmatnya beribadah. Istilah orang Jawa: rubuh-rubuh gedang (shalat secara asal-asalan).

Selain itu, dia menjalankan shalat hanya karena takut akan mendapatkan dosa. Takut nanti dimasukkan ke dalam neraka. Ibarat sebuah robot (mesin), gerakan maupun bacaan shalat merupakan hal yang terotomatisasi, hafal di luar kepala, berjalan dengan sendirinya. Ia melakukan sesuatu tanpa kesadaran. Barangkali dia inilah yang disebut dalam Al Qur’an sebagai fawailullil mushalliin (celakalah bagi orang-orang yang shalat), yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya (Al-Ma’uun: 4-5).

Shalat orang tipe seperti itu terasa hampa. Kering tanpa makna. Membosankan.

2. Berharap memperoleh pahala

Hal ini sebenarnya tidak salah. Sudah menjadi sunnatullah bahwa seseorang mau melakukan suatu tindakan tertentu karena mengharapkan imbalan. Allah sendiri juga telah berjanji akan memberikan pahala bagi siapapun yang beribadah dan beramal saleh.

Namun, jika motifnya hanya pahala semata, biasa ia akan melupakan perihal dampak (implikasi). Ia terus fokus ke soal pahala, sementara apakah ibadah yang ia lakukan itu berdampak atau memberi manfaat kepada orang lain, belum diperhitungkan. Ia baru sebatas memiliki kesalehan pribadi (vertikal), belum memiliki kesalehan sosial (horisontal).

Orang tipe seperti ini biasanya hanya mengejar kuantitas. Misalnya, rutin membaca Al Qur’an satu juz per hari. Akan tetapi ia hanya sekedar membaca dan membaca (baca: membunyikan ayat-ayat). Ia lupa bahwa selain dibaca, Al Qur’an itu perlu juga dipahami dengan cara membaca terjemahnya atau mengikuti kajian tafsir. Setelah bisa memahami, maka langkah selanjutnya adalah pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Menganggap sebagai suatu kebutuhan

Orang seperti ini sudah tidak memperhitungkan lagi apakah suatu ibadah itu kewajian atau bukan, apakah berpahala besar atau tidak. Ia melaksanakan suatu ibadah baik yang sifatnya wajib maupun sunnat, benar-benar karena suatu kebutuhan.

Ia sudah bisa merasakan nikmatnya menjalankan suatu ibadah. Ia bisa merasakan manfaat beribadah bagi tubuh fisik (kesehatan). Bahkan, ia bisa memberi manfaat kepada sesama. Ibadahnya dapat memberikan dampak positif baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Akhir kata, kita masih beranggapan bahwa untuk bisa menikmati pahala dari ibadah yang kita lakukan, kita harus menunggu di akhirat nanti. Entah kapan itu. Padahal manfaat dan dampak dari beribadah dapat kita rasakan DI SINI dan SAAT INI juga.

Allah mewajibkan kepadanya hambanya untuk beribadah adalah dalam rangka untuk kebaikan hamba itu sendiri. Allah sendiri tidak membutuhkannya. Semua manusia, mau beribadah atau tidak, Allah tetap Mahakuasa, Mahamemberi, dan Maha segala-galanya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image