Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image UCare Indonesia

Buah Manis dari Menolong Orang Lain

Eduaksi | Monday, 05 Dec 2022, 11:58 WIB
sumber gambar: freepik.com/jcomp

Sering kali kita mendengar kata ma'ruf. Lalu apa yang dimaksud dengan ma'ruf? Dalam bahasa Arab, kata ma'ruf berasal dari kata kerja 'arafa ya'rifu. Dikatakan bahwa si fulan itu ma'ruf, yakni dia dikenal orang-orang. Dengan demikian, ma'ruf dalam istilah Islam adalah sesuatu yang dikenal banyak orang sebagai kebaikan, baik dari sisi syariat maupun akal. Adapun mungkar adalah apa saja yang dimungkari oleh syariat dan akal.

Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki makhluk yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang selalu datang kepada mereka agar terpenuhi kebutuhannya. Mereka selalu percaya dengan azab Allah." Ahli ma'ruf di dunia adalah ahli ma'ruf di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki syafaat. Engkau akan mendapati bahwa mereka selalu membantu orang lain dan mementingkan orang lain daripada diri mereka sendiri. Engkau juga akan mendapati bahwa mereka selalu baik. Mereka melakukan semua perbuatan itu untuk membuat orang lain bahagia. Karena inilah tujuan Allah Swt. menciptakan mereka.

Dengan demikian, buah dari mendahulukan kebutuhan orang lain daripada diri sendiri adalah kebahagian, kemenangan, dan kesuksesan dengan ridha Allah Swt., sebagaimana termuat dalam firman-Nya, Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS Al-Hasyr [59]: 9).

Mereka mendahulukan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan mereka sendiri. Mereka selalu memprioritaskan kebutuhan orang lain sebelum diri mereka, padahal mereka sangat membutuhkannya.

Dalam sebuah riwayat sahih Rasulullah Saw. bersabda, "Sedekah yang paling utama adalah berjihad dengan yang sedikit." Inilah tingkatan tertinggi dari keadaan orang-orang yang disifati Allah dalam firman-Nya, Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan (QS Al-Insân [76]: 8), Dan memberikan harta yang dicintainya (QS Al-Baqarah [2]: 177).

Mereka adalah orang-orang yang menyedekahkan sesuatu, padahal mereka suka dengan apa yang mereka sedekahkan. Tapi, seolah-olah mereka merasa tidak membutuhkannya. Mereka selalu mendahulukan orang lain daripada diri mereka sendiri, padahal mereka juga membutuhkan apa yang mereka nafkahi.

Di antara tingkatan ini adalah sahabat Abu Bakar Al-Shiddiq yang bersedekah dengan seluruh hartanya. Rasulullah Saw. pernah bertanya kepadanya, "Apa yang Anda sisakan untuk keluargamu?" Dia menjawab, "Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya."

Karena itu, Allah akan selalu memenuhi kebutuhan seorang hamba, selama hamba itu selalu memenuhi kebutuhan saudaranya. Menutup aib seorang Muslim juga termasuk perbuatan ma'ruf. Apabila engkau melihat seorang muslim melakukan kemungkaran, janganlah engkau mencelanya. Apabila engkau mampu memberikan nasehat, nasehatilah dirinya dengan tidak terang-terangan di depan orang lain.

Sebab, menasihati seseorang di depan orang lain adalah keburukan. Rasulullah Saw bersabda, "Muslim dengan Muslim itu adalah saudara: janganlah dia merendahkannya, jangan menghinanya, dan jangan membohonginya. Barang siapa yang melapangkan kesulitan dunia dari seorang Muslim, niscaya Allah akan melapangkan baginya kesulitan di akhirat."

Dengan demikian, perbuatan ma'ruf itu adalah sesuatu yang mudah dilakukan. Allah tidak akan pernah melalaikannya selamanya. Rasulullah Saw. bersabda, "Seorang laki-laki melewati suatu jalan yang terdapat duri, lalu dia pun membuangnya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya." Diriwayatkan juga bahwa ada seorang laki-laki yang menemukan seekor anjing dalam keadaan haus. Maka, orang itu pun memberikan air yang dimilikinya kepada anjing tersebut. Lalu apa pahala bagi orang itu? Yaitu ungkapan syukur dari Allah Azza wa Jalla.

Allah SWT. berfirman tentang perbuatan ma'ruf dalam Al-Quran, ”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar." (QS Al-Nisâ' [4]: 114).

Yakni bahwa engkau membisikkan kepada seseorang dalam tiga bentuk: masing-masing saling menasihati satu sama lain untuk memberi sedekah, atau melakukan ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dalam pembicaraan mereka terdapat kebaikan. Adapun ma'ruf itu adalah suatu lafal yang mencakup segala bentuk amal baik, seperti nasehat. Tiga perbuatan di atas harus dilakukan dengan niat yang tulus dan ikhlas untuk mengharapkan keridhaan Allah. Dengan demikian, pahala yang akan diraih di sisi Allah sangatlah besar.

Rasulullah Saw. bersabda, "Setiap perbuatan ma'ruf itu adalah sedekah. Di antara perbuatan ma'ruf adalah engkau memberikan wajah yang murah senyum kepada saudaramu." Dalam hadis lain Rasulullah Saw. bersabda, "Barang siapa yang dibukakan pintu kebaikan baginya, maka bersegeralah untuk memasukinya sebab tidak ada yang tahu kapan pintu itu akan ditutup."

Referensi: ‘Iwadh, Ahmad ‘Abduh, 2008, Mutiara Hadis Qudsi Jalan Menuju Kemuliaan dan Kesucian Hati, Bandung: PT Mizan Pustaka

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image