Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Firda Khalisshofiyanur

Islamofobia dan Wanita-Wanita Muslim

Agama | Thursday, 01 Dec 2022, 19:47 WIB
Sumber : By CNN

Eropa adalah negara maju di mana umat Kristen Katolik merupakan mayoritas penduduknya. Islam adalah agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia dan terpopuler kedua di Eropa setelah Kristen, meskipun menjadi minoritas diantara orang Eropa sendiri. Islam adalah agama cinta dan kasih sayang. Namun, sebagian besar orang Eropa membenci Islam. Mereka beranggapan bahwa Islam adalah agama teror dan agama yang intoleran. Berbagai bentuk prasangka yang dihadapi oleh umat Islam di negara-negara Eropa yaitu intimidasi, ancaman, pelecehan, dan lain-lain

Islam dan fobia adalah akar dari kata "islamofobia". Fobia merupakan karakteristik psikologis seseorang yang sangat kuat dan mendasar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan fobia sebagai rasa takut yang berlebihan terhadap hal atau situasi tertentu yang mengganggu kehidupan penderitanya. Oleh karena itu, Islamofobia dapat dipahami sebagai istilah berbeda yang digunakan oleh seseorang yang mengekspresikan emosi secara negatif dan memiliki ketakutan yang tidak berdasar terhadap Islam dan Muslim (Anti-Muslimisme).

https://www.ispu.org/public-policy/islamophobia/

Setiap orang berhak untuk memilih kepercayaan yang akan dianutnya, dan setiap bangsa wajib menjunjung tinggi hak-hak ras dan agama minoritas untuk menjamin kesetaraan umat beragama,. Namun, situasi pada situasi sekarang komunitas Muslim di Eropa terus-menerus menghadapi ancaman. Terlebih media-media barat menjadikan alat untuk membentuk opini dan persepsi masyarakat Eropa semakin memandang buruk tentang Islam.

Studi terbaru menunjukkan bahwa selama sepuluh tahun terakhir, prasangka terhadap Muslim, khususnya terhadap wanita Muslim Eropa mengalami peningkatan. Muslim di Eropa mengalami diskriminasi saat mencari pekerjaan, mengakses layanan publik seperti kesehatan dan pendidikan, dan bahkan saat mencoba mencari tempat tinggal. Sebagian besar wanita muslim Eropa mengatakan bahwa mereka telah diberlakukan tidak adil seperti mereka didiskriminasi karena nama, warna kulit, atau penampilannya.

Source By: Anadolu agency

Hampir 40% wanita Muslimah yang mengenakan hijab atau niqab di depan umum merasa dilecehkan saat mencari pekerjaan, ditolak dari posisinya karena penampilannya, berupa dilecehkan yang menggunakan isyarat atau komentar sehingga menyinggung perasaan. Menurut sebuah studi Universitas Carnegie Mellon, pelamar kerja Muslim menghadapi lebih banyak diskriminasi daripada pelamar lainnya selama proses perekrutan. Pelamar kerja Muslim memiliki peluang 13 persen lebih rendah untuk mendapatkan panggilan wawancara dibandingkan pelamar lainnya.

Contoh Islamofobia di negara Eropa yaitu terjadi di Prancis. Wanita Muslim yang tidak mematuhi hukum akan dikenakan denda 150 euro dan harus mengikuti kelas pengembangan kepribadian. Sementara itu bagi seseorang yang memaksa wanita untuk mengenakan burqa atau cadar akan didenda 30.000 euro dan diberikan satu tahun penjara. Niqab atau burqa sebenarnya hanya dikenakan oleh sejumlah kecil wanita Muslim di Prancis dan tidak ada bukti yang menyataakan bahwa hal itu merugikan orang lain. Pemerintah Prancis juga melarang perempuan Muslim bekerja atau bersekolah sambil mengenakan jilbab. Dengan kata lain, perempuan Muslim di Prancis masih diperbolehkan mengenakan jilbab di luar pekerjaan dan sekolah.

Source By: Khmer Times

Pada kenyataanya istilah "Islamofobia" masih digunakan termasuk di Indonesia negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Maraknya sentimen anti hijab menunjukkan bahwa Islamofobia masih menjadi ancaman bagi negara demokrasi seperti Indonesia. karena kebencian yang tidak berdasar dan tanpa alasan pada hijab atau niqab dan simbol keagamaan lainnya. Paradigma yang berkembang menempatkan hijab sebagai hambatan dalam kebebasan sosial, ekonomi, dan ideologis bagi seorang wanita muslimah.

Lebih dari sekadar perintah agama, hijab merupakan preferensi wanita muslimah untuk mengaktualisasikan diri sebagai wanita yang merdeka dan memiliki hak asasi yang sama. Hingga saat ini bukan hanya sekadar simbol agama, hijab sudah menjadi konstruksi sosial yang merepresentasikan sisi politik, ekonomi, spiritual, visual, dan etika, tergantung pada konteks di mana mereka kenakan, maka tidak heran jika hijab sering dipolitisasi demi kepentingan tertentu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image