Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ade Sudaryat

Bersikap Angkuh dan Suka Mengeluh Menjadikan Kehidupan Kita Semakin Rapuh

Agama | Friday, 04 Nov 2022, 19:47 WIB

Iblis diusir dari keindahan taman sorga karena keangkuhannya terhadap Nabi Adam, a.s. Ia tak mau menghormatinya, karena ia merasa lebih baik daripada Nabi Adam a. s. Ia hanya memandang Nabi Adam a.s. sebagai seonggok tanah bercampur air. Ia melihat Nabi Adam a. s. tak memiliki nilai apa-apa. Karena keangkuhannya ini pula ia menjadi makhluk terkutuk.

Karena angkuh dengan kekuasaannya, Fir’aun pun bernasib sama seperti Iblis. Demikian pula dengan Hamman yang menjabat sebagai perdana menterinya, ia bernasib setali tiga uang dengan atasannya. Kehinaan dan laknat Allah menjadi gelar yang mereka berdua sandang sampai di alam keabadian kelak.

Masih semasa dengan keangkuhan Fir’aun, Qarun, sang pengusaha papan atas pada masa pemerintahan Fir’aun juga mati terhina. Ia beserta hartanya yang sangat banyak lenyap ditelan bumi. Kemegahan rumah dan limpahan harta tak bisa menyelematkan dirinya dari azab Allah.

Tak ada nilai kebaikan yang berarti dari sikap angkuh selain mendatangkan murka Allah. Sikap angkuh merupakan kunci gembok yang dapat menutup rapat pintu sorga, dan membuka lebar-lebar pintu neraka. Rasulullah saw sering mengingatkan siapapun orangnya yang memiliki sikap angkuh di hatinya meskipun sebesar biji sawi, ia tak akan masuk sorga.

Bukan di akhirat saja, selama hidup di dunia pun keangkuhan akan mengantarkan seseorang ke jurang kenestapaan. Barangsiapa merasa angkuh dengan pangkat dan jabatan yang diembannya, jabatannya akan mengantarkannya ke jurang kehinaan. Barangsiapa yang merasa angkuh dengan limpahan harta yang dimilikinya, hartanya akan mengantarkannya ke jurang kenestapaan.

Kasus FS dan PC beserta para pendukungnya yang menggegerkan institusi kepolisian dan masyarakat akhir-akhir ini cukup dijadikan pelajaran bagi kita, sikap angkuh yang melahirkan perbuatan di luar nalar telah mengantarkan FS dan PC, bahkan seluruh keluarganya jatuh ke jurang kenestapaan. Pangkat dan jabatan yang tinggi ludes sudah dimakan keangkuhannya. Keluarga, tahta, dan harta yang ia bangun puluhan tahun runtuh seketika.

Selain keangkuhan, sikap suka mengeluh juga dapat meruntuhkan kehidupan, minimal meruntuhkan marwah kehidupan. Seseorang yang suka mengeluh atas berbagai masalah atau musibah yang ia hadapi menunjukkan sikap tidak sabar. Lebih jauh lagi, sikapnya tersebut menunjukkan ketidakrelaannya atas segala pemberian Allah, padahal Ia tidak akan memberikan apapun di luar batas kemampuan hamba-Nya.

Imam Sufyan Ats-Tsauri membagi kesabaran menjadi tiga, yakni tidak menceritakan musibah yang menimpa kepadamu kepada orang lain, tidak mengeluh ketika menghadapi musibah atau kesulitan hidup, dan tidak menganggap diri sebagai orang suci (Mawaidhu Al Imamu Ats-Tasuri, hal. 81,Ath-Thab’atul Ula, 1998, Beirut :Al Maktab Al Islami).

Ketika kita mengeluhkan masalah atau musibah yang kita hadapi kepada orang lain, belum tentu orang yang mendengar keluhan kita bersikap simpati. Bisa jadi mereka tidak peduli terhadap masalah yang kita hadapi sementara yang lainnya merasa senang melihat kita hidup berkubang dalam berbagai kesulitan.

Kita boleh-boleh saja menceritakan masalah yang tengah kita hadapi kepada orang lain jika tujuannnya untuk meminta nasihat atau solusi. Namun jika tujuan hanya untuk sekedar mencari simpati, lebih baik kita tidak menceritakannya. Sejatinya, apapun masalah atau musibah yang tengah kita hadapi merupakan wilayah privasi yang hanya boleh diketahui oleh kita atau orang-orang yang dekat dengan kita.

Parahnya pada era media sosial seperti sekarang ini seolah-olah tidak ada wilayah privat. Senang dan susah dijadikan konten media sosial demi meraih like dan viral. Padahal ketika seseorang mem-posting masalah yang dihadapinya di media sosial, belum tentu ia meraih simpati dari para follower-nya, apalagi menjadi solusi atas masalah yang tengah dihadapinya. Cara yang terbaik ketika kita mendapatkan masalah, apalagi masalah yang berat adalah megevaluasi diri, mencari solusi, dan memohon kepada Allah agar diberi jalan keluar yang terbaik seraya diberi kekuatan dalam menghadapinya.

Ketika Nabi Ya’kub a.s menghadapi masalah kebohongan anak-anaknya yang mengatakan Yusuf diterkam serigala sampai meninggal, ia menyerahkan segala masalahnya kepada Allah sampai akhirnya Allah mempertemukannya dengan Yusuf yang kemudian diangkat menjadi seorang Nabi.

“Dia (Ya‘qub) menjawab, ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’ ” (Q. S. Yusuf : 86).

Sayidina Ali bin Thalib r.a. memberikan nasihat, “Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak akan percaya itu.”

Sejatinya kita menghadapi kehidupan ini dengan keyakinan kepada Allah. Apapun yang Allah berikan kepada kita sudah terukur atau disesuaikan dengan kadar kemampuan kita untuk menanggungnya.

Ibnu Qayyim al Jauziyyah memberikan nasihat kepada kita semua, “Kesabaran adalah ketika hati tidak merasa marah terhadap apa yang sudah ditakdirkan dan mulut tidak mengeluhkannya.”

Kita tak boleh angkuh ketika mendapatkan kemudahan dalam menjalani kehidupan, dan kita pun tak boleh mengeluh dan putus asa ketika kita mendapatkan beragam kesulitan dalam menjalani kehidupan. Apapun yang kita dapatkan dalam kehidupan ini bersumber dari Zat Yang Maha Kasih Sayang. Karenanya, belajarlah untuk meyakinkan, semua yang kita dapatkan dalam kehidupan ini tak terlepas dari ke-Mahakasihsayangan-Nya.

Ilustrasi : Angkuh (Sumber gambar : republika.co.id)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image