Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image saman saefudin

Kebaikan yang Melampaui Batas Kewajaran Kita

Edukasi | Saturday, 08 Oct 2022, 23:46 WIB
Dokumen pribadi

Siapa dan bagaimanapun Anda, pastilah mudah bersimpati dengan mereka yang memiliki sikap respek. Terlebih lagi jika sikap respek, menjaga perasaan orang, ini ditujukan tanpa pandang bulu, kawan maupun lawan, orang elit maupun alit, pastilah mudah mengundang kagum siapapun. Ini menunjukkan kualitas attitude, karakter, akhlak, seringkali mampu menembus sekat-sekat identitas.

Adalah Sahaludin al Ayubi, salah seorang jenderal Muslim paling populer dalam medan pertempuran paling sengit: Perang Salib. Tetapi namanya tidak hanya dieluk-elukan umat Muslim, melainkan juga mengundang hormat pasukan musuh. Sikap kstarianya saat menaklukkan Yaruasem pada 1187 di luar imajinasi para umat Kristiani dan Yahudi yang menganggap wajar saja seandainya pasukan Muslim pimpinan Salahudin membasmi mereka sebagai tindakan balasan atas apa yang dilakukan pasukan Salib pada 1099. Tetapi begitulah King Saladin, ia justru mendemonstrasikan keluhuran akhlak Islam dalam berperang sekalipun, alih-alih mengobarkan api dendam. Tidak heran, namanya pun tercatat dalam sejarah sebagai sosok jenderal yang mulia dan penuh kasih sayang.

Sikap Salahudin juga menuai decak kagum orang-orang non Mulim di Kota Suci. “Kenapa Tuan tidak menuntut balas atas tindakan musuh-musuhmu yang keji,” tanya seorang nenek Nasrani.

"Islam bukanlah agama pendendam bahkan sangat mencegah dari melakukan perkara diluar perikemanusiaan, Islam menyuruh umatnya menepati janji, memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf dan melupakan kekejaman musuh ketika berkuasa walaupun ketika musuh berkuasa, umat Islam ditindas."

Jawaban Salahudin ini spontan menembus ke jantung hati sang nenek. Ia melihat sendiri keindahan ajaran Islam yang dipertontonkan Saladin dan pasukannya, sehingga di usianya yang lanjut sang nenek ingin memeluk agama yang indah itu.

Begitulah ketika seorang Muslim mampu mengaktualisasikan akhlaknya dengan baik. Dan Salahudin al Ayubi tidak lain hanyalah mencontoh apa yang telah dilakukan Rasulullah Saw, yang tak meninggalkan satu tetes darahpun kala membebaskan Kota Mekah. Padahal semua mafhum, para tokoh Quraisy lah yag sebelumnya telah memusuhi Nabi, membuatnya terusir dari tlatah kelahirannya. Bahkan orang-orang Quraisy juga diliputi cemas dan takut kalau-kalau Muhammad Saw membalas perlakuan jahat mereka dulu. Nabi tentu saja menangkap ketakutan itu.

“Wahai Kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan kuperbuat?” Pertanyaan Nabi ini menambah gentar para Quraisy. Namun mereka mencoba menghibur hati Nabi.

”Kebaikan, engkau adalah saudara yang mulia dari saudara kami yang mulia,” begitu jawaban orang-orang Quraisy. Nabi lantas bersabda; ”Aku akan mengucapkan kepada kalian seperti yang pernah diucapkan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya. Hari ini tidak ada cercaan bagi kalian. Pergilah, kalian bebas.”

Meski amat diharapkan, jawaban Nabi ini juga sedikitnya menyentak imajinasi para kafir Quraisy. Bagi mereka yang tengah harap-harap cemas dengan peluang kematian ada di ambang batas, kebaikan yang dipercontonkan Nabi benar-benar di luar imajinasi mereka. Tidak heran, pidato penuh kenegarawanan itu disambut penuh kegembiraaan yang meluap, mereka saling berpelukan, diiringi lantunan takbir memenuhi langit Mekah.

Ya, seagung itulah akhlak Rasulullah, wahuwa khuluqin adzim. Pantas saja ia didaulat Allah sebagai role model bagi manusia akhir zaman. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21). Dan salah satu dari keteladanan yang amat mahal itu adalah pada kualitas respek Rasulullah, kemampuan menjaga perasaan orang lain.

Suatu waktu saat Nabi sedang berkumpul bersama para sahabat, datanglah seorang nenek miskin yang membawakan hadiah semangkuk buah anggur. Nabi memakan buah anggur pertama, lalu tersenyum pada sang nenek. Lanjut memakan anggur kedua dengan tetap menjaga senyum manisnya, begitu seterusnya sampai semangkuk anggur itu habis. Sang nenek pun pergi dengan perasaan gembira, hadiah anggurnya diterima Nabi dengan senyum. Tetapi para sahabat sejak tadi bingung. Sebab biasanya Nabi akan langsung membagi dan menikmati bersama para sahabat saat mendapatkan hadiah makanan/minuman. “Kenapa engkau tidak mengajak kami ikut menikmati anggur itu wahai Nabi?”

Nabi pun tersenyum, lantas menjelaskan jika anggur tadi rasanya masam. “Kalau kalian tadi ikut memakannya, aku khawatir kalian akan menujukkan ekspresi yang jujur hingga menyakiti hati sang nenek.”. Bahkan para sahabat pun terhenyak, menyaksikan betapa tingginya akhlak Nabi demi menjaga perasaan sang nenek yang miskin.

Bayangkan jika yang menerima hadiah anggur itu adalah kita, mampukah raut wajah ini tetap tersenyum sambil menggigit anggur yang kecut? Agh, rasanya berat. Bukankah kita sering terlalu jujur saat disajikan masakan oleh istri kita. Bahkan tanpa ditanya, kita akan dengan mudah berkomentar. “Fyuh, sayurnya asin banget ini....”. Dan seterusnya. Perilaku semacam ini pun kita sering dimaklumi, kita anggap wajar adanya.

Di lain waktu, Anda pulang dari shalat Jumat dalam kondisi lapar. Masuk rumah langsung membuka tudung makanan di meja makan, tetapi ternyata belum ada satu masakan pun yang tersaji. Mampukah kita menghindar dari amarah? Agh, sepertinya sulit, bahkan meski kita baru saja menunaikan ibadah shalat Jumat.

Tetapi tidak dengan Baginda Nabi, saat ia pulang dari masjid di pagi hari dalam kondisi lapar ia akan bertanya pada istrinya, adakah maknan yang bisa aku makan? Ketika sang istri mengatakan tak ada makanan yang bisa dimasak, Nabi tetap tersenyum meresponnya. “Kalau begitu, biarkah aku puasa saja”. Ugh, speechless kan? Akhlaknya benar-benar melampaui imajinasi, melampaui kebiasaan, dan apa yang seringkali kita anggar wajar. Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad. []

Tambahan referensi:

https://www.republika.co.id/berita/34417/salahudin-sang-penakluk-yerusalem

https://www.kompas.tv/article/282575/pidato-menggetarkan-rasulullah-saat-fathul-makkah-terjadi-di-bulan-ramadan-8-hijriah?page=2

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image