Gali Potensi Risiko K3 dan Kebencanaan di Desa Wisata, DRRC UI-Kemenparakraf Lakukan FGD

Image
Cekpoin
Wisata | Tuesday, 04 Oct 2022, 11:02 WIB

Jakarta, 29 September 2022 - Tim Peneliti dari Disaster Risk Reduction Center (DRRC) Universitas Indonesia bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Indentifikasi Risiko Health, Safety, and Environment (HSE) dan Kebencanaan di Desa Wisata. Bertempat di The Hermitage Hotel, Jalan Cilacap No.1, Menteng, Jakarta Pusat kegiatan ini merupakan upaya untuk meminimalisir risiko terjadinya bencana, baik alam maupun non alam.

Suasana FGD Online dan Offline(Dok.

Kegiatan yang diselenggarakan secara luring dan daring ini diikuti juga oleh Ketua DRRC UI, Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D., para Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 7 provinsi, Direktur Tata Kelola Destinasi, Indra Ni Tua, ST., MComm., Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana, BNPB, Dr. Ir. Udrekh, S.E., M.Sc., Direktur Kesiapsiagaan BASARNAS, Agus Haryono, S.S., M.B.A, Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila, Devi Roza Kausar, para undangan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, tim peneliti DRRC UI, mahasiswa; alumni; dosen dari Fakultas Kesehatan Masyarakst (FKM), Sekolah Ilmu Lingkungan (SIL), dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia.

Ketua DRRC UI, Prof Fatma Lestari menyampaikan FGD ini dilaksanakan dengan melibatkan Dinas Pariwisata di 7 provinsi yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Timur, Bali, Sumatra Barat, dan Jawa Barat. Difasilitasi oleh tim peneliti dari DRRC UI, mahasiswa; dosen; dan alumni FKM, SIL, dan FK UI bersama dengan Kemenparekraf RI.

Foto bersama setelah peresmian FGD oleh perwakilan Kemenparakraf (Dok. DRRC UI)

Perwakilan dari Kemenparekraf, Direktur Tata Kelola Destinasi, Indra Ni Tua menyampaikan bahwa Indonesia yang berstatus sebagai ring of fire sebenarnya menjadi portofolio produk yang paling khas. Upaya mitigasi risiko bencana pada tahap awal yang dilakukan ini sangat perlu meski harus dengan investasi yang lebih. Metode yang sedang dilaksanakan sama seperti slogan yang diterapkan dalam Kemenparekraf oleh menteri Sandiaga Uno yakni Kolaboraksi. Kemparekraf menyadari bahwa kegiatan yang dilaksanakannya ini harus dibuat sustaniabel.

“Akifitas manajemen krisis ini baru, kita sajikan untuk wisatawan dan pengelola tempat wisata. Prinsipnya adalah bagaimana kita mengimplementasikan, menyempurnakan, dan lebih berperan kedepannya. Bagaimana pengetahuan dan sifatnya dapat dilakukan secara ilmiah sehingga bisa kita implementasikan.” ungkap Indra.

Pelaksanaan FGD yang ditujukan untuk mengetahui risiko keselamatan dan kesehatan kerja, HSE, dan kebencanaan di 7 provinsi ini mencari datanya langsung kepada pelaku desa wisata. Sehingga dapat diketahui dan didata kebencanaan apa yang terjadi berikut intensitas serta kerugian yang ditimbulkan. Misalnya saja wisata tracking, peneliti dan tim akan menganalisa bagaimana kondisi jalurnya, apakah sudah dipasang rambu-rambu keselamatan, apakah jembatannya kokoh, juga dilihat bagaimana kesiapan dari sumber daya manusianya. Adapun data kecelakaan yang terjadi diambil dari kegiatan sehari-hari.

Sebagai contoh untuk bidang HSE, yang akan dilakukan berupa pengecekan apakah sudah disediakan tempat cuci tangan, WC yang tersedia apakah bagus dan bersih, dan lainnya. Dari K3 misalnya akan ditanyakan apakah ada pengunjung yang terjatuh, terpeleset dan seberapa sering hal tersebut terjadi. Sementara untuk hal kebencanaan akan dilihat apakah rawan terjadi longsor, apakah sudah ada peringatan rawan longsor di sekitar jalur tracking. Risikonya sendiri ditentukan dari setiap bencana yang terjadi di lokasi desa wisata.

Jadi hasil dari FGD diharapkan dapat dilihat secara detail, karena sampai saat ini data tersebut belum ada dan sangat dibutuhkan. Tim yang terlibat juga benar-benar akan menggali karakter dari desa wisata di 7 povinsi yang dipilih. Minimalnya hasilnya akan berguna di masa yang akan datang berupa desa wisata yang sudah terdata risiko apa saja yang ada beserta penanganannya dan siapa yang harus dihubungi serta bertanggung jawab. Sebagai contoh ketika ada satu titik api di desa wisata, dari hasil FGD bisa beri solusi misalnya dengan menggunakan satelit, membuat menara pantau api.

Tujuan menganalisis risiko adalah untuk menerapkan mitigasi, preventif. daripada kuratif. Jika sudah ada korban pastinya ada biaya yang dikeluarkan dan kerugian lain. Saat ini kita dapat mengatakan bahwa wisata bukan hanya sekedar tentang keindahan dan liburan melainkan juga risikonya. Pergerakan alam di luar kemampuan manusia namun kita punya kesempatan untuk mengidentifikasi, inilah salah satu cara untuk mencapai smart tourism.

Sebelum memulai focus group discussion, seluruh peserta disuguhkan dengan diskusi panel dengan tema tertentu dan pemateri yang kompeten dibidangnya yakni:

Diskusi Panel 1

Paparan mitigasi risiko bencana di desa wisata dibawakan oleh Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, Dr. Ir. Udrekh, S.E., M.Sc.

Paparan penanganan kedaruratan (emergency respons) di desa wisata oleh Direktur Kesiapsiagaan BASARNAS, Agus Haryono, S.S., M.B.A.

Moderator: Mila Tejamaya, S.Si.. M.OHS., Ph.D

Diskusi Panel 2

Paparan mitigasi risiko bencana di desa wisata oleh Devi Roza Kausar, Ph.D. CHE

Paparan implementasi manajemen risiko di desa wisata oleh Triska Faradina, S.K.M.

Moderator: Dr. Hendra, SKM., M.KKK.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Suka adventure dari lahir, kepincut berkendara saat tau nikmatnya menikmati alam

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Opini tentang APBN 2022

Image

Rori Perwira Jadi Calon Kuat Ketum Imarindo

Image

BNPT Bina Napiter Lapas Purwokerto

Image

Opini APBN 2022

Image

Opini Tentang APBN 2022

Image

Artikel Tentang Strategin Pengembangan Pariwisata Halal di Indonesia

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image