Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image dhul ikhsan

FOMO (Fear of Missing Out) Bukan Penyakit, Tapi Syok Budaya

Bisnis | Thursday, 29 Sep 2022, 09:52 WIB

Apakah FOMO (Fear of Missing Out) itu penyakit? Bisa jadi.

"FOMO (Fear of Missing Out) Bukan Penyakit, Tapi Syok Budaya". Sumber: Pexel/Andrea Piacquaido

Perhatikan baik-baik bagaimana sebuah mall di Jakarta, taman, jembatan, sampai ke zebra crossnya diserbu pengunjung. Manusia terkonsentrasi disatu wilayah tersebut menciptakan kerumunan yang hebat. Semua berkat manusia yang tidak ingin ketinggalan suatu tren di media sosial, sehingga berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk menyaksikan tren yang terlanjur menjadi viral tersebut.

FOMO dengan kejadian viral memang tak terpisahkan. Ada sebuah gairah disana. Begitu juga rasa penasaran, dan keterbaruan yang memanjakan mata. Apalagi kalau sesuatu yang menjadi viral itu mudah diakses dan gratis. Kerumumanan sudah pasti terjadi.

Secara definisi FOMO adalah perasaan takut dan gelisah atas seseorang tidak menjadi bagian dari tren. Hal ini terjadi karena respon mereka terhadap konten yang menjadi viral di media sosial. Maka tidaklah aneh apabila 69% (persen) milenial merasakan hal ini, dan 60 persennya bereaksi terhadap penjualan karena tidak ingin dianggap ketinggalan zaman (Strategy Online). Jadi, dapat disimpulkan FOMO adalah suatu gejala syok budaya.

Para FOMO-sapiens ini rela membuat pengeluaran tambahan demi dianggap mengikuti zaman. Bahkan beberapa diantaranya dengan bangga memperlihatkan pencapaiannya mengkonsumsi sesuatu di media sosial meski tampak konyol dan menciptakan haters.

Menjadi FOMO-sapiens bukanlah suatu penyakit kejiwaan. Menurut saya itu hanyalah fenomena bahwa strategi marketing berpindah dari yang dulunya teraplikasi di dunia nyata, sekarang ke dunia maya. Contohnya seperti apa yang saya sebutkan di atas tentang fenomena di Jakarta tadi.

Maka tidak salah jika Vice President Marketing Management Telkom Group, E. Kurniawan, mengatakan bahwa kita berada di era “Milenial Disruption”. Di event Indonesia Brand Forum (19/09/2022) kemarin, beliau bahkan mengatakan milenial telah “membunuh” strategi marketing bergaya lama. Sungguh mengenaskan.

Melalui diskusi menarik bersama brand-brand terkemuka di Indonesia Brand Forum kemarin setidaknya ada beberapa hal yang menjadi catatan saya bagaimana meramu strategi marketing agar produk atau program marketing menjadi FOMO. Diantaranya adalah,

Event "Indonesia Brand Forum 2022" yang dilaksanakan secara daring (19-20 September 2022). Dokpri

1. Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif di dalam dunia marketing itu tidak bisa sepotong-potong. Harus berpikir holistik, bahwa kita adalah bagian dari ekosistem besar. Produk yang kreatif harus pula dipasarkan dengan cara yang sama kreatif juga. Apalagi manusia sedang berada di era disrupsi teknologi dan pandemi. Konten yang menghibur dan organik adalah jawaban, dan disertai dengan rajin meng-update perubahan algoritma platform media sosial menjadikan prosesnya semakin lebih apik.

2. Ciptakan Diferensiasi

Tujuan utama para FOMO-sapiens mengkonsumsi dan mengejar momen tertentu karena keberhasilan suatu brand ataupun program yang berjalan memiliki diferensiasi dengan yang lain. Konten yang kreatif akan memudahkan diferensiasi brand dan program yang tengah berjalan jadi mudah diidentifikasi. Setidaknya pilih satu yang paling dibutuhkan milenial adalah cara yang paling efektif. Pasar akan mudah fokus dan mengingat satu atribut pembeda karena mudah dikenali.

3. Maksimalkan Kolaborasi

Pak E. Kurniawan yang membawa nama IndiHome di dalam forum kemarin menyatakan mereka butuh kolaborasi untuk menjawab kebutuhan resource yang begitu banyak agar pesan brand milik mereka bisa ter-deliver dengan baik, terutama kepada para milenial. Sehingga, untuk menciptakan FOMO-isme kolaborasi sistem dan komunitas adalah jawaban yang tepat.

E. Kurniawan, VP Marketing Management Telkom mewakili brand IndiHome berbicara terkait konten kolaborasi di Indonesia Brand Forum (19/09/2022). Dokpri

Dengan adanya kolaborasi bersama komunitas-komunitas di masyarakat memudahkan pesan tersebut sampai kepada khalayak dan menjawab kepentingan para milenial.

Disamping itu, sistem kolaborasi bersama brand lain juga dapat dilakukan agar menjadi bagian dari tren yang tengah berlangsung. Pria yang dikenal sebagai Pak Iwan tersebut memberikan contoh (sekaligus ajakan) bagaimana prospek kolaborasi antara IndiHome dengan Sarinah bisa memuwudkan FOMO yang lebih intens di kalangan milenial pada khususnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image