Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Shopiah Syafaatunnisa

Mengapa Harus Menolong Orang Lain?

Agama | Sunday, 21 Aug 2022, 07:03 WIB

Pertanyaan ini memang terdengar klasik. Pasalnya, sejak bangku sekolah dasar, ajaran ini selalu terngiang-ngiang di telinga kita hingga saat ini.

Namun, di sini yang harus berbeda adalah pemahaman kita. Tidak sekedar tahu bahwa menolong orang itu suatu perbuatan yang baik dan mulia.

Tidak sekedar tahu bahwa menolong orang lain itu akan memperoleh pahala. Lebih dari itu, kita harus paham dengan porsi yang semakin dalam.

Sebab di usia kita yang sekarang, dengan semakin bertambahnya pengalaman, semakin dewasanya cara berpikir, pun dalam hal menolong orang lain sepatutnya memiliki kesan pemaknaan yang dalam dan berbeda dengan apa yang dipahami masa kanak-kanak.

Sejatinya, saat kita menolong orang lain, maka kita telah menyimpan bekal saat suatu kita membutuhkan pertolongan. Yakinlah bahwa suatu saat kita akan ditolong.

Kita sering mendengar bahwa orang baik akan dibalas dengan hal serupa lagi. Rupanya ini ada dalam ajaran agama kita, termasuk dalam hal tolong menolong.

Pernah mendengar sebuah hadits? Yang pada intinya bahwa Allah akan memudahkan hambaNYA selama hambaNYa menolong saudaranya (HR. Muslim: 2699).

Ini terbukti dalam kehidupan masyarakat kita. Orang yang suka menolong, pasti akan selalu ada yang menolong. Hukum alam seperti ini memang benar-benar berlaku.

Saat kita dalam situasi sulit lalu tiba-tiba dimudahkan? Atau saat situasi membutuhkan bantuan lalu tiba-tiba ada yang membantu?

Ini adalah proses dan bukan tiba-tiba. Inilah balasan dari Allah atas perbuatan kita yang pernah bahkan selalu menolong dan memudahkan orang.

Masalahnya adalah bagaimana jika hukum alam ini dirasa tidak berlaku?

Ingatlah, jangan berpikir, ketika kita merasa tidak mendapat balasan, lantas kita merasa kebaikan yang kita lakukan sia-sia.

Misalnya di situasi saat kita tak kunjung mendapat jalan keluar, padahal kita selalu membantu orang lain.

Allah selalu lebih tahu pesan apa yang sebenarnya ingin Dia sampaikan kepada kita atas kejadian ini.

Apakah untuk menguji kesabaran yang akan berbuah manis di akhirat, apakah pahala kita sedang menggunung di akhirat, apakah perbuatan kita menolong orang lain dibalasnya dengan penghapusan dosa kita.

Ada banyak cara dari Allah membalas kebaikan kita. Artinya, jangan pernah menodainya agar balasan-balasan yang indah di atas tidak hilang.

Misalnya kita mengharap orang yang pernah kita bantu agar membantu kita, inilah sebuah penodaan yang kita lakukan atas kebaikan kita sendiri. Hanguslah sudah kebaikan kita.

Atau misalnya kita berpikir mengapa Allah tidak menolong kita? Pemikiran inipun begitu dangkal.

Teruslah menolong orang lain, dengan syarat, lakukan dengan tulus ikhlas. Tidak mengharap balasan apapun, apalagi menjadikan kita berburuk sangka kepada Allah saat kita merasa ada di posisi sulit.

Teruslah menolong orang lain, biarkan pembalasan itu menjadi urusan Allah. Dia lebih tahu cara-cara membalas yang indah.

Sumber: republika.co.id

Akhirnya sampailah kita pada pembahasan inti. Mengapa harus menolong orang lain? Karena itulah kewajiban kita. Lebih dari itu, pastikan motifnya murni atas dasar keikhlasan. Agar kebaikan itu tidak menjadi hangus.

Belum bisa ikhlas? Teruslah biasakan sehingga benih-benih ikhlas itu muncul, terpatri, dan mempribadi.

Sehingga pertanyaan yang tepat adalah: mengapa harus menolong orang lain dengan ikhlas? Karena inilah arti menolong yang sesungguhnya. Begitu banyak persoalan kemanusiaan di sekitar kita hanya karena pembahasan tolong menolong diantara mereka yang jauh dari keikhlasan.

Sampai di sini, apakah sudah mengerti? Rupanya, menolong orang lain tidak menjamin sepenuhnya kebaikan, ia bisa dinodai dengan pamrih, yang bisa merembet pada masalah sosial.

Coba perhatikan, banyak sekali masalah yang berakar dari pamrih ini. Betapa mahalnya ikhlas itu, padahal menolong orang lain itu mulia.

Sayangnya, setiap amalan selalu kembali terhadap apa yang diniatkan. Apakah diberi pahala atau tidak, pun apakah diterima di sisi Allah atau tidak.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image