Malu Mencantumkan Sumber Bacaan

Image
Amk Affandi
Edukasi | Tuesday, 16 Aug 2022, 08:00 WIB
sumber gambar : https://hot.liputan6.com/read/4912530/pengertian-referensi-adalah-informasi-yang-memuat-rujukan-begini-cara-menulisnya

Tidak mungkin seorang penulis yang hebat datang dengan tangan kosong. Penulis yang hebat tentu berangkat dari pembaca yang hebat. Hamka pernah berujar, untuk menulis sebuah artikel, didahului dengan membaca sepuluh buku. Dalam tulisannya, beliau sering mencantumkan sumber aslinya. Tulisan orang lain diperlukan untuk memperkuat narasi. Pendapat orang lain digunakan untuk menambah data.

Seringkali kita menemukan sebuah tulisan yang bagus. Namun setelah ditelusuri ternyata sumbernya dari orang lain. Penulis itu tanpa sadar menjiplak atau copas tanpa menyebutkan asal mula tulisannya. Penulis dengan ringan, tidak mengapresiasi sumbernya. Penyebabnya mungkin saja takut, malu, atau lalai.

Tidak mencantumkan sumber aslinya, sebenarnya petaka bagi dunia literasi. Apalagi di lingkungan akademisi. Penulis yang dengan sengaja menafikan referensi, bukan saja menjatuhkan martabat dirinya, namun ia telah melunturkan budaya akademik dan tidak menghargai karya orang lain.

Ajib Rosidi berujar “Plagiat adalah pengumuman sebuah karya pengetahuan atau seni oleh ilmuwan atau seniman kepada publik atas semua atau sebagian besar karya orang lain tanpa menyebutkan nama sang pengarang yang diambil karyanya. Sikap ini agar publik mengakui bahwa karya yang diambil sebagian atau semua karya orang lain itu sebagai karyanya.” Penjiplakan karya identik dengan istilah plagiat, yang artinya mencuri.

Wikipedia.org mengartikan kata plagiat dengan penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.

Kalau hanya mencantumkan sumber aslinya, Insya Allah tidak berat. Bahkan tulisan akan semakin berbobot. Karena menambah referensi atau data dari sumber lain, tulisan menjadi kuat. Tak peduli jenis tulisannya. Apakah bentuk laporan, kolom, berita, atau feature.

Tulisan yang tersebar di blog, merupakan sarana untuk menuangkan ide-ide dari sang empunya. Mereka akan menulis apa yang dilihat, ataupun apa yang dirasakan. Untuk penulis pemula, mungkin belum mengetahui karakteristik kepenulisan. Dapat saja mereka mencomot tulisan orang lain, baik sebagian kecil ataupun keseluruhan. Mereka yang seperti ini perlu dicerahkan. Diberi informasi, hati-hati dalam menulis, karena selalu diawasi oleh Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menghargai karya orang lain, menghormati jerih payah orang lain sama seperti kita menghargai diri kita sendiri.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

0

Malu Mencantumkan Sumber Bacaan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Perkuat softskills dan hardskills mahasiswa, Uhamka laksanakan kuliah umum tahun ajaran 2022-2023

Image

Sambut 33 Taruna Poltekip 53 Gelombang 3, Rajawali Lapas Karanganyar berikan Pengarahan

Image

Saka Taruna Bumi Lapas Pemuda Plantungan Sebagai Sarana pembinaan WBP

Image

Apel Pagi, Kepala LPKA Kelas I Palembang Kemenkumham Sumsel Ingatkan Pentingnya Jaga Integritas

Image

Ilmu Komunikasi Umsida Asah Kesiapan Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja Lewat Uji Kompetensi Profesi

Image

5 Rekomendasi Restoran dengan Pemandangan Terindah di Sentul, Bogor

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image