Kenapa Banyak Tulisan Bagus tak Pernah Dibaca?
Lain-Lain | 2025-12-18 18:16:59
Tulisan dengan riset kuat, sudut pandang tajam, dan bahasa yang tertata sering kali berakhir sepi pembaca. Di sisi lain, konten ringan dengan judul sensasional justru lebih mudah viral. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengapa kualitas tulisan sering kalah dalam perebutan perhatian publik?
Perubahan cara orang mengakses informasi menjadi salah satu penyebab utama. Berdasarkan Digital News Report 2025 dari Reuters Institute menunjukkan bahwa mayoritas audiens kini menemukan berita melalui media sosial dan aplikasi pesan, bukan dari situs media secara langsung. Artinya, sebuah tulisan sangat bergantung pada bagaimana ia muncul di linimasa, bukan semata pada kekuatan isinya. Dalam kondisi ini, artikel panjang dengan judul datar berpotensi tenggelam di antara konten visual dan video singkat.
Perilaku membaca audiens juga mengalami pergeseran. Banyak pengguna media digital yang hanya membaca judul atau ringkasan berita sebelum berpindah ke konten lain. Kebiasaan ini membuat tulisan mendalam sulit menjangkau pembaca apabila tidak memiliki pintu yang menarik sejak awal, seperti judul yang kuat atau lead yang relevan dengan pengalaman sehari-hari pembaca.
Di sisi lain, algoritma platform digital bekerja berdasarkan interaksi. Konten yang memicu emosi cepat akan lebih mudah mendapat respon dari audiens. Beberapa platform media sosial memang cenderung mengutamakan konten dengan potensi keterlibatan tinggi, sementara tulisan analitis membutuhkan waktu baca lebih lama dan respons yang tidak instan. Situasi ini menuntut penulis untuk beradaptasi. Kualitas tulisan tetap penting akan tetapi perlu diiringi dengan pemahaman tentang distribusi dan pemetaan audiens.
Bagi penulis baru, situasi ini kerap menimbulkan stres. Waktu, riset, dan energi telah dicurahkan, namun respon yang datang sangat minim. Kondisi tersebut seharusnya dibaca sebagai sinyal perubahan, bukan alasan untuk menyerah. Tantangan terbesar hari ini bukan lagi mengenai bagaimana menulis lebih keras, melainkan menulis dengan kesadaran akan medan tempat tulisan itu akan hidup.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
